Expeditions Mt.Nenemori 3397 mdpl & Mt.Rantemario 3440 mdpl

Posted: January 26, 2011 in Expeditions Garis Indonesia

Pada musim liburan ini kami berencana mau mengadakan wild expedition 11  KPA GARIS Palopo, sekaligus Pemasangan TOWER NRA Gunung Nenemori Latimojong 3397 mdpl dan juga pengambilan nomor NRA Anggota Penuh di KPA GARIS. Di dalam tiem ada juga organisasi lain yang bergabung yaitu dari Kpa Angker dan Kpa Lembah. Semua team berjumlah 8 orang diantaranya dari KPA GARIS 5 orang yaitu saya (ayyung) hamka, ari, supriadi, dan tanto , dari KPA Angker 2 orang yaitu Noz dan Amat dan Dari Kpa Lembah Virdal.

Kali ini kami menargetkan Gunung Nenemori 3397 mdpl dan Gunung Rantemario 3478 mdpl kedua-duanya adalah gunung tertinggi di pulau Sulawesi yang berada pada Pegunungan latimojong.tetapi yang menjadi sebagai target pertama adalag Gunung Nenemori 3397 mdpl.setelah mengumpul data beberapa minggu dari penduduk kampong Ulu-salu dan dari berbagai sumber-sumber yang ada kami memutuskan menggunakan jalur Timur Pegunungan latimojong yang konon sangat jarang dilalui oleh para pendaki yang ingin naik ke Atap Sulawesi.Kami berangkat dari secretariat KPA Garis pada tanggal 4 januari 2011, menggunakan sepeda motor berjumlah 3 motor kami sekitar pukul 5 pagi,, kami sengaja pergi di pagi hari agar kami tidak berjumpa dengan sang Bapak Polisi karna motor yang kami gunakan kurang lengkap bahkan ada personil tidak menggunakan helem, di tengah perjalanan menuju pasar bajo kami dihadang dengan hujan tapi tidak terlalu deras, sesekali mata kami memandang deretan Pegunungan Latimojong yang Kab. Enrekang, Luwu, dan Toraja karna ketinggianya yang mencapai lebih dari 3000 jadi dapat dilihat dari segala penjuru..

Sesampai kami di Pasar Bajo pada pukul 6 pagi..kami beristirahat sejenak di tugu perjuangan  Bajo, sambil menunggu 2 team lagi yang dating dari belopa sambil membeli perlengkapan yang belum ada sekaligus mengorek data dari Tukang Ojek yang sedang parker di pinggir jalan..Sekedar info : Apabila ingin melaui jalur ini anda dapat memulainya dari Makassar tu dari Palopo menuju Kec. Bajo Barat tepatnya Pasar lama, ongkos dari Makassar kurang lebih sekitar 70 ribu . dari bajo anda dapat menaiki Ojek menuju desa Terakhir yaitu Desa Gamaru Kec. Latimojong dengan ongkos kurang lebih sekitar 60-80 ribu tahun 2011, apabila jumlah tim anda lebih dari 10 orang disarankan anda menyewa mobil Hartop dengan ongkos 400-500 ribu “tergantung Lobi-lobi anda” apabila anda menggunakan mobil Hartop daya tampungnya bias mencapai 20-30 Orang. dijamin ongkos yang anda keluarkan tergantikan dengan melihat keindahan Pegunungan Latimojong. Apabila anda agak kekurangan modal anda dapat naik ojek dari Pasar Bajo sampai di Jembatan Lokopini sebuah jembatan yang memisahkan antara Bonelemo dan Range-range dengan Ongkos kurang lebih 10 ribu.. dari sini anda dapat berjalan kaki sampai di desa terakhir dengan melewati desa antara lain, (kadundung, Saringan kemudian tiba di Desa Gamaru “ tapi anda mesti berhati-hati apabila sampai di sebuah Persimpangan Kadundung dan Persimpangan Tibussan Jangan sampai anda salah jalan anda dapat bertanya kepada penduduk yang berlalu lalang, perjalanan dari Jembatan Lokopini Ke Desa Gamaru Sekitar Satu Harian.

