Archive for the ‘Expeditions Garis Indonesia’ Category

Jalur-Gps-Lintas-11-Puncak-Pegunungan-Latimojong

Advertisements

LATAR BELAKANG

3 tahun sudah KPA GARIS Palopo berdiri. Banyak suka duka yang telah mengiringi perjalanan Organisasi ini. Banyak orang – orang tangguh dan berkompeten telah dilahirkan dari KPA GARIS Palopo.

Impian anggota KPA GARIS Palopo menjadi lebih besar dan masih terbentang dalam pikiran seluruh anggotanya. Semua masih memiliki keinginan untuk mengibarkan bendera dan mengharumkan nama KPA GARIS Palopo diseluruh penjuru tanah air.

 Pendakian 3 puncak gunung to’langi, balease, dan kabentonu ( TOBAKU )di sulawesi selatan merupakan moment yang tepat untuk menambah kembali dan membangkitkan semangat mendaki gunung yang menjadi ciri khas KPA GARIS Palopo. Dan moment pendakian 3 puncak ini diharapkan bisa menjadi moment untuk berkumpul kembali bersama seluruh keluarga besar KPA GARIS Palopo. Dan juga moment penting untuk mempererat tali persaudaraan antar pecinta alam.

Kegiatan ini merupakan sebagian kecil dari kegiatan-kegiatan yang sudah pernah ada, yaitu WILD EXPEDITION yang sudah sukses hingga sudah beberapa kali di adakan oleh KPA GARIS Palopo.

MANFAAT DAN TUJUAN

1.       Meningkatkan ketaqwaan kepada Tuhan YME.

2.       Mengibarkan bendera KPA GARIS Palopo di 3 puncak to’langi, balease, kabentonu.

3.       Mempererat tali persaudaraan antar anggota baik anggota aktif maupun anggota pasif dan juga sesama pecinta alam.

4.       Mermperkenalkan nama KPA GARIS Palopo ke seluruh nusantara.

5.       Wahana inspirasi yang dilakukan secara bersama-sama di alam bebas.

6.       Mensosialisasikan aktifitas kepecintaalaman sebagai manifestasi kepedulian terhadap alam dan lingkungan.

Sebagai wahana untuk liburan alternatif bagi para pecinta alam.

NAMA KEGIATAN

”EXPEDITION TOBAKU 2012”

TEMA KEGIATAN

“PENDAKIAN BERSAMA UNTUK MEMPERERAT TALI PERSAUDARAAN ANTAR PENCINTA ALAM”

PELAKSANAAN KEGIATAN

Hari                :       Selasa – jum’at

Tanggal         :       10 – 20 januari 2012

Pukul             :       07.00 WITA – Selesai

Lokasi            :       Desa bantimurung , bone-bone

PESERTA KEGIATAN

Peserta kegiatan  ”EXPEDITION TOBAKU 2012” adalah anggota aktif KPA GARIS Palopo dan anggota KPA JELATANG.

  1. HAMKA S.Pd                                                 ( KPA GARIS PALOPO )
  2. BEJO SETIAWAN   S.Com                   ( KPA GARIS PALOPO )
  3. FRANS                                                               ( KPA JELATANG)

KESIMPULAN DAN SARAN

Atas terlaksananya kegiatan EXPEDITION TOBAKU 2012 ini , kami selaku panitia dan peserta mengucapkan terima kasih  kepada semua pihak baik peserta, panitia, pengurus, maupun pihak – pihak yang telah berpartisipasi, mendukung serta bekerjasama dengan baik. Dengan segala kerendahan hati kami menyadari bahwa kegiatan ini tidak dapat berjalan dengan lancar tanpa adanya dukungan moril maupun materil dari semua pihak.

Walaupun sebenarnya sebelum keberangkatan pendakian direncanakan ada sekitar 15 orang  yang menyatakan  akan ikut tapi kenyataannya hanya 3 orang , itu semua tidak mengurangi semangat kami untuk menyukseskan kegiatan EXPEDITION TOBAKU 2012. karena semua pengurus tidak ingin kegiatan ini hanya menjadi slogan pepesan kosong. Akhirnya kegiatan ini berjalan dengan sukses walaupun menguras banyak tenaga namun itu semua terbayarkan dengan senyum yang selalu melekat di bibir para peserta, semua terbayang akan keindahan maha karya sang pencipta selama perjalanan EXPEDITION TOBAKU 2012

Demikian Laporan pertanggung jawaban ini kami buat dan dilaksanakan agar dapat dijadikan   bahan pertimbangan serta bahan evaluasi untuk kegiatan berikutnya.

 Laporan pendakian

NO

TEMPAT

WAKTU

TEMPAT

WAKTU

CAMP

1

RUMAH KEPALA DUSUN  (start)

07.00

AIR TERJUN

08.30

 

 

POS 1

12.00

 

 

14.00

2

CAMP (start)

08.25

POS 2

09.10

 

 

POS ITINK

11.40

POS 3

14.00

17.00

3

CAMP  (start)

08.25

POS 4

09.10

13.15

4

CAMP  (start)

08.20

TO’LANGI

10.15

12.00

5

CAMP  (start)

08.35

LEMBAH WARU

10.14

 

 

BALEASE

12.30

 

 

17.00

6

CAMP  (start)

09.00

———————-

11.00

 

 

—————–

15.00

 

 

16.30

7

CAMP  (start)

08.25

———————-

13.00

15.00

8

CAMP  (start)

08.30

KABENTONU

11.00

15.30

9

CAMP  (start)

08.42

DANAU

09.00

 

 

BALEASE

11.40

LEMBAH WARU

15.00

15.00

10

CAMP  (start)

09.05

TO’LANGI

11.05

 

 

——————-

12.40

POS 4

16.16

16.16

11

CAMP  (start)

08.16

AIR TERJUN

14.45

 

 

RUMAH KEPALA DUSUN

15.15

 

 

 

 

 

·        

Laporan perjalanan

 Keterangan Perjalanan :

  1. Start dari sekretariat KPA GARIS Palopo menuju Rumah bapak Nas yang saat itu menjabat sebagai Kepala Dusun dengan menggunakan mobil carteran.
  2. Sesampai di sana menunggu kedatangan dari tuan rumah (seyogianya sebelum melakukan pendakian kita bermalam di rumah Bapak Nas untuk mendapatkan info terbaru dan juga petuah – petuah dari beliau.
  3. Keesokannya barulah kita melakukan pendakian.
  4. Diawali dengan jalan pengerasan yang melewati perkampungan kemudian memotong lewat persawahan serta menyusuri  anak sungai untuk sampai ke tempat air terjun sebelumnya kita akanmenjumpai kembali jalan pengerasan dan  melewati jalan setapak di samping rumah ( pondok ) yang terletak di perkebunan coklat.
  5. Sebenarnya lewat jalur pengerasan juga bisa tetapi rutenya terlalu lama.
  6. Untuk sampai ke pintu rimba kita akan berbelok ke kiri ke arah utara dengan medan sedikit mendaki.
  7. Dalam perjalanan ke pos 1 kita akan menjumpai sisa-sisa  tebangan pohan akibat ulah para penebang liar.
  8. Dari camp kita menuju pos 2 dan beristarahat minum kemudian lanjut ke pos itink ( nama salah satu anggota organisasi pecinta alam di Palopo ).
  9. Menuju ke pos 3 kita melewati jalur pendakian dan penurunan yang cukup menyulitkan.
  10. di jalur ini sudah banyak tumbuhan rotan yang durinya siap mencabik para pendaki.
  11.  Hari ke 3 merupakan perjalan yang cukup sulit untuk mencapai pos 4 disini suasana sudah mulai dingin karena tempatnya daerah lembab.
  12. Akhirnya sampai juga di pos 5 tempat  camp untuk hari ke 3.
  13. Hari ke 4 di awali dengan keceriaan karena  menurut leader ( Hamka S.Pd ) puncak to’langi sudah dekat sekitar 2 setengah jam.
  14. Sesampai di puncak cuaca kian memburuk badai hujan datang secara tiba – tiba. Leaderpun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan keesokan harinya saja untuk menjaga kemungkinan – kemungkinan yang tidak di inginkan akan terjadi.
  15. Hari ke 5 pagi yang cerah perjalanan pun berlanjut ke lembah waru , kurang lebih luasnya seukuran lapangan futsal.
  16.  Sambil membuat dokumentasi , peserta melanjutkan perjalaan ke puncak balease dengan jalur pendakian dan penurunan terjal meskipun ada juga jalur yang landai.
  17. Sampai di puncak balease kita istirahat untuk mengisi kekosongan perut.
  18. Puncak balease, susana dingin meski sudah tengah hari, kamera pun kembali beraksi untuk dokumentasi.
  19. 1 jam sudah beristirahat, saatnya menuju puncak ke 3 kabentonu. Menurut data yang kami dapat di Rumah Bapak Dusun ( Pak Nas ) di buku tamu puncak kabentonu baru beberapa orang saja yang pernah ke sana, salah satunya team The Tree Musketeer dari KORPLA Unhas tahun 2004.
  20. Melewati punggungan dengan penurunan yang landai di sertai keindahan panorama pegunungan balease ini.
  21. Perjalanan pun berlanjut dengan menyusuri jalan setapak yang samar-samar dengan bantuan sisa – sisa string yang sudah tua, sesekali kompas dan peta pun di buka untuk memastikan bahwa arahnya sesuai dengan puncak kabentonu.
  22. Waktu sudah menunjukkan 16.50 hujan pun turun cukup deras dan haripun mulai gelap kami pun memasang tenda di tempat yang bisa di bilang kurang layak. ( tempat pasang tenda darurat ). Ini memang cukup menyedihkan tapi inilah kehidupan di alam bebas.
  23. Pukul 09.00 kami sudah siap melanjutkan perjananan, di sini kami sempat kebingungan karena string dan jalan setapak pun sudah tidak nampak lagi. Akhirnya peta dan kompas pun menjadi andalan utama.
  24. Menyusuri punggungan, perjalanan pun berlanjut dengan melewati medan jalur yang cukup sulit sampai harus merayap-rayap hanya untuk menembus rapatnya pepohonan yang tumbuh liar di tempat ini.
  25. Pukul 15.00 kami sempat di hantam badai gunung, kami bertahan dengan memasang flysheet, menunggu badai reda.
  26. Badai reda perjalanan berlanjut dengan melewati pendakian dan penurunan sampai waktu menunjukkan pukul 16.30 lalu kemudian memasang tenda untuk camp.
  27. Hari ke 7  mungkin ini adalah hari yang cukup membosankan dalam perjalanan expedisi ini. Karena sudah kelelahan tetapi puncak belum juga di temukan. Setiap sampai di puncak punggungan masih ada puncak di sebelahnya begitu seterusnya sampai waktu menunjukkan pukul 15.00, dan akhirnya kami pun camp.
  28. Hari ke 8 pagi yang cukup cerah, namun tak secerah raut wajah kami karena perjalanan kami ini hanya mengandalkan peta , kompas, dan insting semata, namun itu semua tak mampu memadamkan semangat kami untuk mencapai puncak terakhir expedisi ini.
  29. Masih dengan kontur pegunungan yang masih kebanyakan pendakian dan penurunan namun pepohonan tak serapat perjalanan kemarin.
  30.  Akhirnya semangat para peserta kembali bertambah setelah mendapatkan string tua yang terikat pada ranting pohon. Paling tidak itu semua membuktikan bahwa kita berjalan pada jalur yang benar.
  31. Tepat pukul 10.50 kami sudah berada di puncak kabentonu….., yah puncak kabentonu, puncak terakir expedisi. Akhirnya rasa bahagia pun tak lagi dapat di tutupi lagi, semua tertawa haru…, Kami pun menemukan peninggalan dari team the tree musketeer , sebuah pesan dalam botol yang berisi tulisan nama- nama team dari korspala unhas pada expedisi 2004.
  32. Tanpa beristirahat terlalu lama kami langsung mengarah perjalanan pulang  dan camp pukul 15.30.
  33. Hari ke 9 kami berjalan dengan semangat sekali sampai menembus puncak balease kembali pada pertengahan hari dan berlanjut  untuk memasang tenda buat camp di lembah waru.
  34. Hari ke 10 pertengahan haripun puncak to’ langi 3016 mdpl sudah kami injak dan berlanjut sampai pada pukul 16.16 untuk camp.dan camp kami berada di pos4.
  35. Hari ke 11 kami melanjutkan perjalan dengan sisa sisa tenaga yang ada hingga mencapai air terjun. Sampai di air terjun kami singgah sebentar untuk membersihkan badan dan pakaian yang kotor sebelum tiba di perkampungan.
  36. Pukul 15.15 kami sampai di rumah bapak dusun dengan selamat dan terus berpamitan kepada beliau untuk langsung menuju ke palopo .
  37. Selesai dan sampai jumpa di expedisi Tobaku Part-2

