Archive for the ‘Flora’ Category

Anggrek Larat (Dendrobium phalaenopsis) termasuk anggrek langka dari Maluku. Bahkan anggrek Larat termasuk satu dari 12 spesies anggrek langka yang dilindungi di Indonesia. Anggrek Larat (Dendrobium phalaenopsis) juga ditetapkan sebagai flora identitas provinsi Maluku.

Anggrek ini dinamakan Anggrek Larat lantaran pertama kali ditemukan di pulau Larat, Tanimbar, Maluku. Namun lantaran keindahannya itu, semakin hari anggrek larat semakin langka di habitat aslinya.

Anggrek Larat yang dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Cooktown Orchid, berkerabat dekat dengan beberapa jenis anggrek lainnya seperti Anggrek Merpati, Anggrek Albert, Anggrek Stuberi, Anggrek Jamrud, Anggrek Karawai, dan Anggrek Kelembai. Dalam bahasa latin tumbuhan ini dikenal sebagai Dendrobium phalaenopsis dengan sinonim

Vappodes phalaenopsis, dan Dendrobium bigibbum.Anggrek Larat (Dendrobium phalaenopsis)Diskripsi Anggrek Larat. Anggrek Larat yang ditetapkan sebagai flora identitas provinsi Maluku ini mempunyai batang berbentuk gada dengan pangkal berukuran kecil, bagian tengah membesar dan ujungnya mengecil kembali. Daun Anggrek Larat (Dendrobium phalaenopsis) berbentuk lanset dengan ujung tidak simetris. Panjang daunnya kira-kira 12 cm, dengan lebar kira-kira 2 cm.

Bunga Anggrek Larat berwarna keungunan pucat hingga ungu tua. Tersusun dalam bentuk tandan yang tumbuh pada buku-buku batangnya, agak menggantung. Panjang tandan bunganya kurang lebih 60 cm dengan jumlah bunga tiap tandan 6 – 24 kuntum. Masing-masing bunga bergaris tengah kurang lebih 6 cm. Daun Kelopak berbentuk lanset, berwarna keunguan. Daun Mahkota lebih pendek, tetapi lebih lebar dari pada kelopaknya. Pangkalnya sempit dengan ujungnya runcing dan berwarna keunguan. Bibir bertajuk tiga membentuk corong dengan tajuk tengahnya yang lebar, runcing atau meruncing. Buah berbentuk jorong, panjang 3,2 cm namun bunganya jarang menjadi buah. Anggrek Larat (Dendrobium phalaenopsis)

Anggrek Larat (Dendrobium phalaenopsis) yang pertama kali di temukan di pulau Larat, Maluku tumbuh baik di daerah panas, pada ketinggian antara 0 – 150 m dpl. Di habitat aslinya, Anggrek yang dijadikan bunga maskot provinsi Maluku ini tumbuh pada pohon-pohonan dan karang-karangan kapur yang mendapat sinar matahari cukup.

Konservasi Anggrek Larat. Anggrek Larat pernah menjadi sangat terkenal di kalangan para pecinta Anggrek, di samping Anggrek Bulan (Phalaenopsis amabilis). Karenanya hingga saat ini banyak sekali anggrek hibrida komersial dendrobium yang merupakan hasil persilangan dari anggrek spesies (anggrek alami) jenis ini. Anggrek Larat (Dendrobium phalaenopsis)

Mungkin lantaran itu, di habitat aslinya anggrek Larat semakin langka dan terancam punah. Bunga anggrek yang kemudian ditetapkan sebagai flora identitas provinsi Maluku ini akhirnya ditetapkan menjadfi salah satu dari 12 spesies Anggrek yang langka dan dilindungi di Indonesia berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999.

Semoga Si Ungu dari pulau Larat ini masih berkesempatan untuk menebarkan pesona keindahanya di habitat aslinya.

Klasifikasi Ilmiah. Kerajaan: Plantae; Divisi: Magnoliophyta; Kelas: Liliopsida; Ordo: Orchidales; Famili: Orchidaceae; Genus: Dendrobium; Spesies: Dendrobium phalaenopsis.

Anggrek Dendrobium Cruminatum

Posted: February 1, 2011 in Flora

Dendrobium crumenatum 256x300 Anggrek Dendrobium cruminatumDivisi       :    Magnoliophyta
Kelas        :    Liliopsida
Bangsa    :    Orchidales
Suku        :    Orchidaceae
Marga     :    Dendrobium
Jenis       :    Dendrobium crumenatum Swartz.
Sinonim              :    Tidak diketahui
Nama Umum    :    Anggrek merpati
Nama Daerah   :    Angrek japati
Nama Asing      :    Tidak diketahui

Dendrobium crumenatum atau yang lebih dikenal dengan nama Anggrek merpati adalah salah satu jenis anggrek alam yang sangat mudah pemeliharaannya. Anggrek ini memiliki cukup banyak variasi dalam bentuk dan ukuran bunga. Warna khas nya yang putih bersih ditambah aroma harum semerbak merupakan kelebihan anggrek ini dibanding kerabatnya yang lain. Anggrek ini memiliki adaptasi yang sangat luas mulai dari dataran rendah hingga dataran tinggi. Saat musim berbunga tiba, seluruh kuntum umumnya akan mekar serentak. Hanya saja, lama mekarnya tidak lebih dari 1 hari. Kelebihan lain anggrek ini adalah toleran terhadap kekeringan, kemampuan menghasilkan keiki (anakan) yang sangat tinggi, tingkat pertumbuhan akar dan tunas yang cepat, serta tahan terhadap berbagai rentang intensitas cahaya yang kuat.