Sekitar jam 7 teman yang di tunggu telah tiba, dan akhirnya team Wild Expedition 11 telah lengkap setelah mengecek semua barang-barang kamipun melanjutkan perjalanan menuju Desa Tumbubara Kec. Bajo Barat yaitu Ruma Tante saya untuk sarapan, kami tiba di sana jam 07.30. setelah sarapan dan minum tea hangat kami pun melanjutkan perjalanan menuju Desa Range-Range di sini rumah sepupuh saya, kami pun singgah untuk mengambil senter sempat berguna dalam perjalanan. Kemudian kami melanjutkan perjalanan ke Desa Kadundung, desa ini adalah percabangan jalan menuju Desa Tibussan dan Desa Ranteballa. Sesampai di persimpangan, kami bertanya kemana jalanan yang lebih baik dilalui, tapi warga menyarankan agar melewati Desa Ranteballa dikarnakan semalam hujan jadi jalan yang melalui Desa Tibussan sangat Licin, kami pun memilih jalur Ranteballa. Di tengah perjalanan kami melewati Bendungan yang sangat besar kami pun singgah dan berfoto-foto lalu melanjutkan perjalanan melalui Kande api, Tondok Tangga kemudian tiba di desa Saringan dilanjutkan ke Desa Gamaru.

Bendungan di Rante Balla

Kami pun tiba di Desa Gamaru pada pukul 2 siang. Wargapun kaget melihat kami datang dengan membawa kerel besar, setelah kami menjelaskan bahwa kami ingin mendaki di Gunung Nenemori dan Gunung Rantemario (Batu Lotong) akhirnya mereka mulai mendekat kepada kami, tetapi para gadis tetap saja lari ketika kami dekati, akhirnya seorang warga menyarankan kami untuk beristirahat di rumah Pak Dusun yaitu “Pak Rahman” malam pun kami lalui dengan riang di rumah Pak Dusun sambil bercerita tentang Pegunungan Latimojong, pak dusun berkata, gunung di sini sangat di hargai oleh warga dikarnakan mereka masih meyakini bahwa ada orang yang menetap di dalam hutan tetapi tidak terlihat “ Tau Mimbuni” postur tubunya kerdil dan sedikit menyeramkan jadi pak rahman menyarankan sedikit berhati-hati karna pendakian terakhir yaitu 3 tahun yang lalu oleh mapala STIMIK Handayani yang sempat nyasar .

Ke esokan paginya kami melanjutkan perjalanan kata warga jalan yang mesti kami lalui iyalah mengikuti pengairan warga . kami pun mengikuti sampai ke ujung ternyata Airnya sangat dingin maklumlah karna Desa Gamaru terletak di ketinggian sekitar 1500 mdpl. Kami terus mengikuti aliran Pengairan sampai ke ujung sambil terus membuka peta yang kami bawa. sejam tak terasa kami lalui dengan kaki yang terasa kaku. Sesampai di ujung kami beristirahat sejenak sambil mencari jalur warga yang terbiasa pergi ke hutan mencari anoa “manggasu” kami melihat jalur yang tertutup rapat akhirnya kami memutuskan memulai dari situ tetapi tak cukup ½ kilo jalurnya putus akhirnya kami membuka peta kemudian siap membuka jalur.

Lebatnya Hutan Latimojong

Kami mengalami kesulitan pada saat membuka jalur, hutan yang sangat lebat menutupi pandangan jadi kami agak kesulitan ditambah tumbuhannya kebanyakan Palem Hutan dan Bambu-bambu kecil, Rotan juga sangat bayak kami jumpai saat membuka jalur, sesekali saya tertawa meliat muka kusam dari team yang merasa kita melenceng dari jalur. Jam sudah menunjukan pukul 12 kami pun singgah memasak sedikit nasi karna tak ada air jadi kami memakan menta mie instant “lumayan pengganti krupuk”. Setelah makan siang kami kembali membuka jalur ternyata medan di depan sangat sulit karna kami di hadang oleh jejeran bebatuan yang sangat besar dan medan yang menajak membuat sulit para pembuka jalur.Kami harus melewati celah-celah batu sambil menghindari tusukan duri rotan, para team sering berselisi paham  tentang posisi pada Peta. Yang menambah para persedian Air hampir habis dan kami tidak menemukan anak sungai sama sekali sekitar jam 4 sore kami menemukan sebuah anak sungai yang sangat kecil kami pun memutuskan untuk camp 1, kamipun memasang tenda-tenda yang kami bawa, sebagian team memasak dan membuat kopi yang sangat banyak mumpung banyak air.malam yang kami lalui lumayan dingin karna ketinggian kami sekitar 2400 mdpl. Salah satu team yang bernama pirdal mengalami gangguan pernafasan untung saja keesokan harinya dia mau melanjutkan perjalanan walau hanya setengah hati he he he…