Writer By : Bejo Setiawan S.Com

(Kpa.Garis Palopo)

Buntu Karua atau Gunung delapan (8) adalah sebuah gunung yang terletak di pedalaman tanah toraja, tepatnya di lembang (Desa) balla kecamatan bituang, Makale, kabupaten tanah tanah Toraja. Buntu Karua memiliki ketinggian sekitar 2653mdpl dan merupakan salah satu puncak yang masih jarang di kunjungi oleh para pengiat alam bebas.

Buntu Karua (Kpa.Garis Palopo)

Banyak dugaan bahwa buntu puang adalah salah satu gunung berapi, meski tak mempunyai kaldera tetapi jika kita mendaki di buntu karua aroma khas bulerang tercium sangat jelas. Air sungai yang mengalir dari hulu buntu karua berwarna agak ke keruh tidak jernih seperti air sungai pada umumnya hal ini disebabkan adanya campuran bulerang pada air tersebut. Menurut salah satu sumber bahwa dahulu kala buntu karua adalah sebuah gunung yang sangat besar tetapi meletus sehingga dari gunung besar tersebut merubah menjadi gunung-gunung kecil yang berjumlah delapan, maka dari itu puncak tertingginya di sebut buntu karua atau Gunung delapan.

Buntu Karua (Kpa.Garis Palopo)

Keunikan dari gunung ini, selain jalur yang lumayan sulit, kelestarian alamnya sangat terjaga hampir 70% hutannya di penuhi oleh lumut, dan juga terdapat tugu trianggulasi setinggi 1m terbuat dari beton yang di bangun oleh belanda. Terdapat 8 pos daki menuju puncak, dan sumber air hanya terdapat di pos 3 dan pos 6 saja. Hal ini lah yang membuat kami ini melakukan expedisi ke buntu karua bersama kpa garis palopo dan kpa TWT tanah toraja.

Perjalanan kami mulai dari kota palopo menuju Kabupaten tanah toraja, kec. Bituang ,lembang (desa) balla. Perjalanan dari palopo memang mulus melalui aspal, tetapi ketika memasuki lembang balla akses di sana sangat hancur, jalannya di susun dari bebatuan yang besar dan sangat menanjak membuat mesin motor kami menjerit, sekitar 4 jam kami tiba di rumah pendeta setempat, mayoritas penduduk di kec.bituang adalah nasrani dan pak pendeta lah yang dijadikan pos lapor jika ingin melakukan pendakian ke buntu karua.

Kami mulai jalan menyusuri pandang ilalang dengan vegetasi pinus dan tanaman jenis pakis berbatang keras. Menuju pos 1 kami menyusuri pengairan irigasi dan tak di sangka2 team kami di guyur hujan yg lumayan deras. Rasa lapar tak terelakkan dan memaksa kami memasak beberapa mie instan di pengairan tersebut.

Sekitar sejam kami berjalan kami tiba di pos 1. Lokasinya sangat sempit, ditandai sebuah pohon pinus yang besar dan beberapa papan pos dari para team-team sebelumnya. Karna derasnya hujan kami melanjutkan perjalanan tanpa dokumentasi sedikit pun. Beberapa meter dari pos 1 menuju pos 2 kami memasuki hutan yang lumayan rapat. Deretan pohon pinus yang kami lalui berganti menjadi beberapa pohon palem berduri dan semak belukar, jalur menuju pos 2 sangat menanjak di persulit lagi jalannya di penuhi dedaunan yang basah akibat hujan dan membuat track yang dilalui menjadi licin. Entah berapa kali kami beristirahat sambil mengatur nafas. Sekitar jam5 sore kami tiba di pos 2, lokasinya juga di tandai sebuah pohon yang sangat besar di penuhi oleh lumut sayang sekali dokumentasi kami di pos dua juga tidak ada karna kala itu hujan masih mengguyur kami.

Dari pos dua kami menurun lembah yang curang tak jauh dari pos2, sekitar 30 menit kami tiba di pos3, dengan segera kami mendirikan tenda di tengah derasnya hujan. Setelah tenda berdiri kami pun segera masuk ke dalam tenda dan berganti pakaian yang basah kuyuk. Malam yang kami lalui sangat menyenangkan di tengah kedinginan, minum kopi sambil bercerita pengalaman-pengalaman pendakian masing2 , pos 3 sangat sering dijadikan camp karna air sangat melimpah.

Keesokan paginya dengan segera setelah sarapan kami peaking dan bersiap berjalan kaki kembali menuju pos 4, ternyata untuk menuju pos 4 kami harus melalui punggungan yang sangat menanjak, sesekali kami terperosot kembali kebawak akibat licinya jalur menuju pos4. Sekitar sejam  berjalan kami tiba di pos 4, lokasinya lumayan luas tapi tak terdapat sumber air di pos ini. Kami pun melanjutkan ke pos berikutnya, jalurnya kali ini sangat landai dan beberapa kali menurun sekitar 30 menit kami tiba di pos5 dan di lanjutkan ke pos 6, hanya sayang sekali jalur menuju pos 6 hutannya tidak beritu rapat karna adanya aktipitas ilegalonging oleh warga setempat. menuju pos 6 juga sangat banyak di tumbuhi pohon kalpataru dan kami pun memungut beberapa biji dari buah kalpataru tersebut. Sekitar 40 menit kami berjalan kami tiba di pos 6 disini sumber air terakhir, lokasinya dapat menampung sampai 3 tenda ukuran sedang sangat cocok di jadikan camp. Dengan segera kami mengisi beberapa botol air untuk persediaan di puncak karna kami berencana ngecamp di puncak.

Setelah istirahat sejenak kami pun melanjutkan perjalanan, menuju pos7, tiba2 hujan turun mengguyur kami, perjalan menyusuri hutan kembali agak sulit ditengah kabut dan jalan yang sudah tidak jelas dikarnakan jalur menuju pos 7 adalah jalur yang paling panjang dan sulit, butuh sekitar 2 jam agar kita bisa tiba di pos berikutnya.jalurnya juga dipenuhi lumut dan sangat sulit menentukan jalur di antara lumut. Maklum lah pendaki yang melakukan expedisi di buntu karua masih dapat di hitung jari.

Setibanya di pos 7 kami istirahat sejenak, lokasinya dapat menampung 2 tenda tapi tak terdapat sumber air. Setelah mengisap sebatang rokok, team melanjutkan ke pos 8 yaitu puncak, kali ini kami di hadapkan jalur yang sagat menanjak, beberapa kali kami terjatuh dari pijakan kami berdiri dikarnakan terkadang kayu yang di selimuti oleh lumut sudah rapuk dan tak dapat di pijak, memanjat akar kayu menuju puncak adalah hal mutlak yang tak dapat di pungkiri. Sekitar sejam berjalan akhirnya kami tiba di puncak pada jam 11.26 dan dengan segera memeluk tembok trianggulasi yang di buat oleh belanda pada saman penjajahan.

Gemuru Guntur mengguncang langit segera kami mendirikan tenda di samping trianggulasi. Dan hujatn turun dengan lebatnya hingga dini hari. Esok paginya dengan segera kami kami berjan  kebawah perkampungan dengan cepat, agar kami tak di landa hujan di siang hari. Di perjalan pulang kami mencium bau bulerang yang sangat menyengat, dan pada pos 3 kami mengambil jalur lain menuju kampung menyusuri sungai yang berwarna  ke abu2an hal ini kemungkinannya air di sunagi itu mengandung bulerang. Di lembah kami kembali di guyur hujan yang sangat deras. Membuat jalur kembali licin dari kejauhan perkampungan sudah terlihat rasa ingin tiba secepatnya sampai mengalahkan rasa lelah dan rasa dingin. Sekitar jam 12 kami tiba di rumah pak pendeta dan total jam yang kami gunakan untuk pulang dari puncak adalah 4jam 30 menit. Tanpa menunggu lagi kami melanjutkan perjalanan di tengah derasnya hujan hingga sampai di kotamadya palopo pada pukul 17.30, memang agak lambat dikarnakan rem motor kami rusak ketika memasuki kota rantepao tanah toraja.

Sekian cerita perjlanan kami, menggapai puncak Gunung delapan (Buntu Karua) pada tanggal 5 mei 2012.

Profil : Kpa Garis palopo

Alamat. Jalan Islamic center. Kel.takalala kec.wara selatan kotamadya palopo Sul-Sel

Telp : 085299960666.

klik juga :

G.Balease : https://latimojong.wordpress.com/2011/01/02/wild-expedition-iv-kpa-garis-palopo/

G.Kambuno: https://latimojong.wordpress.com/2011/01/02/wild-expedition-vi-kpa-garis-palopo/

G.Gandang Dewata: https://latimojong.wordpress.com/2011/01/02/wild-expedition-ix-kpa-garis-palopo/

G.Nenemori: https://latimojong.wordpress.com/2011/01/26/wild-expedition-11-kpa-garis-palopo/

Gunung Sulawesi–Selatan: https://latimojong.wordpress.com/2011/02/21/daftar-gunung-gunung-di-sulawesi-selatan/

https://latimojong.wordpress.com/2011/08/01/3-puncak-tersulit-sulawesi-selatan/

Gunung Agung 3147 mdpl

Kpa Garis Palopo G. Agung 3147 mdpl

Setalah kembali dari pulau Lombok dan mendaki di gunung rinjani 3726 mdpl. Di pulau bali saya harus menunggu selama 3 hari barulah saya dapat kembali ke Sulawesi selatan (palopo). Dalam 3 hari itu saya harus memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya. Saya pun mengajak jeber dari mapala giri sakti mendaki di gunung agungyang ketenarannya sampai ke seluruh dunia.

10-07-2011. Pagi itu saya bangun dengan sangat segar rasa lelah setelah mendaki 2 gunung yaitu semeru dan rinjani terbayar sudah dengan istirahat semalaman suntuk. Sebelum pecking saya memperbaiki faiber tenda yang sempat pecah di gunung rinjani. Setelah semua beres saya pun menunggu jeber yang pergi entah kemana. Jam 11.30 jeber akhirnya datang, perlengkapan team juga telah rampung. Team kali ini berjumlah 4 orang yaitu : saya , jeber, ambon dan ada juga fans banteng yang datang dari jawa. Kami start jam 12 dari dempasar menuju pura agung yaitu salah satu pintu masuk jalur gunung agung. Di tengah perjalanan kami berhenti sejenak sambil belanja kekurangan dalam expedisi kali ini. Sebelum memasuki kawasan pura pasar agung kami berhenti sejenak dan berdoa di sebuah pura dan berdoa dengan keyakinan kami masing-masing agar kami dapat mendaki ke gunung agung dengan selamat.