Anggrek ini amat sangat dianjurkan untuk para pemula, bahkan yang sekedar iseng sekalipun. Bagi temen-temen awam yang ingin mengetahui dunia anggrek, tentu sangatlah penting untuk mencoba memulai dengan anggrek ini. Tidak perlu khawatir apalagi cemas apabila merasa belum berpengalaman memelihara anggrek sebelumnya. Bahkan kita akan dibuat keheranan dengan ketangguhan anggrek ini untuk bertahan hidup. Sangatlah pantas bila Dendrobium crumenatum si Anggrek merpati ditempatkan pada posisi terhormat.

Apabila anda berminat untuk mencoba memeliharanya, cobalah iseng-iseng mengamati kebun tetangga sebelah, apabila anda meminta dengan baik-baik, saya sangat yakin anda akan diberi setidaknya 2-3 batang atau bahkan lebih. Apabila masih kesulitan juga, silahkan bertamasya di kawasan pegunungan atau kawasan hutan, disana anda akan banyak menemui pedagang anggrek menjual tanaman ini, atau jika beruntung anda cukup memungut beberapa batang anggrek merpati langsung dari pepohonan. Masih kesulitan juga ??!!…..dengan sangat-sangat berbahagia rekan-rekan di milis anggrek akan berbagi koleksi Anggrek merpatinya secara cuma-cuma alias gratis…mungkin hanya mengganti ongkos kirim apabila tempatnya jauh. Merpati adalah lambang kesetiaan, persahabatan, dan kesetiakawanan sosial…maka selayaknyalah anggrek ini dijadikan simbol persahabatan antar penggemar anggrek.

Informasi budidaya : Dendrobium crumenatum (Anggrek merpati) dapat dipisah dengan mudah dari rumpunnya. Pisahkan sedikitnya 2 batang besar atau 3-4 batang ukuran kecil. Kemudian bungkus bagian pangkal batang bawah yang memiliki akar dengan sedikit sabut kelapa yang sudah dibasahi terlebih dahulu. Setelah dibungkus, tanaman ini di tempelkan pada sekeping pakis atau di tanam dalam pot berisi potongan pakis/arang. Letakkan pada tempat yang teduh selama 2-3 minggu, hingga akar baru telah tumbuh dan tanaman tampak kuat. Pindahkan tanaman ditempat yang lebih terang dengan terus memelihara kelembaban pada medianya. Saat tunas-tunas baru telah tumbuh dan menjadi rumpun dewasa, maka puluhan kuntum bunga akan segera menyemarakkan hasil jerih payah anda. Tidak perlu khawatir terlalu lama menunggu, karena anggrek ini telah dikenal memiliki laju partumbuhan yang cepat.

Anggrek Cymbidium finlaysonianum

Posted: February 1, 2011 in Flora

Phalaenopsis bellina11 300x225 Anggrek Cymbidium finlaysonianumDi Kalimantan Barat anggrek ini dinamakan sakat lidah ular tedung atau lau pandan. Orang sumatera mengenalnya dengan nama anggrek pandan, karena perawakannya memang sekilas menyerupai pandan. Untuk membedakannya dengan anggrek lainnya yang perawakannya mirip pandan seperti Vanda tricolor, anggrek ini diberi nama “anggrek lidah ular”.

Tumbuhan ini hidup menumpang pada pohon-pohon besar. Tumbuhnya merumpun karena tunas-tunas yang keluar disekitar tumbuhan induk. Batangnya sangat pendek dan tertutup rapat oleh pelepah daun. Daunnya berbentuk pita, tebal dan kaku, ujungnya membelah dua. Lebar daun antara 2-3 cm, terkadang pada kondisi subur, daunnya dapat mencapai satu meter panjangnya. Memiliki akar lekat dan akar udara. Akar lekatnya berdiameter lebih besar dan agak memipih dengan penebalan jaringan meristem ganda berwarna keputihan. Bunganya tersusun dalam tandan yang panjangnya dapat mencapai 1 meter lebih, menjuntai kebawah menyerupai lidah ular. Dalam satu rumpun dapat muncul beberapa tandan bunga sekaligus. Terdapat 15-30 kuntum bunga pada setiap tandannya. Masing-masing bunga bergaris tengah 6 cm. Sepalnya berbentuk lanset, membentuk bintang. Warnanya kuning semburat kemerahan. Lidahnya berwarna merah marun dengan corak putih yang mencolok.