Hari kedua pukul 8 dimulai dengan pembukaan jalur yang sangat menanjak sampai kemiringan 80 drajat, kami berusaha menembus lebatnya hutan agar kami bisa sampai di punggungan agar pandangan kami lebih luas dan melihat disekitar. 2 jam berjalan kami menemukan sebuah sring yang sangat tua kami perkirakan beusia sekiat 5-3 tahun di sebuah punggungan , akhirnya kami bernafas lega ternyata jalur yang kami rintis tidak melenceng dari target kami terus mengikuti punggungan sesekali jalur hilang mengakibatkan kami mesti membuka jalur lagi. Setelah jam 1 kami istirahat di sebuah batu besar kami memasak mie instant karna nasi sudah kami masak di pagi hari. Sambil team memasak saya pergi mencari jalur di atas batu dan kembali lagi sting tua berwana biru saya temukan di punggungan hal ini meyakinkan saya bahwa puncak sudah dekat hal ini juga dikarnaka pepohonan di sekitar sudah kerdil dan kurus. Setelah makan siang kami melanjutkan perjalananmenuju G. Nenemori 3397 mdpl, ternyata masih sangat jauh puncak yang kami sangka dia setelah di atas ternyata di sebelahnya masih ada gunung tinggi lagi, kami pun melanjutkan perjalanan. Pada pukul 4.30 sore kami memasang camp di ketinggian 3197 mdpl. Dan malam yang kami lalui sangat dingin dan tanpa air. Kembali lagi kami memakan mie menta.

Jalur Timur Peg. Latimojong

Deretan Puncak Selatan Pe. Latimojong

Gunung Latimojong 3305 mdpl diliat dari G. Nenemori

Camp 2 elevasi 3100 mdpl

Esok pagi kami melihat pemandangan yang sangat indah sunrise yang sangat menawan dan memukau mata. Deretan Pegunungan Latimojong Selatan dan tampak dari kejauhan Gunung Latimojong dengan ketinggian 3305 mdpl. Tepat pukul 8 pagi kami melanjutkan perjalanan kami. terus berjalan dan berjalan seringkali kami salah puncak mengira puncak ternyata setelah naik masih ada yang lebih tinggi lagi. Dan akhirnya sekitar pukul 10 kami menemukan tumpukan batu yang di susun rapi dan sebuah Bendera Merah Putih yang telah kusam dan sobek ternyata akhirnya ALHAMDULILLAH kami sampai di puncak pertama Gunung Nenemori 3397 mdpl. Dan ketika kami mau melanjutkan ke Rantemario Latimojong 3478 mdpl eh..eh…H malah Hujan deras kami pun berlarian di bawah pohon dan bergegas memasang tenda karna kami tau resiko yang dapat kami hadapi yaitu penyakit hypothermia yaitu kedinginan dikarnakan posisi kami pada ketinggian yang cukup lumayan tinggi ditambah kelelahan dan baju yang basah karna hujan deras.

Puncak Gunung Nenemori Latimojong 3397 mdpl

Pegunungan Utara Latimojong

Puncak Dengan Reground G.Sikolong dan G.Rantekambola

Hujan pun tak kunjung henti, sebagian team tidur siang sambil melepas lelah… sekitar dua jam kemudian hujan pun berhenti, kami segera keluar tenda dan berjalan kembali ke punjak yang jaraknya sekitar 5 meter dari tenda sambil membawa besi Tower. Di puncak kami meliat hamparan Pegunungan Latimojong bagian Utara . kami pun mulai memasang Tower kecil kami yang sudah kami rakit pada saat hujan tadi. Seletah selesai terpasang kami pun melaksanakan upacara Pengukuhan anggota penuh KPA GARIS yaitu Supriadi dan Tanto.., setelah itu foto-foto. Samar2 terdengar suara orang dari kejauhan ternyata ada beberapa orang yang ngecamp di Pemancar “percabangan Rantemario dan Nenemori, kamipun saling berteriak dan memanggil satu dengan yang lain.