Kegagalan pendakian saya seminggu yang lalu dikarnaka acara galungan membuat saya was-was jangan sampai ketika sampai di pura terdapat acara agama sehingga jalur di tutup kembali. Gunung agung termasuk agak sulit di daki karna banyaknya kegiatan agama di pura pasar agung sehingga senantiasa jalur di tutup. Jalan menuju pura pasar agung lumayan bagus, hanya beberapa yang rusak. Sebelum memasuki kawasan pasar agung jalan sangat menanjak sehingga membuat motor kami kesulitan menanjak dan saya harus berjalan kaki ketika motor tak dapat menanjak lagi.

Jam 15.49 kami tiba di plataran parker pura pasar agung. Setelah mengambil persedian air di pura kami mulai menanjak melalui jalur track yang tak memikili bonus sama sekali, jalurnya sangat jelas dikarnakan baru saja ada sekitar ratusan orang yang baru turun dari puncak untuk beribadah. Gunung agung memang sangat di sakralkan oleh masyarakat pulau dewata bali maka dari itu terkadang para pendaki harus menunggu sampai berminggu-minggu agar bisa naik ke puncak gunung agung hingga pura pasar agung tidak merayakan upacara keagamaan.

Jam 17.18 kami tiba di sebuah bendungan air. Tetapi sayang lokasinya sangat kotor sehingga kami tak dapat mengambil suplay air.perjalanan kami lanjutkan kembali dan kami tiba di batas pegetasi sekitar jam 18.00, hari sudah mulai gelap saya kemudian berusaha jalan di paling depan kemudian mencari lokasi untuk mendirikan tenda. Tepat jam 19.00 tenda sudah berdiri kami dengan segera memasukkan barang-barang ke dalam tenda dan sebagian team berteduh di bawah fly sit. Setelah makan malam kami bercerita satu sama yang lain sambil berbagi pengalaman. Malam itu kami lewati dengan rasa dingin yang cukup membuat kami mengigil.

11-07-2011. Jam 2.52 pagi saya di bangunkan dengan  suara bising dari jeber dan frans. Mereka melihat sesuatu cahaya berwarna merah yang senantiasa berkelap-kelip di bagian sisi kanan gunung hal itu sempat membuat bulukuduk saya merinding. Sekitar jam 4 para turis telah berjalan menuju puncak mereka start dari pura pasar agung sekitar jam 2 dini hari. Tetapi kami berencana summit attack jika fajar menyingsing. Tiba-tiba hujan mengguyur kami kami berempat masuk ke dalam tenda yang hanya bisa memuat 3 orang, dengan sangat terpaksa kami mesti tidur dengan posisi yang saling bertumpuk-tumpuk.

Pagi ini kami bangun kesiangan 6.57 pagi, setelah foto-foto di samping tenda kami dengan segera menuju puncak yang begitu jauh dari tenda kami tetapi jalurnya menanjak terus tanpa bonus. Sekitas 100m dari puncak tiba-tiba hujan yang sangat deras mengguyur kami. Kami terpaksa mengambil foto dalam keadaan basa kuyuk dan dinginnya serasa menembus tulang. Tak cukup 5 menit kami di puncak kami segerah berlari turun ke tenda. Untuk berteduh dari derasnya hujan tetapi tak jauh dari puncak hujan meredah tetapi kami tak kembali ke puncak dikarnakan seluruh pakaian kami basah. Sesampai di tenda kami pecking membereskan barang-barang dan kembali pulang dengan segera pada pukul 10.17 tak lupa foto-foto bro,,,,.

Sekitar 2 jam kami berjalan ke bawah pura pasar agung dan kami tiba di plataran parkir  sekitar jam 12.29 kembali kami harus menunggu redahnya hujan yang cukup deras, kata jeber “mungkin ada sesuatu sehingga hujan senantiasa menghalangi perjalanan kami” ucapannya membuat saya berpikir hal yang sama karna sebelum kami naik ke atas sangat banyak turis yang naik terlebih dahulu. Setelah reda kami melanjutkan perjalanan pulang sekitar jam 13.22, tujuan kami kali ini adalah rumah orang tua jeber buat bersih-bersih di sungai samping rumahnya. Setelah bersih kami kembali ke rumah jeber sambil minum kopi lagi-lagi hujan turun tapi hanya sesaat. Jam 16.57 kami kembali ke dempasar yaitu kost-kosan jeber. disana sudah ada pacar jeber yang menunggu kami, dengan segera kami lalu menyimpan peralatan dan kembali bersih-bersih. Malam pun kami lalui dengan nyaman dan tidur beralaskan kasur (Asik Ee’)

Pagi hari tanggal tanggal 12-07-2011, bangun kemudian mencuci semua pakaian yang saya pakai selama expedisi, sungguh pekerjaan yang melelahkan. Sekitar jam 13.00 saya pergi ke pasar sukawati untuk membeli oleh-oleh buat keluarga, pasar sukawati memang terkenal dengan beraneka ragam pernak pernik khas bali dengan harga yang miring, setelah puas belanja saya kembali ke kost dan istirahat sejenak, malam pun tiba saya diajak bakar ikan oleh jeber dan dian, malam itu sungguh menyenangkan dan sangat berkesan karna malam itu adalah malam terakhir saya di pulau bali.

Esok harinya tanggal 13 saya bergegas bersih-bersih dan mengemas barang kemudian jam 9 saya menuju bandara di antar dengan jeber, karna adanya keterlambatan penerbangan akhirnya pesawat berangkat pukul 11.50 wita. Dan saya sampai di bandara Makassar pada pukul 13.00. tanpa menunggu waktu saya kemudian mencari mobil tujuan palopo tapi sayang kendaraan sangat jarang akibatnya saya mesti menunggu sampai pukul 17.30 dan

Alhamdulillah expedisi saya 3 puncak tiga pulau dalam wild expedition 12 telah berhasil tepat pukul 23.00. saya langsung disambut dengan senyuman manis anak saya yang berumur 6 bulan,

Posting By:  Ayyung Kpa Garis Palopo

Gunung Rinjani 3726 mdpl

Kpa Garis Palopo G, Rinjani 3726 mdpl

Tanggal 1 juli, ketika saya turun dari puncak Mahameru 3676 mdpl saya langsung menuju pulau bali, rencananya expedisi saya kali ini menargetkan 3 puncak yaitu Semeru, Agung dan Rinjani, target pertama sukser besar tanpa kendala, jam 6.30 malam saya tiba di Pasar Tumpang , setelah berpamitan dengan para pendaki Semeru, saya langsung bergegas menuju Terminal Malang, sesampai di sana untung saja masih ada mobil Bus yang mau ke Bali, di daerah jawa biasanya kendaraan terutama Bus melakukan perjalanan antar pulau antara lain, bali, Lombok, bahkan ada yang sampai di Bima (Sumbawa). Saya tiba di terminal sekitar jam 7.30, bus yang saya naiki adalah bus tujuan bali terakhir pada malam itu karna hal itu, ongkos busnya yang tadinya 80.000 menjadi 110.000,

Jam 9 malam bus baru mulai berangkat. Saya pun mulai berhati-hati dengan copet dan rampok. Saya bertanya kepada kondektur bus kira-kira tiba di bali jam berapa , trus dia menjawab “sekitar jam 1 siang besok” , saya cukup kaget mendengarnya. Ternyata mobil bus itu transfer penumpang di Jember, sekiar jam 2 malam, mobil pun tiba di terminal jember, disini saya melihat begitu banyak modus penipuan terjadi, untung saya tidak tergoda dengan tipu muslihat mereka, kami pun pindah kendaraan, saya sempat cerita dengan seorang penumpang dan di pun menertawai hobi saya yang suka mendaki gunung, tetapi bodoh amat yang penting saya enjoy aja dan tidak menggau orang J.

Tanggal  2 juli , Jam 6 pagi saya tiba di banyuwangi, mobil pun mulai memasuki pelabuhan dan mau transip ke pulau bali, sekitar sejam kapal yang di tumpangi mobil bus tiba di pulau bali, seluruh penumpah di turunkan dan di cek satu per satu kartu tanda identitas, setelah semuanya aman saya dan para penumpang lainya naik kembali ke atas bus, dan mulailah pemandangan pesisir pantai di bali mulai terlihat, awalnya sih perjalanan menyenangkan tetapi pada saat tengah hari, sekitar jam 11 jalanan menuju terminal dempasar mengalami macet kurang lebih 2 jam lamanya.

Jam 2 tepat saya tiba di dempasar, saya pun menyuruh teman saya yang bernama satkay dari mapala giri sakti untuk menjemput di terminal, tanpa menunggu lama satkay pun tiba, dan membawa saya ke sebuah took outdoor punya Mbak Wie,orangnya cantik dan baik sati, kami habskan hari itu dengan bercerita dan minum arak bali bersama-sama wk wk wk J. Tetapi ada kabar buruk yang harus saya terima ternyata Masyarakat bali sedang mengadakan upacara besar yaitu Galungan jadi untuk sementara Gunung Agung di tutup untuk sementara. Saya pun mengambil keputusan  unTtuk  melanjutkan ke Gunung berikutnya yaitu Gunung rinjani , untung saja esok harinya ada teman yang bernama mas Dian beserta temannya mau mendaki ke Gunung Rinjani, tanpa piker panjang saya langsung bergabung dengan tiem mereka

tanggal 3 juli, bangun tanpa sarapan langsung menuju palabuhan padang bai menggunakan motor di antar oleh beberapa teman dari Mapala Giri Sakti Bali. Perjalanan cukup jauh dan melelahkan kurang lebih sejam kami pun tiba di Pelabuhan. Tanpa menunggu lama kami pun langsung segera membeli tiket kapal menuju mataran (Nusa Tenggara Barat) dengan membayar 35.000 rupiah. Serine kapal pun berbunyi pada jam10. kami pun naik ke atas kapal dan langsung menuju dek yang paling atas. Perjalan menuju pelabuhan lembar lumayan lama sekitar 4-5 jam, ditambah dengan ombak yang lumayan membuat mual.

Jam 2.30 kami tiba di pelabuhan lembar. Setelah kapal sandar tanpa menunggu kami langsung turun dan mencari warung untuk mengisi perut yang kelaparan. Sememtara makan tiba-tiba datang seorang kondektur menawarkan mobil menuju kab.Lombok timur. Tujuan kami yang berikutnya adalah MPA Oastipala yang berada di Selong dengan membayar 30 ribu/orang. Mesti di perhatikan jika ingin ke selong kita mesti pintar-pintar berbicara dengan sopir atau kondektur karna salah sedikit kita bisa membayar lebih atau atau yang paling parah bisa saja kita di pindahkan ke mobil lain dengan bayaran tambahan. Tepat jam 5 sore kami tiba di taman Kota Selong. Kami langsung menelpon kepada MPA oastipala yang bernama Asu. Tak cukup 5 menit Asu pun tiba dan membawa kami ke secretariat yang sangat dekat dengan Taman Kota Selong. Sore itu kami bercanda riang hingga larut malam sambilil meminum brum (Minuman Khas Asli Lombok).