Anggrek ini dijumpai tumbuh liar di tempat-tempat yang sedikit terbuka, di hutan jati dan hutan campuran. Tumbuh pada ketinggian antara 5-300 m dpl. Di tempat-tempat tersebut anggrek ini berbunga sepanjang tahun. Setiap kuntum bunga dapat bertahan mekar selama 12 hari. Penyebaran anggrek ini sangat luas, Indonesia, Filipina, Burma, Laos, Kamboja, Vietnam, Thailand, dan Malaysia. Karena anggrek ini sangat mudah dipelihara maka sekarang jenis ini banyak dibudidayakan orang.

Rotan Lambang ( Calamus Sp)

Posted: February 1, 2011 in Flora

Rotan Lambang (Calamus sp) :

  • Hidup berumpun, tumbuh dipinggir sungai/dataran rendah dan juga ditemui di pegunungan.
  • Ruas batang nyata, warna batang hijau muda kekuning-kuningan, panjang ruas 25 – 40 cm diameter batang 1-2 cm merata sampai ujung, buku pada ruas melingkar rata dan berwarna hutam dimana ruas pada bagian bawah buku besar dan ruas pada bagian atas mengecil dan merata sampai keujung batang.
  • Permukaan batang licin dan mengkilap.
  • pada rotan yang tiap panen batangnya/bekas pelepah sepanjang ± 16 – 60 meter pada ujung batang kurang lebih 4 meter terdapat daun.
  • Pada ujung batang terdapat pelepah daun berbentuk menonjol berbuku, pelepah daun berduri pada pinggir kiri dan kanan kira-kira 20 – 30 cm dari pelepah duri menghadap kebawah miring 45o, ujung pelepah terdapat sulur panjat dengan panjang kurang lebih 2 – 3 meter berfungsi sebagai alat panjat dengan duri berpasangan 4 – 5 berjarak 3 cm, naik keujung semakin rapat.
  • Bentuk daun memanjang dengan panjang daun kurang lebih 20 – 50 cm, lebar daun 3 – 6 cm. Warna daun hijau, pada bagian bawah daun terdapat 4 tulang daun yang memiliki duri halus berjarak 2 – 3 cm.
  • Ujung daun meruncing berbulu halus, makin ke ujung buluh makin rapat, pada sepanjang tepi daun berduri halus.
  • Jenis rotan ini tidak banyak digunakan karena kwalitasnya jelek dan mengandung kadar air yang tinggi dan cepat kusut.
  • Permudaannya daun melonjong,pada pangkal pelepah duri panjang halus seperti jarum, jarang dan berakar serabut.

Jenis Rotan Umbul (Calamus sympisipus)

Posted: February 1, 2011 in Flora

Jenis Rotan Umbul (Calamus sympisipus)

  • Hidup soliter, tempat tumbuh menyebar dari daerah dataran rendah (pinggiran sungai) sampai pada daerah dataran tinggi dan berbukit.
  • Batang berwarna kuning cemerlang kehijau-hijauan selindris, beralur, batang dari pangkal sampai ujung semakin besar, panjang ruas batang antara 25 – 40 cm, diameter batang pada bagian ujung 2 – 4 cm.
  • Ruas buku melingkar lurus berwarna seperti warna batang dan nampak jelas.   Panjang batang kurang lebih 15 – 60 meter, batang terbungkus pelepah daun dan terdapat pasangan duri yang menghadap kebawah melingkar menyerupai spiral, panjang duri 3 – 5 mm, berwarna kuning.
  • Pada ujung pelepah terdapat sulur panjat satu buah, kemudian pada bagian tengah berpasangan dua dan pada bagian ujung berpasangan tiga, dimana jarak antara pasang an duri yang dengan pasangan duri lainnya 1 – 2,5 cm.
  • Pelepah yang sudah tua mudah terlepas dan rapuh, pada pangkal pelepah terdapat pembungkus.
  • Tangkai daun berduri jarang dan terletak pada bagian bawah.
  • Helai daun berpasangan terdiri atas 4 – 5 helai daun, pada kiri dan kanan tangkai daun, pada bagian ujungnya berpasangan masing-masing satu.
  • Bentuk daun menyirip panjang ujungnya berbulu halus, dipinggir helai daun berduri halus menghadap keujung daun, warna daun hijau mengkilap permukaannya licin daun bagian bawah berwarna kecoklat-coklatan dan keputih-putihan, panjang daun 15 – 25 cm, lebar daun 2 – 4 cm. Tulang daun memanjang mengikuti panjang daun.
  • Malai bunga muncul pada bagian pangkal daun dan ujung batang terdapat selendang yang membungkus malai, kemudian bunga mekar panjang tandan bunga 50 – 75 cm, tangkai bunga terletak helai bunga kutang lebih 20 helai bunga.
  • Buah bersisik, berwarna putih susu dan ujung sisik berbentuk bulat dan masuk kedalam saling menutup, warna pinggir sisik coklat tua, tiap tangkai buah berkelompok.
  • Ciri khas batang mudah lentur dan tidak rusak serta kulit batang tidak pecah bila dibengkokkan.
  • Tumbuh melingkar, menjulur dan kadang-kadang kembali ketanah.
  • Pada anakan, tiap helai daun terbelah dua menyerupai gunting, berwarna hijau terang sedangkan bagian bawah daun berwarna coklat berspora.
  • Jenis ini bernilai ekonomis dan laku di pasaran pada umumnya digunakan untuk mebelair.