Sore pun tiba kami kembali ke tenda dan sebagian team pergi mengambil air yang jaraknya sekitar 20 m dari tenda. Malam yang kami lalui sangat dingin ternyata ngecamp di ketinggian 3397 mdpl adalah salah satu hal terbodoh, he he he.. pagi menyingsing matahari terbit begitu cerah sebagian team yang mau ke Rantemario segera sarapan dan bergegas berangkat kami pun ke puncak memantau perjalanan mereka dari kejauhan, saya dan ari tidak ke Gunung Rantemario karna tanto sudah mengalami trouble pada Kaki, jadi kami tinggal menemaninya , lagian saya dan ari sudah 2 kali ke G.Rantemario Latimojong 3478 mdpl. Sekitar jam 10 team yang pergi ke G. Rantemario telah kembali setelah makan siang semua team membongkar tenda dan berkemas segera turun. Kami pun berjalan meninggalkan puncak Nenemori 3397 mdpl pada jam 1 siang tepat.

Puncak G.Rantemario Latimojong 3478 mdpl

Sekitar 1 jam berjalan kami sampai di camp2 tanpa beristirahat kami melanjutkan perjalanan. Jam 4 pas kami beristirahat di bawah batu besar tempat kami makan siang pada hari ke 2 karna hujan turun dengan sangat deras. Hampir sejam hujan baru berhenti kami pun melanjutkan perjalan ke camp 1, setelah berjalan menyusuri punggungan dan terjalnya jalur pulang, kami pun sampai di camp 1. karna hari masih terang kami pun memaksa perjalanan menuju kampung sandal yang saya gunakan pun putus dan memaksa saya harus bertelanjang kaki di tengah-tengah jalur yang penuh duri rotan, sampailah kami di deretan batu-batu besar yang kami harus melewati celahnya, kami semua harus saling mengopor kerel karna celahnya sangat sempit ditambah jalur yang sangat licin karna hujan tadi, pokoknya hancur baget deh.

Jam sudah menunjukan pukul 6 kami pun terus berjalan akhirnya sampai di tempat kami makan siang pada hari pertama , kami pun melanjutkan perjalanan malam pun tiba dengan tenaga yang masih tersisah kami melanjutkan perjalanan dengan menggunakan 1 senter saja “untung kami singgah mengambil senter di Desa Range-range”. Kami pun memaksakan diri karna suara sungai terdengar sangat dekat, kami pun berjalan satu persatu di gelapnya hutan Pegunungan Latimojong.. jika kami menemukan jalan yang lumayan terjal setiap team turun dengan Prosotan-prosotan di atas tanah yang basah, jadi kebanyakan perjalanan pada saat gelap seperti main2 aja di dalam ketegangan yang luar biasa. Langkah demi langka akhirnya kami sampai di sungai masalah baru muncul lagi bukan lagi jalur yang terjal dan licin tetapi debit air di sungai bertambah “Banjir”, kamipun nekat menyebrang sambil memegang satu sama yang lain.

Setelah menyebrang sungai satu per satu yang sedang banjir, kami kembali harus melalui pengairan yang airnya sangat dingin sekitar 30 menit team berjalan kami singgah sejenak di kebun kopi memasak sisah makanan yaitu 4 bungkus mie instant, karna semua personil sudah kelaparan dan kelelahan, setelah mengganjal perut kami melanjutkan perjalanan tampak dari kejauhan sorot lampu penduduk menambah semangat kami. Setelah berjalan sekitar 30 menit dan ALHAMDULLAH kami pun sampai di perkampungan Desa Gamaru kami langsung menuju rumah Pak Dusun. Setelah bersih-bersih kami pun naik ke atas rumah yang di sambut riang oleh keluarga pak Rahman . ternyata kami tiba di Perkampungan tepat jam 10 malam. Pantas saja semua Team sudah tidak sanggup berjalan ternyata sudah larut malam, hanya semangatlah yang membuat kaki para team melangkah. Setelah makan malam yang di sediakan ibu Dusun, kami pun bercerita-cerita pengalaman yang tidak bisa di lupakan “ 3 hari naik-1 hari turun” sambil melepaskan gigitan pacet yang masih menempel pada kaki-kaki kami.