Esok paginya kami memulai perjalanan kembali menuju kaki gunung rinjani jalur sembalun. Tetapi terlebih dahulu kami belanja di sebuah pasar. Sekitar jam 1 kami pun tiba di kantor taman nasional rinjani Sembalun setelah melapor dan membayar tiket masuk sebesar 10.000 kami langsung memulai perjalanan melalui jalan rintisan dan memasuki savanna yang tak terlihat ujungnya. Sekitar jam jam 5 saya sampai di pos 2, kami dengan segera mendirikan tenda di tengah padang ilalang dan melalui malam dengan indah.

Pagi pun tiba, cahaya mentari menembus sela-sela tenda. Setelah sarapan kami melanjutkan menuju pos 3. Dan dilanjutkan menuju plawangan. Disinilah para pendaki benar-benar menguras keringat melalui padang yang tandus, sesekali pohon pinus . track menuju plawangan biasa juga di bukit penyesalan memang pendakian dari pos 3 serasa tiada henti. Tepat jam 2 saya tiba di plawangan sembalun di sini para pendaki beristirahat sejenak sambil mencari lokasi camp. Lokasi mendirikan tenda begitu strategis karna dari tenda kita dapat melihat puncak rinjani 3726 mdpl yang menjulang jauh memanjang. Semakin sore semakin banyak pendaki yang tiba di plawangan sembalun, selain pendaki lokal pendaki yang datang dari luar negri juga ada. Malam ini cuacanya lumayan dingin karna tenda berada tepat di atas punggungan.

Jam 1 tepat kami mulai perjalanan menuju puncak rinjani, susahnya mendaki di jalur berpasir membuat saya teringat di pendakian mahameru yang membuat saya sampai mual. Para team kembali berjuang selangka demi selangka menggapai puncak rinjani. Sesekali kami istirahat sambil menunggu team yang berada di belakang. Sebelum puncak salah seorang team yang bernama pak handoko mengalami nyeri di bagian lutut sehingga membuat pendakian sedikit agak lambat, di tambah rasa haus yang saya alami semakin mencekik leher. Jam 6.30 tepat saya dan pak handoko bersama dian tiba di puncak rinjani dengan ketinggian 3726mdpl. Puncak rinjani ini juga menjadi gunung tertinggi ke 3 di Indonesia setelah peg. Jayawijaya 4800 dan gunung Kerinci 3800

Setelah berfoto-foto kami kembali ke camp plawangan dan mulai packing. Setelah makan siang dan semua peralatan rampung kembali kami berjalan menuju danau segara anak yang merupakan danau kawah dari gunung rinjani perjalanan menuju danau cukup berbahaya karna begitu banyak tebing yang curam yang mesti kami lalui. Sekitar jam 3 saya, peres dan edot tiba pertama di danau segara anak , tanpa basa basi kami langsung menyimpan carrel kemudian menuju ke permandian air panas yang berada di lembah danau segara anak yang berjarak sekitar 100 mter.

Sungguh  nyaman rasanya berendam air panas di cuaca yang sangat dingin . tak terasa saya dan edot sudah berendam 30 menit, kami berdua kembali ke danau dan mendirikan tenda. Suasana sore hari di danau segara anak sangatlah indah, hamparan kabut yang menutupi danau seakan membius pandangan kami. Dikala malam kami menikmati sebotol arak bali dan popcorn , sungguh senang rasanya.malam itu cuaca sangat dingin meski memakai sleeping bag tetapi saja rasa dingin terasa di tubuh kami. Mungkin di sebabkan karna tenda kami berdiri tepat di samping danau segara anak.

Pagi ini kami harus kembali berjalan.  Ada teman yang menyarankan agar melalui jalur gua susu. Jalurnya agak sedikit landai dan tidak menguras tenaga. Jam 10 tepat kami kami mulai berjalan pulang. Menyusuri pinggiran tebing yang di penuhi alang-alang. Kami juga melalui air terjun susu yang sangat tinggi tetapi berada tepat di bawah jurang. Harisudah mulai gelap tetapi kami masih berada di dalam hutan. Team juga terbagi menjadi dua. Jam 6 saya, dian dan suci tiba di penampungan air milik warga tetapi jarak ke kampung masih sangat jauh. Rasa cemas Nampak dari wajah suci yang berjalan di kegelapan . saya berada di paling depan sambil mencari jejak jalan di tengah kegelapan. Alhamdulillah kami keluar dari hutan tepat jam 7 malam dan para team yang berada di depan telah menunggu kami sejak jam 6. Setelah makan seadanya kami semua berjalan kembali menuju perkampungan. Tetapi sial kami mengambil jalur memutar sehingga kami mesti berjalan di daerah yang kami sendiri tidak ketahui. Kami baru menemukan rumah penduduk tepat jam 10 malam. Barulah kami bisa bernafas lega sambil beristirahat di rumah mereka.

Jam 6 kami sudah bangun pagi kemudian sarapan, pemilik rumah adalah suku sasak asli. Dia menolong kami mencarika sebuah mobil menuju kota selong kab.lombok timur. Tak lama kemudian mobil pun tiba. Kami dengan segera meninggalkan kawasan kaki gunung rinjani. Tepat jam 11 siang itu kami tiba di secretariat kpa Oastipala. Sambil beristirahat kami bercerita tentang pengalaman kami di gunung rinjani. Saya pun pergi ke salah satu agen travel menanyakan pesawat menuju Makassar tetapi tiketnya sangat mahal mungkin dikarnakan musim arus balik liburan. Akhirnya saya memutuskan untuk kembali ke bali , karna kata dian di bali sangat mudah mendapatkan tiket menuju Makassar. Setelah melalui malam yang panjang dan indah di temani minuman khas suku sasak yaitu brum kami pun beristirahat untuk perjalanan esok hari.

Pagi tiba dengan segera kami pecking barang kemudian berpamitan kepada seluruh anggota kpa Oastipala terutama peres yang mengantar kami. Tujuan kami hari ini adalah pelabuhan lembar dan menyebrang ke Pulau Dewata Bali. Jam 3 tepat kami tiba di pelabuahan padang bai Bali. Sambil menunggu jemputan dari jebber dian dengan segera menghubungi temannya bekerja di travel untuk mencari tiket pesawat. Jam 5 kurang jeber dan kawan-kawan tiba datang menjemput kami dengan segera para team kembali ke dempasar. Dan saya pun menuju rumah dian untuk makan malam. Pada saat makan tiba-tiBa Hp dian berbunyi ternyata telpon dari salah satu agen travel, katanya pesawat hanya ada 3 hari. Apa boleh buat saya harus menunggu selama 3 hari. Terlintas dalam pikiran saya bahwa mendaki gunung agung pada esok harinya. Setelah menanyakan kepada jeber tentang rencana mendaki gunung agung esok hari ternyata dia setuju. Dengan rasa senag Kemudian saya menujuh rumah salah satu kerabat jeber untuk beristirahat untuk persiapan mendaki esok hari di gunung agung 3147 mdpl puncak tertinggi di pulau dewata Bali ….. bersambung Wild Expedition 12 part 3

 Gunung Semeru 3676 mdpl

Juni, 2011. Dalam wild expedition kali ini Kpa Garis memilih 3 puncak yaitu Gunung Semeru 3676 mdpl, gunung Rinjani 3726 mdpl dan gunung Agung 3147 mdpl, sebenarnya expedisi ini sudah sempat tertundah sekitar setaun dikarnaka kami mengalihkan ke gunung lain, barulah tahun 2011 kami bisa melaksanakan expedisi ke 3 puncak terindah Indonesia.

Gunung Semeru 3676 mdpl

Dikarnakan expedisi kali ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit akhirnya dari kpa Garis palopo hanya mengutus seorang dan sesuai keputusan rapat orangnya jatuh kepada ayyung untuk melaksanakan misi tersebut, sebenarnya ada beberapa utusan dari berbagai organisasi yang ikut bersama kami, tetapi entah alasan apa akhirnya mereka gagal satu per satu. Walaupun demikian expedition harus tetap di lakukan,

Tanggal 25 saya sudah menuju ke Makassar , dan tiket kapal laut KM lambelu sudah di tangan, jadwalnya sih tanggal 26 berangkat pada pukul 13, tetapi seperti biasa di Negara kita yang sangat tercinta ini, jam yang digunakan selalu molor, saya yang di antar oleh Galang dari Kpa Jelajah Nusantara Makassar  harus menunggu sampai jam 8 malam. Jam 7.30 saya yang hanya seorang diri ingin pergi ke jawa, merasa was-was, karna ini kali pertama saya menaiki kapal laut apa lagi kapal sangat penuh di ramaikan oleh perserta pramuka yang mau menuju Sumatra untuk jambore nasional, dan tak dapat di pungkiri bahwa kapal laut banyak terdapal maling dan copet.

Jam 08.10 malam, peoooottt, bunyi terompet kapal telah berdengung di segala penjuru pelabuhan kota Makassar, akhirnya kapat KM Lambelu berangkat juga, saya memilih tempat di Dek sebelah kanan biar langsung dapat melihat laut, kebetulan kapal sangat penuh. Jam demi jam berlalu, akhirnya kapal tiba di Surabaya pada pukul 8 malam, saya kemudian mengambil barang dan turun dengan berdesak-desakan dengan penumpang lain, hal anah pertama yang ku temua adalah “semua orang menggunakan bahasa jawa, dan aku tak mengerti” , begitu turun dari kapal saya langsung berjalan kaki ke luar pelabuhan dan menuju terminal kecil di luar pelabuhan dan menaiki mobil damri menuju terminal induk.

Pasar Tumpang

Dalam perjalanan menuju sangat menyenangkan, berkeliling kota Surabaya yang indah dan ramai, tetapi saya sedikit risih dengan beberapa pengamen yang tak kunjung hentinya naik dan turun. Sekitar 30 menit menaiki bus damri saya pun tiba di terminal induk, dan langsung mencari bus tujuan malang. Saya berangkat dari Surabaya menuju malang sekitar jam 9.30malam, untung saja daerah kawasan lumpur lapindo tidak macet jadi dapat sampai ke malang dengan durasi waktu 2 jam, sesampainya di terminal malang udara yang tadi panas di Surabaya tiba-tiba dingin, rasa ngantukkau sudah tak tertahankan, begitu turun dari bis saya langsung menuju mobil angkot tujuan tumpang, untung saja transportasi di daerah jawa 24 jam jadi bias langsung menuju tumpang deh,,, seorang diri lagi dalam perjalanan berharap ada pendaki yang ku temui, sekitar 30 menit dari terminal malang saya sampai di pasar tumpang,, dengar-dengar sih di pasar tumpang ada sebuah rumah sopir truk yang bernama pak nuh  yang biasa mengantar pendaki menuju ranu pani kaki gunung semeru.Sekitar jam 12.00 saya berjalan menuju rumah pak nuh, saya terkaget bercampur senang ternyata di rumahnya ada sekitar 30-an pendaki yang mau berangkat menuju Ranu Pani, salam-salaman dengan para pendaki lain, kemudian saya pergi belanja mie instan, maklum saya belum makan dari siang hari…:)

Savana Bromo Kpa Garis

Bangun jam 5 subuh, pasar tumpang sudah mulai ramai dengan para penjual sayuran, kami pun mulai menyiapkan barang2, dan mulai menaikkan ke dalam truck , (ada dua jenis angkutan yang dapat di gunakan pendaki menuju Ranu Pani yaitu : Truck sayur dan mobil jeep , tetapi jika mengunakan mobel jeep, perlu mengeluarkan bayet banyak kurang lebih 300-400 ribu). Sekitar jam 7 kami mulai berangkat meninggalkan tumpang, ada dua tuck pendaki yang berangkat, perjalanan menuju ke kaki gunung sedikit buruk, (Tapi Lumayan lah, disbanding dengan jalur transport di Sulawesi, wk wk wk )

Resor Ranupani Kpa. Garis Palopo

Kurang lebih Jam 8 kami tiba di ranu pani, panitia pendakian bersama mulai melapor di pos taman nasional bromo tengger (Ranu Pani) dengan ketinggian 2200 mdpl, setelah semuanya beres kami berdoa bersama, dan mulai melakukan pendakian sekitar jam 10. Kami pun melewati sebuah perkebunan penduduk, menuju pos 1 memakan waktu sekitar sejam, lokasinya berupa Pos yang di jadikan tempat peristirahatan bagi para pendaki.