Jenis Rotan Tohiti (Calamus inops Becc)

Posted: February 1, 2011 in Flora

Jenis Rotan Tohiti (Calamus inops Becc) :

  • Hidup soliter, tumbuh menyebar secara merata pada ketinggian 300 – 1200 m, batang dari pangkal sampai keujung semakin besar, warna batang hijau tua, licin, panjang batang 15 – 120 m, tumbuh vertikal ke atas kemudian melilit pada pohon disekitarnya. Diameter batang pada pangkal 0,8 – 2 cm pada ujung antara 2 – 4 cm dan panjang ruas antara 20 – 35 cm sama besar sampai keujung batang, buku pada ruas melingkar miring, berwarna hitam dan berlekuk.
  • Pelepah daun membungkus batang pada permukaan pelepah dipenuhi oleh duri yang rapat dan tidak beraturan. Semakin keujung tangkai daun durinya semakin kecil.
  • Ujung tangkai daun membentuk cambuk dan terdapat duri pengait, tiap pengait terdapat 5 duri dan masing-masing duri berjarak 1 – 2 cm.
  • Daun menyirip berselang seling, ujung daun lancip berbulu halus, warna permukaan daun hijau mengkilap, sedang pada bagian bawah daun berwarna hijau buram. Tulang daun nyata, berduri halus dengan panjang antara 5 – 7 cm, ujung duri berwarna coklat muda.
  • Ciri khas, bila batang dilenturkan kulit batang pecah dan berbekas.
  • Jenis rotan ini bernilai ekonomis tinggi dan merupakan komoditi ekspor, juga untuk bahan mebelair

Rotan (Calamus rotang)

Posted: February 1, 2011 in Flora

DSC02343 225x300 Rotan (Calamus rotang)Rotan adalah sekelompok palma dari puak (tribus) Calameae yang memiliki habitus memanjat, terutama Calamus, Daemonorops, dan Oncocalamus. Puak Calameae sendiri terdiri dari sekitar enam ratus anggota, dengan daerah persebaran di bagian tropis Afrika, Asia dan Australasia. Ke dalam puak ini termasuk pula marga Salacca ( misalnya salak), Metroxylon (misalnya rumbia/sagu), serta Pigafetta yang tidak memanjat, dan secara tradisional tidak digolongkan sebagai rotan.

Batang rotan biasanya langsing dengan diameter 2-5cm, beruas-ruas panjang, tidak berongga, dan banyak yang dilindungi oleh duri-duri panjang, keras, dan tajam. Duri ini berfungsi sebagai alat pertahanan diri dari herbivora, sekaligus membantu pemanjatan, karena rotan tidak dilengkapi dengan sulur. Suatu batang rotan dapat mencapai panjang ratusan meter. Batang rotan mengeluarkan air jika ditebas dan dapat digunakan sebagai cara bertahan hidup di alam bebas. Badak jawa diketahui juga menjadikan rotan sebagai salah satu menunya.

Rotan dalam struktur dunia tumbuh-tumbuhan termasuk Divisio Spermatophyta, sub divisio Angiospermae, class Monocotyledonae, Ordo Spacadiciflorae dan Famili/suku Palmae, dimana sampai saat ini sudah dikenal sebanyak 15 suku yaitu : Calamus, Daemonorops, Khorthalsia, Plectocomia, Ceratolobus, Plectocomiopsis, Myrialepis, Calospatha, Bejaudia, Cornera, Schizospatha, Eremospatha, Ancitrophylum dan Oncocalamus.

Dari jumlah suku yang telah ditemukan tersebut, telah diketahui sebanyak 9 suku dengan jumlah jenisnya, yaitu : Calamus (370 spp/jenis), Daemonorops (115 spp/jenis), Khorthalsia (31 spp/jenis), Plectocomia (14 spp/jenis), Ceratolobus (6 spp/jenis), Plectocomiopsis (5 spp/jenis), Myrialepis (2 spp/jenis), Calospatha (2 spp/jenis), dan Bejaudia (1 spp/jenis).
Di Indonesia sampai saat ini ditemukan sebanyak 8 jenis, yaitu Calamus, Daemonorops, Khorthalsia, Plectocomia, Ceratolobus, Plectocomiopsis, Myrialepis, dan Calospatha. Dari 8 suku tersebut total jenisnya di Indonesia mencapai tidak kurang dari 306 jenis penyebarannya di pulau Kalimantan sebanyak 137 jenis, Sumatera sejumlah 91 jenis, Sulawesi menyebar sebanyak 36 jenis, Jawa sejumlah 19 jenis, Irian 48 jenis, Maluku 11 jenis, Timor 1 jenis dan Sumbawa 1 jenis.
Sampai saat ini jumlah yang benar-benar diketahui memiliki sifat dan memenuhi syarat serta kualitas yang dipersyaratkan untuk berbagai penggunaan berjumlah 50 jenis dari jumlah tersebut yang benar-benar memiliki nilai komersial tinggi dan banyak dipungut dan diperdagangkan berkisar 27 jenis saja