Pagi pun tibah di hari minggu setelah sarapan kami pun pamit dengan keluarga pak Rahman pada jam 9 dan memberinya beberapa kenang-kenangan, lalu melapor di pak Desa Gamaru sambil mengambil kendaraan kami, akhirnya kami menaiki motor dan berjalan kembali pulang tetapi kami tidak lewat rante balla , kami mengambil jalur Desa Tibussan. Sekitar jam 12 siang kami sampai di Desa Kadundung, beristirahat sejenak dan di lanjutkan ke Desa Range-range “ rumah Om saya” di sini kami makan siang dan mengembalikan senter yang sangat berjasa. Kami pun melanjutkan ke Desa Tumbu Bara, kami singgah di sungai mencuci semua peralatan sambil meminum air buah kelapa yang menyegarkan, ternyata orang tua saya juga datang ke kampung,  memang setiap hari minggu orang tua saya pergi ke kebun mengunjungi tanamannya. .kebetulan Peralatan yang kami cuci sebagian sudah kering kami pun menaikkan semua barang di mobil ayah saya agar kami bisa kembali ke Palopo dengan santai. Setelah menaikkan semua barang kami pun melanjutkan perjalanan menuju Palopo, di tengah perjalanan kami melihat agungnya Pegunungan Latimojong yang berdiri sangat Angkuh dan perkasa, tepat pukul 6 sore kami semua tiba di Sekretariat KPA GARIS Palopo, dan semua Team mengucapkan. Alhamdullahi Rabbil Alamin.

Tower NRA G. Nenemori Latimojong 3397 mdpl

Pegunungan Latimojong Utara

Itulah cerita perjalanan kami dalam Wild Expedition 11 KPA GARIS Palopo, di Pegunungan latimojong, semoga dapat menjadi bacaan yang menarik dan bermanfaat bagi kita semua. AMIN

Terimah kasih kepada :

  • Tuhan yang maha esa allah swt.
  • Istriku yang Tercinta dan anakku Mario
  • Seluruh Anggota Kpa Garis Palopo
  • Keluarga Pak Dusun Desa Gamaru
  • Tante di Desa Tumbu Bara
  • Gunung Rantemario dan Nenemori atas segala ke indahannya

Saran :

  • Perhatikan suplay air
  • Jarak jangan terlalu jauh
  • Membawa Kompas dan Peta
  • Jangan menegur apabila mendegar atau melihat yang aneh-aneh
  • Membawa masing-masing SB dan peralatan tahan dingin
  • Perbanyak sring atau tanda-tanda jalan
  • Membawa kantong air sebanyak-banyaknya
  • bawalah Pisau tebas yang panjang dan tajam

Catatan :

  • Gunung Rantemario dan Nenemori adalah Puncak Tertinggi di Pulau Sulawesi Sulawesi
  • Terdapat tiang tanggulasi di kedua Gunung tersebut
  • Usahakan mengorek banyak data di Desa Gamaru tentang Pegunungan Latimojong

Comments
  1. wardhaee says:

    krennnn
    matavv

  2. soulsick says:

    wooowwww, keren bro, mantab infonya, ayoo, perbanyak info2 gunungnya, ada info jalur rantekambola ke sikolong ke sinaji ga ??

    • latimojong says:

      Thanks Bro,,, kalau Rante Kambola udah ada di bagian categori gunung indonesia > Sulawesi selatan

      Sinaji di Wild Expedition 7

      Sorry Sikolong belum ada yang kami dapat bro,, tapi kami mau expedition ke sana,,, tunggu aja datanya

  3. […] Misteri Wentira (PALU)Wild Expedition VI KPA GARIS PalopoMemecahkan Rahasia “Benua yang Hilang"Wild Expedition 11 KPA GARIS PalopoWild Expedition IX KPA GARIS PalopoBUKTI KEBERADAAN SULAIMAN DI INDONESIAGunung Sesean 2100 […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s