Dilanjutkan menuju pos dua, dengan durasi 30 menit, kemudian di lanjutkan ke pos3 sekitar 1 jam, dari pos tiga dilanjutkan, ke danau Ranu Kumbolo 2390 mdpl sekitar 30 menit, dari semua perjalanan pertama start hingga sampai ke Ranu kumbolo masalah jalur, saya rasa cukup sangat jelas, dan penuh dengan petunjuk pendakian,,.

Resor Ranupani Kpa. Garis Palopo

Saya sampai di ranu kumbolo sekitar jam 4 sore, tanpa tunggu lama-lama saya langsung mendirikan tenda, lalu masak, setelah semua beres saya kemudian makan di tepian Danau Ranu Kumbolo, danaunya sangat indah dan di apit dua buah gunung di depannya, danau dengan ketinggian 2390 mdpl membuat airnya sangat dingin apabila di sentuh, para pendaki sangat banyak yang mengisi waktu dengan memancing, tapi sayang ikan di kumbolo jarang yang besar. Malam pun tibah, waktunya memulikan tenaga buat perjalanan esok hari,

Bagun dengan suara bising dari tenda lain, suasana di pagi hari di ranu pani lumayan dingin, dengan secangkir kopi dan beberapa biscuit saya dan teman-teman dari KPA kompala sawerigading (har), mido, roup menikmati hangatnya sinar mentari, kemudian saya pun bersama teman dari koplag (memet) mandi di ranu kumbolo dengan rasa dingin yang luar biasa. Setelah peaking kami pun berangkat menuju camp berikutnya yaitu Kali Mati ,,, tak lupa foto bareng di pinggir danau J

Kami berangkat dari danau sekitar jam 9,, selepas dari danau kami di sambut dengan tanjakan cinta , sebuah tanjakan yang di percaya dapat mengabulkan permintaan pendaki apa bila mendaki dari bawah dan sampai ke atas (2 pohon pinus) tanpa berhenti dan menoleh kebelakang tapi tentang kebenarannya masih di ketahui, selepas dari tanjakan cinta kami lalu menurun di sebuah savanna yang di beri nama oro-oro ombo, sekitar 15 menit melewati savanna kemudian tiba di sebiah shelter yang bernama cemoro kandang dengan ketinggian 2500 mdpl, di sana kami istirahat sambil menunggu team yang lain.. suasananya lumayan dingin dan banyak di tumbuhi pohon cemara,

Danau Ranukumbolo , Kpa. Garis

Tanjakan Cinta Gunung Semeru

Setelah istirahat di cemoro kandang kami melanjutkan ke kalimati, jalurnya lumayan landai hingga menemukan bekas aliran lahar yang berupa batu-batu pulkanik kecil, sesampainya di sana hujan sempat menghentikan kami, tetapi tidak begitu lama kami pun melanjutkan perjalanan, selepas dari aliran lahar kami di sambut dengan tanjakan yang lumayan menguras keringat, tak sampai sejam kami berjalan sampailah di kali mati, tetapi sayang hujan sedikit membasahi kami kembali, dengan segera saya mendirikan tenda, dan team yang lain pergi mengambil air di sumber  wiring, jaraknya cukup jauh dari kali mati sekitar 1,5 kilo meter, setelah beres, kami pun istirahat sambil memasak makanan, sore itu sangan cerah, puncak semeru terlihat sangat jelas dari kali mati, lautan pasir yang menjulang terjal menuju puncak begitu mengerikan di lihat dari bawah,

Oro-oro Ombo, Kpa. Garis

Kalimati . Gunung Semeru , Kpa, Garis

Malam pun tiba, kami berkumpul di tenda masing2, ada sekitar 20 tenda yang ada di Kalimati pada saat itu,, sekitar jam 8 kami pun beristirahat untuk perjalanan di malam hari menuju puncak Mahameru, posisi tenda yang kurang bagus membuat tidur kami kurang nyaman, suara bising pun kembali terdengar seakan membangunkan kami, ternyatajam sudah menunjukan jam 12 malam, dengan segera kami bersiap-siap untuk get the summit, ada sekitar 40 pendaki yang nanjak pada saat itu, suasana kalimati yang tadinya ramai akhirnya sunyi ketika kami mulai berjalan berlahan menuju puncak. Satu persatu kami berjalan melewati jalan setapak di antara pepohonan pinus yang menjulang tinggi menuju ArcoPodo,, hanya ada satu kendala kami pada saat itu yaitu, karna jumlah kami yang lumayan banyak jadi kami mesti antri untuk melewati jalur, sekitar jam 2 malam kami tiba di arcopodo dengan ketinggian 2900 mdpl,  beristirahat sejenak sambil mengumpulkan tenaga, para wanita pun di tempatkan berjalan paling depan agar lebih mudah di pantau.

Puncak G .Semeru 3676 mdpl, Garis Palopo

Puncak Mahameru 3676 mdpl, Kpa Garis Palopo

Sekitar jam 3 kami mulai memasuki batas pegetasi, tanjakan pasir yang menjulang tinggi sudah mulai tampak, kembali lagi kami harus antri melewati tanjakan pasir, dan berhati-hati dengan bebatun yang di tempati berpijak, jangan sampai bergelinding dan mengenai pendaki yang ada di belakang. Sekitar jam 7 saya sampai di puncak , hal ini di sebabkan saya mengalami mual yang luar biasa saya memang belum pernah jalan malam sebelumnya, mungkin hal inilah yang menyebabkan saya masuk angin kemudian muntah L apa lagi semalam tidak  sempat makan,,  sesampai di puncak saya pun sujud sukur karnah sudah menginjakkan kaki di puncak mahameru 3676 mdpl sekaligus puncak tertinggi di Pulau Jawa. Tak lupa juga berfoto-foto dengan para pendaki yang lain, sekitar sejam saya di puncak. Kami pun turun apa lagi foto yang kami ambil sudah sangat banyak, wk wk wk

Puncak Mahameru, Kpa Garis

Puncak Mahameru , Kpa Garis

Sekitar 10 meter dari puncak gunung pun berguncang hebat, ternyata terjadi letupan di atas kawah, asapnya sampai menjulang tinggi, hal ini tak kami sia-siakan dengan segera kami mengambil kamera dan mengambil beberapa gambar setelah itu dengan segera kami berlari ke bawah wedus gembel menutupi puncak, tetapi yang kami khawatirkan masih ada orang lain yang berada di belakang kami yang tidak kami ketahui keadaanya, kami pun turun hingga batas vegetasi sambil menunggu kabar team yang masih ada di puncak, kemudian samar-samar kami melihat mereka berjalan dari atas ketika kami yakin bahwa team semuanya selamat kami melanjutkan perjalanan kembali ke kalimati ,

Puncak Gunung Mahameru , Kpa Garis

Sekitar jam 12 kami sampai di kalimati, makan kemudian beristirahat, ketika mengecek logistic ternyata cukup hingga malam nanti, mau tidak mau saya harus pisah dengan team yang lain dan menuju Ranu Pani dengan segera, setelah peaking dan pamit  saya bersama har dan teman lain yang sudah mulai kehabisan ransume mulai turun perjalanan pulang serasa agak mudah karna jumlah team sudah sangat sedikit. Sekitar jam5 sore saya tiba di Ranukumbolo setelah memeriksa carrel ternyata masih ada tersisa sebungkus mie instan, saya kemudian memasak makanan sambil menikmati suasana sunset di danau Ranukumbolo . setelah makan 2 orang porter mengajak kami menuju Ranupani tetapi melewati arek ayek, sebuah jalur lama Gunung Semeru. jalurnya cukup terjal dan sulit. Apalagi headlamp yang kami gunakan sudah mulai redup.. dalam kegelapan malam kami melewati hutan taman Nasional Bromo tengger Semeru. Di puncak Arek Ayek kami melihat cahaya lampu desa Ranupani, dengan segera kami mempercepat langkah menuju kampung. Jam 8 tepat kami tiba di pos pendakian Ranupani. Suasana lembah di Ranupani yang sangat dingin membuat kami cepat terasa lapar, setelah makan kami pun tidur.

Jam7 pagi saya bagun dan pergi mencari signal Hp, dan menghubungi keluarga yang ada di Sulawesi dan mengabari bahwa saya baik-baik saja dan berhasil menggapai Puncak Mahameru. Saya pun sempat bercerita dan berbagi pengalaman dengan bang Erik dari Wanadri , jam demi jam berlalu tak terasa sore hari semua team mulai tiba satu per satu di ranupani. Setelah semua team lengkap kami pun meninggalkan Ranu pani sekitar jam 4 menggunakan truck menuju Tumpang , perjalanan di truck sangat mengasikkan tetapi sayang kabut tebal turun jadi pemandangan sangat terbatas. Sekitar jam 6.30 kami tiba di pasar Tumpang, dengan segera saya berpamitan dengan penumpang yang lain dikarnakan saya harus lanjut ke pulau bali dan mendaki di Gunung Agung 3147 mdpl puncak tertinggi di pulau dewata Bali.

makameru & Garis palopo

Itulah segelintir cerita singkat saya di Puncak Mahameru 3676 mdpl dalam Wild Expedition 12 Part 1, sampai jumpa di Puncak Gunung Rinjani dalam Wild Expedition 12 Part 2, Wassalam

Posting By Ayyung KPA Garis Palopo Sulawesi Selatan

Pada musim liburan ini kami berencana mau mengadakan wild expedition 11  KPA GARIS Palopo, sekaligus Pemasangan TOWER NRA Gunung Nenemori Latimojong 3397 mdpl dan juga pengambilan nomor NRA Anggota Penuh di KPA GARIS. Di dalam tiem ada juga organisasi lain yang bergabung yaitu dari Kpa Angker dan Kpa Lembah. Semua team berjumlah 8 orang diantaranya dari KPA GARIS 5 orang yaitu saya (ayyung) hamka, ari, supriadi, dan tanto , dari KPA Angker 2 orang yaitu Noz dan Amat dan Dari Kpa Lembah Virdal.

Kali ini kami menargetkan Gunung Nenemori 3397 mdpl dan Gunung Rantemario 3478 mdpl kedua-duanya adalah gunung tertinggi di pulau Sulawesi yang berada pada Pegunungan latimojong.tetapi yang menjadi sebagai target pertama adalag Gunung Nenemori 3397 mdpl.setelah mengumpul data beberapa minggu dari penduduk kampong Ulu-salu dan dari berbagai sumber-sumber yang ada kami memutuskan menggunakan jalur Timur Pegunungan latimojong yang konon sangat jarang dilalui oleh para pendaki yang ingin naik ke Atap Sulawesi.Kami berangkat dari secretariat KPA Garis pada tanggal 4 januari 2011, menggunakan sepeda motor berjumlah 3 motor kami sekitar pukul 5 pagi,, kami sengaja pergi di pagi hari agar kami tidak berjumpa dengan sang Bapak Polisi karna motor yang kami gunakan kurang lengkap bahkan ada personil tidak menggunakan helem, di tengah perjalanan menuju pasar bajo kami dihadang dengan hujan tapi tidak terlalu deras, sesekali mata kami memandang deretan Pegunungan Latimojong yang Kab. Enrekang, Luwu, dan Toraja karna ketinggianya yang mencapai lebih dari 3000 jadi dapat dilihat dari segala penjuru..