40 Jenis rotan terpenting di Indonesia tersebut adalah :

  1. Rotan Jernang besar ( Daemonorops draco Blume)
  2. Rotan Dahanan ( Korthalsia flagellaris Miq)
  3. Rotan Semambu ( Calamus scipionum Loue)
  4. Rotan Jermasin ( Calamus leocojolis )
  5. Rotan Buyung ( Calamus optimus Becc)
  6. Rotan Mantang ( Calamus ornatus Blume)
  7. Rotan Dandan ( Calamus Schistolantus Blume)
  8. Rotan Inun ( Calamus scabridulus Becc)
  9. Rotan Tohiti, ( Calamus inops Becc)
  10. Rotan Manau ( Calamus manan Miq)
  11. Rotan Irit ( Calamus trachycoleus )
  12. Rotan Taman ( Calamus caesius Blume)
  13. Rotan Lilin ( Calamus javensis Blume)
  14. Rotan Korod ( Calamus heteroides)
  15. Rotan Balukbuk ( Calamus burkianus )
  16. Rotan Pelah ( Daemonorop rubra)
  17. Rotan Kirtung (Myrialepsis scortechinii)
  18. Rotan Pulut Merah ( Calamus Sp.)
  19. Rotan Getah ( Daemonorops angustifolia)
  20. Rotan Umbul ( Calamus simphysipus)
  21. Rotan Sega Ayer ( Calamus axillaris)
  22. Rotan Saloso ( Calamus sp.)
  23. Rotan Manau Riang ( Calamus oxleyanus)
  24. Rotan Loluo ( Calamus Sp)
  25. Rotan Batang ( Daemonorops robustus)
  26. Rotan Seel ( Daemonorops melanochaetes)
  27. Rotan Udang Semut (Korthalsia scaphigera Mart)
  28. Rotan Dahan (Korthalsia rigida Blume)
  29. Rotan Meiya (Korthalsia echinometra Becc.)
  30. (Plepcotniopsis geminiflorus Becc.)
  31. Rotan LowaRotan Sabut (Daemonorops hystrix (Griff) Mart,)
  32. Rotan Pakak ,(Daemonorops periacantha Miq.)
  33. Rotan Uwi Koroh (Daemonorops geniculata (Griff.) Mart.)
  34. Rotan Duduk (Daemonorops longipes (Griff.) Mart)
  35. Rotan Ulur (Calamus ulur Becc.)
  36. Rotan Manau Tikus (Calamus tumindus Furtado)
  37. Rotan Manau Padi (Calamus marginantus Mart.)
  38. Rotan Tunggal (Calamus laevigatus Mart.)
  39. Rotan Dago Kancil (Calamus conirostris Becc.)
  40. Rotan Lita (Daemonorops lemprolepis Becc).

Pohon Siwalan

Posted: December 31, 2010 in Flora

Pohon Siwalan atau disebut juga Pohon Lontar (Borassus flabellifer) adalah sejenis palma (pinang-pinangan) yang tumbuh di Asia Tenggara dan Asia Selatan. Pohon Lontar (Borassus flabellifer) menjadi flora identitas provinsi Sulawesi Selatan. Pohon ini banyak dimanfaatkan daunnya, batangnya, buah hingga bunganya yang dapat disadap untuk diminum langsung sebagai legen (nira), difermentasi menjadi tuak ataupun diolah menjadi gula siwalan (sejenis gula merah).

Pohon Siwalan (Lontar) merupakan pohon palma (Palmae dan Arecaceae) yang kokoh dan kuat. Berbatang tunggal dengan ketinggian mencapai 15-30 cm dan diameter batang sekitar 60 cm. Daunnya besar-besar mengumpul dibagian ujung batang membentuk tajuk yang membulat. Setiap helai daunnya serupa kipas dengan diameter mencapai 150 cm. Tangkai daun mencapai panjang 100 cm.

Buah Lontar (Siwalan) bergerombol dalam tandan dengan jumlah sekitar 20-an butir. Buahnya bulat dengan diameter antara 7-20 cm dengan kulit berwarna hitam kecoklatan. Tiap butirnya mempunyai 3-7 butir daging buah yang berwarna kecoklatan dan tertutupi tempurung yang tebal dan keras.

Pohon Lontar Borassus flabelliferPohon Siwalan atau Pohon Lontar dibeberapa daerah disebut juga sebagai ental atau siwalan (Sunda, Jawa, dan Bali), lonta (Minangkabau), taal (Madura), dun tal (Saksak), jun tal (Sumbawa), tala (Sulawesi Selatan), lontara (Toraja), lontoir (Ambon), manggitu (Sumba) dan tua (Timor). Dalam bahasa inggris disebut sebagai Lontar Palm

Pohon Siwalan atau Lontar (Borassus flabellifer) tumbuh di daerah kering. Pohon ini dapat dijumpai di Asia Tenggara dan Asia Selatan. Di Indonesia, Pohon Siwalan tumbuh di Jawa Timur dan Jawa Tengah bagian timur, Madura, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi.

Pohon Siwalan atau Lontar mulai berbuah setelah berusia sekitar 20 tahun dan mampu hidup hingga 100 tahun lebih.

 

Pemanfaatan Pohon Siwalan :

Daun Lontar (Borassus flabellifer) digunakan sebagai media penulisan naskah lontar dan bahan kerajinan seperti kipas, tikar, topi, aneka keranjang, tenunan untuk pakaian dan sasando, alat musik tradisional di Timor.

Tangkai dan pelepah pohon Siwalan (Lontar atau Tal) dapat menhasilkan sejenis serat yang baik. Pada masa silam, serat dari pelepah Lontar cukup banyak digunakan di Sulawesi Selatan untuk menganyam tali atau membuat songkok, semacam tutup kepala setempat.

Kayu dari batang lontar bagian luar bermutu baik, berat, keras dan berwarna kehitaman. Kayu ini kerap digunakan orang sebagai bahan bangunan atau untuk membuat perkakas dan barang kerajinan.

Dari karangan bunganya (terutama tongkol bunga betina) dapat disadap untuk menghasilkan nira lontar (legen). Nira ini dapat diminum langsung sebagai legen (nira) juga dapat dimasak menjadi gula atau difermentasi menjadi tuak, semacam minuman beralkohol.

Buah SiwalanBuah Siwalan

Buahnya, terutama yang muda, banyak dikonsumsi. Biji Lontar yang lunak ini kerap diperdagangkan di tepi jalan sebagai “buah siwalan” (nungu, bahasa Tamil). Biji siwalan ini dipotong kotak-kotak kecil untuk bahan campuran minuman es dawet siwalan yang biasa didapati dijual didaerah pesisir Jawa Timur, Paciran, Tuban.

Daging buah yang tua, yang kekuningan dan berserat, dapat dimakan segar ataupun dimasak terlebih dahulu. Cairan kekuningan darinya diambil pula untuk dijadikan campuran penganan atau kue-kue; atau untuk dibuat menjadi selai.

Klasifikasi ilmiah: Kerajaan: Plantae; Divisi: Angiospermae; Kelas: Monocotyledoneae; Ordo: Arecales; Famili: Arecaceae (sinonim: Palmae); Genus: Borassus. Spesies: Borassus flabellifer

Sumber: wikipedia; zipcodezoo.com. Ga

By : KPA GARIS

Edelweis Bunga Abadi

Posted: December 31, 2010 in Flora

edelweis_01Edelweis (kadang ditulis eidelweis) atau Edelweis Jawa (Javanese edelweiss) juga dikenal sebagai Bunga Abadi yang mempunyai nama latin Anaphalis javanica, adalah tumbuhan endemik zona alpina/montana di berbagai pegunungan tinggi Indonesia. Tumbuhan ini dapat mencapai ketinggian maksimal 8 m dengan batang mencapai sebesar kaki manusia walaupun umumnya tidak melebihi 1 m. Tumbuhan yang bunganya sering dianggap sebagai perlambang cinta, ketulusan, pengorbanan, dan keabadian ini sekarang dikategorikan sebagai tanaman langka.

Saya teringat dengan Suzie, teman wanita saya yang dengan bangga memamerkan bunga edelweis yang diberikan oleh pacarnya. Katanya, edelwis merupakan perlambang cinta yang penuh ketulusan mengingat tekstur yang halus dan lembut dengan warnanya yang putih (walau ini sebenarnya tergantung kepada habitat di mana ia tumbuh yang menyebabkan warnanya agak kekuning-kuningan, keabu-abuan ataupun kebiru-biruan).

edelweis_2Edelweis juga melambangkan pengorbanan. Karena, kata Suzie, bunga ini hanya tumbuh di puncak-puncak atau lereng-lereng gunung yang tinggi sehingga untuk mendapatkannya membutuhkan perjuangan yang amat berat. Ditambah lagi dengan adanya larangan membawa pulang bunga ini, pemetik harus main petak umpet dengan petugas Jagawana. Dan jika kedapatan memetik bunga ini bisa-bisa seperti teman saya yang terpaksa harus berendam di Ranu Kumbolo malam-malam ketika ketahuan mengambil bunga ini di Gunung Semeru.

Yang paling dasyat menurut Suzie, meskipun dipetik bunga ini tidak akan berubah bentuk dan warnanya, selama disimpan di tempat yang kering dengan suhu ruangan. Karenanya, lanjut Suzie dengan antusias, edelweis adalah bunga keabadian. Bunga yang membuat cinta akan tetap abadi!