Sesampai kami di Pasar Bajo pada pukul 6 pagi..kami beristirahat sejenak di tugu perjuangan  Bajo, sambil menunggu 2 team lagi yang dating dari belopa sambil membeli perlengkapan yang belum ada sekaligus mengorek data dari Tukang Ojek yang sedang parker di pinggir jalan..Sekedar info : Apabila ingin melaui jalur ini anda dapat memulainya dari Makassar tu dari Palopo menuju Kec. Bajo Barat tepatnya Pasar lama, ongkos dari Makassar kurang lebih sekitar 70 ribu . dari bajo anda dapat menaiki Ojek menuju desa Terakhir yaitu Desa Gamaru Kec. Latimojong dengan ongkos kurang lebih sekitar 60-80 ribu tahun 2011, apabila jumlah tim anda lebih dari 10 orang disarankan anda menyewa mobil Hartop dengan ongkos 400-500 ribu “tergantung Lobi-lobi anda” apabila anda menggunakan mobil Hartop daya tampungnya bias mencapai 20-30 Orang. dijamin ongkos yang anda keluarkan tergantikan dengan melihat keindahan Pegunungan Latimojong. Apabila anda agak kekurangan modal anda dapat naik ojek dari Pasar Bajo sampai di Jembatan Lokopini sebuah jembatan yang memisahkan antara Bonelemo dan Range-range dengan Ongkos kurang lebih 10 ribu.. dari sini anda dapat berjalan kaki sampai di desa terakhir dengan melewati desa antara lain, (kadundung, Saringan kemudian tiba di Desa Gamaru “ tapi anda mesti berhati-hati apabila sampai di sebuah Persimpangan Kadundung dan Persimpangan Tibussan Jangan sampai anda salah jalan anda dapat bertanya kepada penduduk yang berlalu lalang, perjalanan dari Jembatan Lokopini Ke Desa Gamaru Sekitar Satu Harian.

Sekitar jam 7 teman yang di tunggu telah tiba, dan akhirnya team Wild Expedition 11 telah lengkap setelah mengecek semua barang-barang kamipun melanjutkan perjalanan menuju Desa Tumbubara Kec. Bajo Barat yaitu Ruma Tante saya untuk sarapan, kami tiba di sana jam 07.30. setelah sarapan dan minum tea hangat kami pun melanjutkan perjalanan menuju Desa Range-Range di sini rumah sepupuh saya, kami pun singgah untuk mengambil senter sempat berguna dalam perjalanan. Kemudian kami melanjutkan perjalanan ke Desa Kadundung, desa ini adalah percabangan jalan menuju Desa Tibussan dan Desa Ranteballa. Sesampai di persimpangan, kami bertanya kemana jalanan yang lebih baik dilalui, tapi warga menyarankan agar melewati Desa Ranteballa dikarnakan semalam hujan jadi jalan yang melalui Desa Tibussan sangat Licin, kami pun memilih jalur Ranteballa. Di tengah perjalanan kami melewati Bendungan yang sangat besar kami pun singgah dan berfoto-foto lalu melanjutkan perjalanan melalui Kande api, Tondok Tangga kemudian tiba di desa Saringan dilanjutkan ke Desa Gamaru.

Bendungan di Rante Balla

Kami pun tiba di Desa Gamaru pada pukul 2 siang. Wargapun kaget melihat kami datang dengan membawa kerel besar, setelah kami menjelaskan bahwa kami ingin mendaki di Gunung Nenemori dan Gunung Rantemario (Batu Lotong) akhirnya mereka mulai mendekat kepada kami, tetapi para gadis tetap saja lari ketika kami dekati, akhirnya seorang warga menyarankan kami untuk beristirahat di rumah Pak Dusun yaitu “Pak Rahman” malam pun kami lalui dengan riang di rumah Pak Dusun sambil bercerita tentang Pegunungan Latimojong, pak dusun berkata, gunung di sini sangat di hargai oleh warga dikarnakan mereka masih meyakini bahwa ada orang yang menetap di dalam hutan tetapi tidak terlihat “ Tau Mimbuni” postur tubunya kerdil dan sedikit menyeramkan jadi pak rahman menyarankan sedikit berhati-hati karna pendakian terakhir yaitu 3 tahun yang lalu oleh mapala STIMIK Handayani yang sempat nyasar .

Ke esokan paginya kami melanjutkan perjalanan kata warga jalan yang mesti kami lalui iyalah mengikuti pengairan warga . kami pun mengikuti sampai ke ujung ternyata Airnya sangat dingin maklumlah karna Desa Gamaru terletak di ketinggian sekitar 1500 mdpl. Kami terus mengikuti aliran Pengairan sampai ke ujung sambil terus membuka peta yang kami bawa. sejam tak terasa kami lalui dengan kaki yang terasa kaku. Sesampai di ujung kami beristirahat sejenak sambil mencari jalur warga yang terbiasa pergi ke hutan mencari anoa “manggasu” kami melihat jalur yang tertutup rapat akhirnya kami memutuskan memulai dari situ tetapi tak cukup ½ kilo jalurnya putus akhirnya kami membuka peta kemudian siap membuka jalur.

Lebatnya Hutan Latimojong

Kami mengalami kesulitan pada saat membuka jalur, hutan yang sangat lebat menutupi pandangan jadi kami agak kesulitan ditambah tumbuhannya kebanyakan Palem Hutan dan Bambu-bambu kecil, Rotan juga sangat bayak kami jumpai saat membuka jalur, sesekali saya tertawa meliat muka kusam dari team yang merasa kita melenceng dari jalur. Jam sudah menunjukan pukul 12 kami pun singgah memasak sedikit nasi karna tak ada air jadi kami memakan menta mie instant “lumayan pengganti krupuk”. Setelah makan siang kami kembali membuka jalur ternyata medan di depan sangat sulit karna kami di hadang oleh jejeran bebatuan yang sangat besar dan medan yang menajak membuat sulit para pembuka jalur.Kami harus melewati celah-celah batu sambil menghindari tusukan duri rotan, para team sering berselisi paham  tentang posisi pada Peta. Yang menambah para persedian Air hampir habis dan kami tidak menemukan anak sungai sama sekali sekitar jam 4 sore kami menemukan sebuah anak sungai yang sangat kecil kami pun memutuskan untuk camp 1, kamipun memasang tenda-tenda yang kami bawa, sebagian team memasak dan membuat kopi yang sangat banyak mumpung banyak air.malam yang kami lalui lumayan dingin karna ketinggian kami sekitar 2400 mdpl. Salah satu team yang bernama pirdal mengalami gangguan pernafasan untung saja keesokan harinya dia mau melanjutkan perjalanan walau hanya setengah hati he he he…

Hari kedua pukul 8 dimulai dengan pembukaan jalur yang sangat menanjak sampai kemiringan 80 drajat, kami berusaha menembus lebatnya hutan agar kami bisa sampai di punggungan agar pandangan kami lebih luas dan melihat disekitar. 2 jam berjalan kami menemukan sebuah sring yang sangat tua kami perkirakan beusia sekiat 5-3 tahun di sebuah punggungan , akhirnya kami bernafas lega ternyata jalur yang kami rintis tidak melenceng dari target kami terus mengikuti punggungan sesekali jalur hilang mengakibatkan kami mesti membuka jalur lagi. Setelah jam 1 kami istirahat di sebuah batu besar kami memasak mie instant karna nasi sudah kami masak di pagi hari. Sambil team memasak saya pergi mencari jalur di atas batu dan kembali lagi sting tua berwana biru saya temukan di punggungan hal ini meyakinkan saya bahwa puncak sudah dekat hal ini juga dikarnaka pepohonan di sekitar sudah kerdil dan kurus. Setelah makan siang kami melanjutkan perjalananmenuju G. Nenemori 3397 mdpl, ternyata masih sangat jauh puncak yang kami sangka dia setelah di atas ternyata di sebelahnya masih ada gunung tinggi lagi, kami pun melanjutkan perjalanan. Pada pukul 4.30 sore kami memasang camp di ketinggian 3197 mdpl. Dan malam yang kami lalui sangat dingin dan tanpa air. Kembali lagi kami memakan mie menta.

Jalur Timur Peg. Latimojong

Deretan Puncak Selatan Pe. Latimojong

Gunung Latimojong 3305 mdpl diliat dari G. Nenemori

Camp 2 elevasi 3100 mdpl

Esok pagi kami melihat pemandangan yang sangat indah sunrise yang sangat menawan dan memukau mata. Deretan Pegunungan Latimojong Selatan dan tampak dari kejauhan Gunung Latimojong dengan ketinggian 3305 mdpl. Tepat pukul 8 pagi kami melanjutkan perjalanan kami. terus berjalan dan berjalan seringkali kami salah puncak mengira puncak ternyata setelah naik masih ada yang lebih tinggi lagi. Dan akhirnya sekitar pukul 10 kami menemukan tumpukan batu yang di susun rapi dan sebuah Bendera Merah Putih yang telah kusam dan sobek ternyata akhirnya ALHAMDULILLAH kami sampai di puncak pertama Gunung Nenemori 3397 mdpl. Dan ketika kami mau melanjutkan ke Rantemario Latimojong 3478 mdpl eh..eh…H malah Hujan deras kami pun berlarian di bawah pohon dan bergegas memasang tenda karna kami tau resiko yang dapat kami hadapi yaitu penyakit hypothermia yaitu kedinginan dikarnakan posisi kami pada ketinggian yang cukup lumayan tinggi ditambah kelelahan dan baju yang basah karna hujan deras.

Puncak Gunung Nenemori Latimojong 3397 mdpl

Pegunungan Utara Latimojong

Puncak Dengan Reground G.Sikolong dan G.Rantekambola

Hujan pun tak kunjung henti, sebagian team tidur siang sambil melepas lelah… sekitar dua jam kemudian hujan pun berhenti, kami segera keluar tenda dan berjalan kembali ke punjak yang jaraknya sekitar 5 meter dari tenda sambil membawa besi Tower. Di puncak kami meliat hamparan Pegunungan Latimojong bagian Utara . kami pun mulai memasang Tower kecil kami yang sudah kami rakit pada saat hujan tadi. Seletah selesai terpasang kami pun melaksanakan upacara Pengukuhan anggota penuh KPA GARIS yaitu Supriadi dan Tanto.., setelah itu foto-foto. Samar2 terdengar suara orang dari kejauhan ternyata ada beberapa orang yang ngecamp di Pemancar “percabangan Rantemario dan Nenemori, kamipun saling berteriak dan memanggil satu dengan yang lain.

Sore pun tiba kami kembali ke tenda dan sebagian team pergi mengambil air yang jaraknya sekitar 20 m dari tenda. Malam yang kami lalui sangat dingin ternyata ngecamp di ketinggian 3397 mdpl adalah salah satu hal terbodoh, he he he.. pagi menyingsing matahari terbit begitu cerah sebagian team yang mau ke Rantemario segera sarapan dan bergegas berangkat kami pun ke puncak memantau perjalanan mereka dari kejauhan, saya dan ari tidak ke Gunung Rantemario karna tanto sudah mengalami trouble pada Kaki, jadi kami tinggal menemaninya , lagian saya dan ari sudah 2 kali ke G.Rantemario Latimojong 3478 mdpl. Sekitar jam 10 team yang pergi ke G. Rantemario telah kembali setelah makan siang semua team membongkar tenda dan berkemas segera turun. Kami pun berjalan meninggalkan puncak Nenemori 3397 mdpl pada jam 1 siang tepat.

Puncak G.Rantemario Latimojong 3478 mdpl

Sekitar 1 jam berjalan kami sampai di camp2 tanpa beristirahat kami melanjutkan perjalanan. Jam 4 pas kami beristirahat di bawah batu besar tempat kami makan siang pada hari ke 2 karna hujan turun dengan sangat deras. Hampir sejam hujan baru berhenti kami pun melanjutkan perjalan ke camp 1, setelah berjalan menyusuri punggungan dan terjalnya jalur pulang, kami pun sampai di camp 1. karna hari masih terang kami pun memaksa perjalanan menuju kampung sandal yang saya gunakan pun putus dan memaksa saya harus bertelanjang kaki di tengah-tengah jalur yang penuh duri rotan, sampailah kami di deretan batu-batu besar yang kami harus melewati celahnya, kami semua harus saling mengopor kerel karna celahnya sangat sempit ditambah jalur yang sangat licin karna hujan tadi, pokoknya hancur baget deh.

Jam sudah menunjukan pukul 6 kami pun terus berjalan akhirnya sampai di tempat kami makan siang pada hari pertama , kami pun melanjutkan perjalanan malam pun tiba dengan tenaga yang masih tersisah kami melanjutkan perjalanan dengan menggunakan 1 senter saja “untung kami singgah mengambil senter di Desa Range-range”. Kami pun memaksakan diri karna suara sungai terdengar sangat dekat, kami pun berjalan satu persatu di gelapnya hutan Pegunungan Latimojong.. jika kami menemukan jalan yang lumayan terjal setiap team turun dengan Prosotan-prosotan di atas tanah yang basah, jadi kebanyakan perjalanan pada saat gelap seperti main2 aja di dalam ketegangan yang luar biasa. Langkah demi langka akhirnya kami sampai di sungai masalah baru muncul lagi bukan lagi jalur yang terjal dan licin tetapi debit air di sungai bertambah “Banjir”, kamipun nekat menyebrang sambil memegang satu sama yang lain.

Setelah menyebrang sungai satu per satu yang sedang banjir, kami kembali harus melalui pengairan yang airnya sangat dingin sekitar 30 menit team berjalan kami singgah sejenak di kebun kopi memasak sisah makanan yaitu 4 bungkus mie instant, karna semua personil sudah kelaparan dan kelelahan, setelah mengganjal perut kami melanjutkan perjalanan tampak dari kejauhan sorot lampu penduduk menambah semangat kami. Setelah berjalan sekitar 30 menit dan ALHAMDULLAH kami pun sampai di perkampungan Desa Gamaru kami langsung menuju rumah Pak Dusun. Setelah bersih-bersih kami pun naik ke atas rumah yang di sambut riang oleh keluarga pak Rahman . ternyata kami tiba di Perkampungan tepat jam 10 malam. Pantas saja semua Team sudah tidak sanggup berjalan ternyata sudah larut malam, hanya semangatlah yang membuat kaki para team melangkah. Setelah makan malam yang di sediakan ibu Dusun, kami pun bercerita-cerita pengalaman yang tidak bisa di lupakan “ 3 hari naik-1 hari turun” sambil melepaskan gigitan pacet yang masih menempel pada kaki-kaki kami.

Pagi pun tibah di hari minggu setelah sarapan kami pun pamit dengan keluarga pak Rahman pada jam 9 dan memberinya beberapa kenang-kenangan, lalu melapor di pak Desa Gamaru sambil mengambil kendaraan kami, akhirnya kami menaiki motor dan berjalan kembali pulang tetapi kami tidak lewat rante balla , kami mengambil jalur Desa Tibussan. Sekitar jam 12 siang kami sampai di Desa Kadundung, beristirahat sejenak dan di lanjutkan ke Desa Range-range “ rumah Om saya” di sini kami makan siang dan mengembalikan senter yang sangat berjasa. Kami pun melanjutkan ke Desa Tumbu Bara, kami singgah di sungai mencuci semua peralatan sambil meminum air buah kelapa yang menyegarkan, ternyata orang tua saya juga datang ke kampung,  memang setiap hari minggu orang tua saya pergi ke kebun mengunjungi tanamannya. .kebetulan Peralatan yang kami cuci sebagian sudah kering kami pun menaikkan semua barang di mobil ayah saya agar kami bisa kembali ke Palopo dengan santai. Setelah menaikkan semua barang kami pun melanjutkan perjalanan menuju Palopo, di tengah perjalanan kami melihat agungnya Pegunungan Latimojong yang berdiri sangat Angkuh dan perkasa, tepat pukul 6 sore kami semua tiba di Sekretariat KPA GARIS Palopo, dan semua Team mengucapkan. Alhamdullahi Rabbil Alamin.

Tower NRA G. Nenemori Latimojong 3397 mdpl

Pegunungan Latimojong Utara

Itulah cerita perjalanan kami dalam Wild Expedition 11 KPA GARIS Palopo, di Pegunungan latimojong, semoga dapat menjadi bacaan yang menarik dan bermanfaat bagi kita semua. AMIN

Terimah kasih kepada :

  • Tuhan yang maha esa allah swt.
  • Istriku yang Tercinta dan anakku Mario
  • Seluruh Anggota Kpa Garis Palopo
  • Keluarga Pak Dusun Desa Gamaru
  • Tante di Desa Tumbu Bara
  • Gunung Rantemario dan Nenemori atas segala ke indahannya

Saran :

  • Perhatikan suplay air
  • Jarak jangan terlalu jauh
  • Membawa Kompas dan Peta
  • Jangan menegur apabila mendegar atau melihat yang aneh-aneh
  • Membawa masing-masing SB dan peralatan tahan dingin
  • Perbanyak sring atau tanda-tanda jalan
  • Membawa kantong air sebanyak-banyaknya
  • bawalah Pisau tebas yang panjang dan tajam

Catatan :

  • Gunung Rantemario dan Nenemori adalah Puncak Tertinggi di Pulau Sulawesi Sulawesi
  • Terdapat tiang tanggulasi di kedua Gunung tersebut
  • Usahakan mengorek banyak data di Desa Gamaru tentang Pegunungan Latimojong

Expedisi kali ini mengambil tempat di Gunung Balease dengan 8 personil bisa di kata expedition Gabungan yaitu : KPA GARIS Palopo, Green Ranger Teater Toraja, Gempa Toraja, KPA Pacet, Tribulu Toraja, KPA Zheto Bone dan Cruw Studio 50 FM Toraja. dan perlu di Garis Bawahi Expedition kali Ini memakan waktu terlama yaitu 12 hari.. untuk laporannya lagi menunggu LPJ dari Personel yang berangkat, ( BERSAMBUNG )

Gunung Gandang Dewata adalah salah satu gunung tertinggi yang terletak di kawasan bagian Barat Sulawesi (pegunungan Quarlesi) dan gunung tertinggi kedua di Sulawesi setelah gunung Latimojong (3478 Mdpl) yang terletak di kabupaten Enrekang. Gunung Gandang Dewata tepat berada di kabupaten Mamasa berbatasan dengan kabupaten Mamuju yang mempunyai ketinggian 3037 mdpl

Sejarah gunung ini diberi nama Gandang Dewata yaitu apabila ada orang yang masuk hutan, apakah dia mau mengambil hasil hutan atau mendaki, maka apabila terdengar suara gendang dari puncak gunung berarti orang tersebut sudah meninggal. Yang menjadi misterinya adalah siapa yang memukul gendang itu?.
Kalau rasio ingin menjangkau hal seperti itu adalah hal yang

mustahil. Dari kota Mamasa saja gunung Gandang Dewata tidak terlihat, yang terlihat hanya gunung Mambulilling (2573 Mdpl) yaitu gunung pertama dari tujuh gunung sebelum gunung Gandang Dewata.jalur menuju Gandang Dewata hingga puncak pertama kali dirintis oleh warga setempat pada tahun 1963. selanjutnya pada tahun 1993, mapala dari salah satu pengurus tinggi di Yogyakarta melakukan pendakian. Sejak itu, mulailah dikenal istilah adanya pos 10 di gunung ini.

Untuk sampai kepuncak gunung, harus melewati 10 pos dengan kondisi medan yang sangat berat. Pendaki harus melintasi 9 gunung, yakni Gunung Lante Bobbok, parandangan, Pappandangan, Lantang Lomo, Lombok Silenda, Damak-damak, Penga, Naik Daeng dan terakhir Gandang Dewata. Maka dari itu kami dari KPA GARIS Palopo ingin menaklukkan dan menapakkan kaki di puncak gunung gandang dewata tersebut dalam wild Expedition 9.

Gunung yang terletak dibawah pengawasan administratif tiga kabupaten ini yaitu, Kabupaten Mamasa, Kabupaten Mamuju dan Kabupaten Kalumpang di propinsi Sulawesi Barat. Puncak gunung ini juga merupakan puncak tertinggi dari jejeran pegunungan yang terbesar di pulau Sulawesi yaitu pegunungan Quarles. Butuh waktu 7 hingga 15 hari di lapangan, yang dikarenakan lokasinya yang cukup rumit dan susahnya akses transportasi. Hal ini menyebabkan gunung ini jarang sekali didaki. Namun keindahan pemandangan dari puncak gunung ini tidak kalah dengan gunung lainnya.

Sebenarnya jumlah personil untuk wild espedition ke 9 ini awalnya berjumlah 10 orang lebih tapi karna banyaknya halangan akhirnya kami berangkat hanya bertiga yaitu : saya ayyung dari KPA Garis andry dari KPA Ranting dan yang terakhir adalah Mail dari KPA Walet. Kami berangkat dari palopo minggu  27 juni 2010 dari polmas lanjut ke mamasa dengan membayar 50 ribu dengan jalan yang jelek dan penuh dengan lumpur. Tepat jam 9pm kami tiba di rumah pak daud. Pak daud adalah mantan Mantri kesehatan tetapi dia juga di jadikan sebagai juru kunci Gunung Gandang Dewata 3037 mdpl. Kalau mau menuju kota mamasa sebaiknya hari senin dan kamis karna pada hari itu adalah hari pasar ramai di mamasa tentunya banyak kendaraan.

Pada pagi hari senin sebelum memulai perjalanan kami di suru oleh pak daud untuk melapor di kapolsek. Kami diberi waktu 10 hari untuk mendaki puncak pegunungan Quarles itu. Setelah melapor kami di lepas oleh pak daud.. kami start sekitar jam 11am dari kampung baru ke desa terakhir yaitu rante pongkok, sebenarnya ada ojek untuk ke sana dengan bayaran sekitar 15 ribu tapi kami memilih berjalan kaki sekalian pemanasan. Disepanjang perjalanan menuju rante pongkok kami disapa oleh penduduk dengan sangat ramah.Selepas dari kampung rante pongkok kami memasuki persawahan, kemudian dilanjutkan jalanan setapak menyusuri pinggiran sungai setelah melewati sungai kami sampai di percabangan semestinya kami memilih jalan terus tetapi karena hujan yang cukup lebat kami tak melihat tanda-tanda tak sengajah kami membelok ke arah atas menuju kebun warga.mungkin sekitar  2kilometer mendaki kami bertemu dengan pak tani.kami pun bertanya jalan menuju pos1 ke arah mana, sambil tersenyum pak petani menjawab kamu salah jalan sebenarnya percabangan ada di daerah bawah .