Saya hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil berlalu tanpa sepatah katapun. Sikap Suzie tak berbeda dengan para (oknum) pecinta alam dan pendaki gunung yang merasa bangga jika bisa membawa edelweis pulang sebagai bukti bahwa ia telah menaklukkan sebuah gunung. Keserakahan dan mitos ini telah membuat edelweis sebagai bunga langka bahkan terancam kepunahan. Sebuah studi yang dilakukan oleh Hakim Luqman dalam Kasodo, Tourism, and Local People Perspectives for Tengger Highland Conservation, menyimpulkan bahwa tanaman ini telah punah dari Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS).

alun-alun suryakencanaPadahal Edelweis merupakan tumbuhan pelopor bagi tanah vulkanik muda di hutan pegunungan dan mampu mempertahankan kelangsungan hidupnya di atas tanah yang tandus, karena mampu membentuk mikoriza dengan jamur tanah tertentu yang secara efektif memperluas kawasan yang dijangkau oleh akar-akarnya dan meningkatkan efisiensi dalam mencari zat hara. Bunga-bunganya, yang biasanya muncul di antara bulan April dan Agustus, sangat disukai oleh serangga, lebih dari 300 jenis serangga seperti kutu, tirip, kupu-kupu, lalat, tabuhan, dan lebah terlihat mengunjunginya.

Kini Taman Nasional Gunung Gede Pangrango diklaim sebagai tempat perlindungan terakhir bunga abadi ini. Di sini terdapat hamparan bunga edelweis yang tumbuh subur di alun-alun Suryakencana sebuah lapangan seluas 50 hektar di ketinggian 2.750 meter di atas permukaan laut.

So, bagi yang sealiran dengan Suzie, silahkan datang ke sana. Petiklah sepuasnya, bawa pulan semua dan biarkan bunga abadi ini musnah abadi untuk selamanya!

Rafflesia arnoldii dan Bunga Bangkai (Amorphpophallus titanium) merupakan dua jenis tanaman yang berbeda. Meski oleh masyarakat terkadang kedua jenis tanaman ini dianggap sama bahkan saling tertukar. Saya sendiri sempat mendengar seorang guru Sekolah Dasar yang mengatakan di depan murid-muridnya bahwa bunga Bangkai adalah Rafflesia.

Memang Rafflesia dan Bunga Bangkai (Suweg Raksasa) sama-sama memiliki ukuran besar (raksasa) dan mengeluarkan bau yang busuk. Namun antara Raflesia dan Bungan Bangkai (Amorphpophallus titanium) memiliki perbedaan pada klasifikasi biologi, bentuk, warna, cara hidupnya, dan siklus hidupnya.

RAFFLESIA

rafflesia arnoldii

Rafflesia adalah genus tumbuhan bunga parasit. Ia ditemukan di hutan hujan Indonesia oleh seorang pemandu dari Indonesia yang bekerja untuk Dr. Joseph Arnold tahun 1818, dan dinamai berdasarkan nama Thomas Stamford Raffles, pemimpin ekspedisi itu. Ia terdiri atas kira-kira 27 spesies (termasuk empat yang belum sepenuhnya diketahui cirinya seperti yang dikenali oleh Meijer 1997), semua spesiesnya ditemukan di Asia Tenggara, di semenanjung Malaya, Kalimantan, Sumatra, dan Filipina. Tumbuhan ini tidak memiliki batang, daun ataupun akar yang sesungguhnya.

Rafflesia merupakan endoparasit pada tumbuhan merambat dari genus Tetrastigma (famili Vitaceae), menyebarkan haustoriumnya yang mirip akar di dalam jaringan tumbuhan merambat itu. Satu-satunya bagian tumbuhan Rafflesia yang dapat dilihat di luar tumbuhan inangnya adalah bunga bermahkota lima. Pada beberapa spesies, seperti Rafflesia arnoldii, diameter bunganya mungkin lebih dari 100 cm, dan beratnya hingga 10 kg. Bahkan spesies terkecil, Rafflesia manillana, bunganya berdiameter 20 cm. Rafflesia yang banyak dikenal masyarakat adalah jenis rafflesia arnoldii. Jenis ini hanya tumbuh di hutan sumatera bagian selatan, terutama Bengkulu.

Ciri utama yang membedakan rafflesia dengan bunga bangkai secara awam adalah bentuknya yang melebar (bukan tinggi) dan berwarna merah. Ketika mekar, bunga ini bisa mencapai diameter sekitar 1 meter dan tinggi 50 cm. Bunga rafflesia tidak memiliki akar, tangkai, maupun daun. Bunganya memiliki 5 mahkota. Di dasar bunga yang berbentuk gentong terdapat benang sari atau putik, tergantung jenis kelamin bunga. keberadaan putik dan benang sari yang tidak dalam satu rumah membuat presentase pembuahan yang dibantu oleh serangga lalat sangat kecil, karena belum tentu dua bunga berbeda kelamin tumbuh dalam waktu bersamaan di tempat yang berdekatan. Masa pertumbuhan bunga ini memakan waktu sampai 9 bulan, tetapi masa mekarnya hanya 5-7 hari. Setelah itu rafflesia akan layu dan mati.