Akhirnya kami memutuskan untuk kembali di persimpangan dan memilih jalur yang tepat menuju pos1. Kami menyusuri pinggir sungai sekitar 30 menit dari persimpangan kami menemukan sungai kecil dan disitu terdapat persimpangan tetapi sudah banyak tanda-tanda di sepanjang sungai. Ketika menemukan sungai kecil jalan sudah menanjak dan lumayan licin di atas sungai itu terdapat tanah datar dengan diameter  6 m2, kami akhirnya memasang tenda di tempat itu karna tenaga kami sudah terkuras dengan salah jalur sebelumnya.malam itu kami lalui dengan kurang nyaman karna banyak nyamuk yang masuk kedalam tenda…. :

Keesokan harinya kami melanjutkan perjalan tanpa sarapan karna kami tahu ada sungai di jalur berikutnya dan kami memutuskan sarapan di pinggir sungai setelah menyebrang kami menemukan pos 1 tepat di pinggir sungai, setelah sarapan kami memutuskan melanjutkan perjalanan ke pos 2, dengan tanjakan yang sangat berat dengan rempetan vegetasi pohon Pandan Hutan dan Pakis Haji, kami sampai di pos 2 sekitar jam 11am setelah pemasangan pos2KPA GARIS kami melanjutkan tak lama kami berjalan hujanpun turun dengan deras dan tiba-tiba pergelangan lutut saya sangat sakit, sesampai di pondok saya memutuskan untuk istirahat untuk hari itu karna lutut saya sudah tak tertahankan kami pun memasang POS3 KPA GARIS.sore itu saya gunukan untuk memulihkan lutut saya yang cedera. Malam yang kami lalui di hari kedua juga kurang menyenangkan biasa lah MISTIK RIMBA.

Pagi pun tiba, setelah sarapan dan beres-beres kami langsung melanjutkan perjalan sekitar jam 8am, sedikit menurun  kemudian menanjak sekitar sejam berjalan sampailah di sebuah punggungan istirahat sejenak kemudian menurun dan sampailah di pos4 di sini bisa untuk 2 tenda dan sumber air dekat, dari pos 4 menurun menemukan sebuah anak sungai karna hujan turun dengan deras jam juga menunjukan jam 11am, kami singgah untuk makan siang tetapi cuaca bertambah dingin maka kami putuskan untuk makan di punggungan gunung yang ada di depan mata. Kami pun melanjutkan perjalanan jam 2pm tepat kami tiba di sebuah punggungan di situ kami makan siang dan istirahat sejenak sambil memijat lutut saya yang tak kunjung sembuh… sekitar jam 2.30pm kami melanjutkan perjalanan menuruni bukit dan tiba di sebuah tempat yang agak luas kami pun memasang tenda dan nge-camp di tempat itu karna jam juga sudah menunjukan jam 3pm..malam yang cukup tenang di sinari cahaya rembulan mewarnai camp3 kami.

Puncak Gandang Dewata setelah 3 hari perjalanan

Dari Camp3 kami melanjutkan ke pos 5 sekitar jam 8.50am tampa sarapan dikarnakan cadangan air sudah habis. janannya cukup panjang dan menurun melewati punggungan dari situ kami melihat pucuk puncak gandang dewata yang terlihat sangat biru dan kecil, melihat itu kami jadi bersemangat berjalan

Sekitar jam 10am kami sampai di pos5 di sini terdapat juga sebuah camp dan sungai yang lumayan besar, disini kami sarapan sekaligus makan siang. Sesudah sarapan melanjutkan penyebrangan basa dan melewati pinggiran tebing ada sekitar 5 kali penyebrangan basa, bila debit air melimpah disarankan penyebrangan menggunakan webing atau tali..setelah menyebrang sungai kita di sambut dengan tanjakan kemudian melewati punggungan dan tibalah kami di pos 6, disini agak luas bisa untuk 2 tenda tak ada sumber air. Dari pos 6 kami menurun dan menemukan sebuah patahan lungsor kemudian sebuah daerah agak datar kami pun memasang tenda dan nge-camp4 di tempat itu malam yang kami lalui sangat nyaman sayang tanahnya agak miring jadi tidurnya juga susah,

Esok paginya setelah sarapan kami langsung melanjutkan ke pos berikutnya yaitu pos 7 tetapi melewati jalan yang curam sehingga kami seringkali terperosot jatuh.pos7 ini dekat dengan air terjun dan bisa juga ngekemp di sini cukup untuk 4 tenda tapi harus berhati-hati karna kayaknya agak gimana gitu ?????, setelah menyebrang air terjun kami disambut tanjakan yang sangat berat dan agak panjang dengan susah payah mendaki akhirnya tiba di pos8 pada jam 12am. Pos ini bisa dijadicamp darurat dapat menampung 3 tenda tetapi sumber air tidak ada di tempat ini camp ini terdapat sebuah pohun damar yang sangat besar dan getahnya bisa dijadikan pemancing api buat perapian. Karna hari jumat jadi kami memutuskan untuk istirahat nanti dilanjutkan kembali pada jam 1pm. Setelah istirahat kami melanjutkan ke pos berikutnya jalurnya masih menanjak tetapi tak terasa karna kami juga mencari buah kalpataru yang jatuh, pos9 sangat bagus sekali untuk camp bisa menampung 5 tenda tetapi tak ada sumber air karna hari belum terlalu gelap kami melanjutkan perjalanan, setelah pos 9 kami menanjak lagi tanahnya agak gersang dan banyak ditumbuhi bambu-bambu kecil, di sini tenaga kami sudah terkuras habis karna perjalanan yang sudah mencapai hari ke lima, jam menunjukan ukul 4pm kami terpaksa camp di sebuah tanah datar karna cuaca kayaknya tak bersahat kabut mulai turun dan di khawatirkan tak ada tempat yang cocok kami temukan di atas sana..kami pun memasang tenda dan nge-camp yang ke 5, malam yang kami lewati penuh dengan angin kencang dan hujan yang lumayan deras tetapi sesaat…

Pagi tiba tanpa sarapan kami meninggalkan tenda dan menuju ke puncak karna menurut analisa kami puncak sudah sangat dekat, sayapun mengambil besi yang akan saya pasang di puncak sebagai TOWER NRA KPA GARIS Palopo, menanjak sedikit kemudian melewati bekas longsoran kemudian menanjak lagi sesampai di punggungan jalur ke puncak agak melandai. Dan Alhamdulillah tepat jam 9 kami tiba di Puncak Tertinggi di Sulawesi Barat yaitu G.Gandang Dewata 3037 MDPL. Saya pun langsung sujud sukur karna dibrikan kekuatan oleh allah swt. Sehingga dapat sampai di puncak dengan kondisi lutut yang troubel.sambil istirahat sayapun memasang dan merancang besi tower saya.sekitar sejam kami Foto-foto dan kibar bendera kami kembali ketenda untuk sarapan dan kemudian beres-beres tepat jam 10 kami berjalan kembali pulang melewati terjalnya jalan pulang pos9 telah terlewat kami tiba di pos8 pada jam 11, kami istirahat sejenak kemudian berjal kembali sesampai di pos 7 kami di sambut dengan tanjakan hebat, sehingga membuat semua personil drop dan terpaksa nge-camp di tempat kami pada hari ke 4malam itu lumayan nyaman karna kami bercerita sambil ngopi bertiga, tetapi kompor yang kami bawa bermasalah jadi agak lama masaknya.

Pagi tiba jam 8am seperti biasa tanpa sarapan kami langsung berjalan kami disambut tanjakan menuju pos 6, dari pos 6 jalan agak melandai kemudian menurun, lalu penyebrangan basah menuju pos 5, hati-hati string di jalur ini agak jarang jadi mata harus jeli melihat tanda-tanda, sesampai di pos5 kami sarapan sambil makan siang dan melanjutkan ke pos berikutnya.

dari pos lima menuju pos empat lumayan sulit karna tanjakan yang cukup panjang sengingga mendapat tempat camp kami yang ke3 di sini kami istirahat sejenak lalu lanjut ke punggungan dari punggungan kami memantau cuaca ternyata dapat di lanjutkan meski agak mendung, dari punggungan kami menurun kemudian sampai di anak sungai tanpa istirahat kami melanjutkan ke pos4

di pos 4 mail sudah tak sanggup berjalan karna trobel pada lutut sehingga memaksa kami untuk nge-camp ke7 di pos4, karna kompor yang bermasalah akhirnya kami memasak menggunakan ranting-ranting kering malam yang kami lalui sangat tidak bersahabat karna hujan yang terus turun di sepanjang malam.

Pagi tiba tanpa sarapan kami lanjutkan perjalanan menanjak ke punggungan, di punggungan ini kami dapat melihat kota mamasa dari kejauhan, kemudian turun ke pos3, di pos tiga kami sarapan tak lupa saya munghubungi istri saya di palopo mengabari kondisi kami yang baik-baik saja setelah itu melanjutkan perjalanan menuju pos2 dan sangat banyak kalpataru di perjalanan tersebut, di pos 2 tanpa  lama-lama kami lanjut ke pos 1 jalur inilah yang sangat susah bagi kami bertiga karna jalur dari pos2 ke 3 merupakan turunan hebat dan curam apalagi diperparah dengan hujan semalaman, kami hanya bisa pasrah apa bila terjatuh dan terguling, dengan susah payah kami sampai di pos1, menyebrang sungai kemudian melanjutkan perjalanan ke rante ponggkok.

di perjalanan menuju rante pongkok kami di sambut sapaan dari masyarakat dan tak lupa foto-foto “meski kaki sakit bro” dari rante pongkok kami melanjutkan ke kampung baru tepat jam 3 kami tiba di rumah bapak daud juru kunci gandang dewata, saya pun langsung bersih-bersih dan pergi melapor ke kapolsek mamasa melaporkan bahwa tim kami sukses sampai di puncak dan kembali dengan selamat.

Setelah berpamitan dengan bapak daud kami langsung pulang ke Palopo,kami tiba di palopo pada jam 4am hari selasa tanggal 6 juli 2010 dengan sehat wall afiat.amin ya rabbal alamin.

Kalpataru Gunung Gandang Dewata

Itulah sedikit cerita perjalanan kami dalam Wild Expedition IX KPA GARIS Palopo dalam menaklukkan Puncak Gunung Gandang Dewata 3037 mdpl SUL_BAR semoga ada manfaatnya bagi pembaca terimah kasih…

Terimah kasih kepada :

  • Tuhan yang maha esa allah swt.
  • istriku yang Tercinta dan Anakku “Mario”
  • Seluruh Anggota Kpa Garis Palopo
  • Bapak Daud
  • Gunung Gandang Dewata atas segala ke indahannya

Saran :

  • Membawa suplay air
  • hati-hati Nyamuk
  • usakan mendaki sebelum sore karna kabut dapt menghalangi pandangan
  • Jangan menegur apabila mendegar atau melihat yang aneh-aneh

Catatan :

  • Gunung GANDANG DEWATA adalah Puncak tertinggi dan tersulit di SULBAR
  • Butuh sekitar 7-15 perjalanan tergantung Kekuatan si Pendaki
  • terdapat tiang tanggulasi kecil dan Tower NRA KPA GARIS Palopo

Didalam Wild Expedition 8 kali ini Kami mengambil Gunung Rantemario 3478 mdpl di Pegunungan Latimojong, sekaligus pengambilan NRA bagi Anggota baru di KPA GARIS , Perjalanan kami di mulai dari Sekertariat pada hari senin jam 6 pagi, kami sengaja pagi-pagi pergi karna takut ama Police abis surat-surat kami ngak lengkap ha..ha..ha.

Gunung Rantemario 3440 mdpl