Sampai saat ini Rafflesia tidak pernah berhasil dikembangbiakkan di luar habitat aslinya dan apabila akar atau pohon inangnya mati, Raflesia akan ikut mati. Oleh karena itu Raflesia membutuhkan habitat hutan primer untuk dapat bertahan hidup.

Sedikit informasi, selama 200-an tahun tumbuh-tumbuhan dari genus Rafflesiaceae sulit diklasifikasikan karena karakteristik tubuh yang tidak umum. Berdasarkan penelitian DNA oleh para ahli botani di Universitas Harvard baru-baru ini, rafflesia dimasukkan ke dalam family Euphorbiaceae, satu keluarga dengan pohon karet dan singkong. Tapi hal ini masih belum terpublikasi dengan baik.

Beberapa jenis Rafflesia (di Indonesia); Rafflesia arnoldii (endemik di Sumatra Barat, Bengkulu, dan Aceh), R. borneensis (Kalimantan), R. cilliata (Kalimantan Timur), R. horsfilldii (Jawa), R.patma (Nusa Kambangan dan Pangandaran), R. rochussenii (Jawa Barat), dan R. contleyi (Sumatra bagian timur).

Klasifikasi ilmiah: Kerajaan: Plantae; Divisi: Magnoliophyta; Kelas: Magnoliopsida; Ordo: Malpighiales; Famili: Rafflesiaceae; Genus: Rafflesia;

BUNGA BANGKAI

Selain rafflesia, bunga raksasa lain yang dikenal masyarakat adalah bunga bangkai/suweg raksasa Titan Arum (Amorphpophallus titanium). Jenis ini hanya endemik tumbuh di kawasan hutan di Sumatera.

Bunga-bangkaiBerbeda dengan rafflesia, bunga bangkai titan arum ini berwarna krem pada bagian luar dan pada bagian yang menjulang. Sedangkan mahkotanya berwarna merah ke-ungu-an. Sekilas bentuknya saat mekar terlihat seperti bunga terompet. Bila rafflesia hanya melebar, bunga bangkai tumbuh menjulang tinggi. Ketinggian bunga bangkai jenis amorphophallus titanium ini bisa mencapai sekitar 4 m dengan diameter sekitar 1,5 m.

Bunga bangkai ini termasuk tumbuhan dari suku talas-talasan (araceae). Merupakan tumbuhan dengan bunga majemuk terbesar di dunia. Berbeda dengan rafflesia yang tidak dapat tumbuh di daerah lain, bunga bangkai dapat di budi daya. bila rafflesia parasit pada tumbuhan rambat, bunga bangkai tumbuh di atas umbi sendiri.

Bunga ini mengalami 2 fase dalam hidupnya yang muncul secara bergantian dan terus menerus, yaitu fase vegetatif dan generatif. Pada fase vegetatif, di atas umbi akan muncul batang tunggal dan daun yang sekilas mirip dengan pohon pepaya. Tinggi pohonnya bisa mencapai 6 m. Setelah beberapa tahun, organ generatifnya akan layu kecuali umbinya. Apabila lingkungan mendukung, dan umbinya memenuhi syarat pohon ini akan digantikan dengan tumbuhnya bunga bangkai. Tumbuhnya bunga majemuk yang menggantikan pohon yang layu merupakan fase generatif tanaman ini.

Bunga baru bisa tumbuh bila umbinya memiliki berat minimal 4 kg. Bila cadangan makanan dalam umbi kurang atau belum mencapai berat 4 kg, maka pohon yang layu akan di gantikan oleh pohon baru.

Selain itu, bunga bangkai merupakan tumbuhan berumah satu dan protogini, dimana bunga betina reseptif terlebih dahulu, lalu diikuti masaknya bunga jantan, sebagai mekanisme untuk mencegah penyerbukan sendiri. Bau busuk yang dikeluarkan oleh bunga ini, seperti pada rafflesia, berfungsi untuk menarik kumbang dan lalat penyerbuk bagi bunganya. Setelah masa mekarnya (sekitar 7 hari) lewat, bunga bangkai akan layu. Dan akan kembali melewati siklusnya, kembali ke fase vegetatif, dimana akan tumbuh pohon baru di atas umbi bekas bunga bangkai.

Apabila selama masa mekarnya terjadi pembuahan, maka akan terbentuk buah-buah berwarna merah dengan biji pada bagian bekas pangkal bunga. Biji-biji ini bisa ditanam menjadi pohon pada fase vegetatif. Biji-biji inilah yang sekarang dibudidayakan.

Klasifikasi ilmiah: Kerajaan: Plantae; Divisi: Magnoliophyta; Kelas: Liliopsida; Ordo: Alismatales; Famili: Araceae; Genus: Amorphophallus; Spesies: A. titanum;
Nama binomial: Amorphophallus titanum (Becc.) Becc. ex Arcang

By : KPA GARIS