KPA-GARIS-baru-13

Image  —  Posted: July 15, 2013 in Contact

LATAR BELAKANG

3 tahun sudah KPA GARIS Palopo berdiri. Banyak suka duka yang telah mengiringi perjalanan Organisasi ini. Banyak orang – orang tangguh dan berkompeten telah dilahirkan dari KPA GARIS Palopo.

Impian anggota KPA GARIS Palopo menjadi lebih besar dan masih terbentang dalam pikiran seluruh anggotanya. Semua masih memiliki keinginan untuk mengibarkan bendera dan mengharumkan nama KPA GARIS Palopo diseluruh penjuru tanah air.

 Pendakian 3 puncak gunung to’langi, balease, dan kabentonu ( TOBAKU )di sulawesi selatan merupakan moment yang tepat untuk menambah kembali dan membangkitkan semangat mendaki gunung yang menjadi ciri khas KPA GARIS Palopo. Dan moment pendakian 3 puncak ini diharapkan bisa menjadi moment untuk berkumpul kembali bersama seluruh keluarga besar KPA GARIS Palopo. Dan juga moment penting untuk mempererat tali persaudaraan antar pecinta alam.

Kegiatan ini merupakan sebagian kecil dari kegiatan-kegiatan yang sudah pernah ada, yaitu WILD EXPEDITION yang sudah sukses hingga sudah beberapa kali di adakan oleh KPA GARIS Palopo.

MANFAAT DAN TUJUAN

1.       Meningkatkan ketaqwaan kepada Tuhan YME.

2.       Mengibarkan bendera KPA GARIS Palopo di 3 puncak to’langi, balease, kabentonu.

3.       Mempererat tali persaudaraan antar anggota baik anggota aktif maupun anggota pasif dan juga sesama pecinta alam.

4.       Mermperkenalkan nama KPA GARIS Palopo ke seluruh nusantara.

5.       Wahana inspirasi yang dilakukan secara bersama-sama di alam bebas.

6.       Mensosialisasikan aktifitas kepecintaalaman sebagai manifestasi kepedulian terhadap alam dan lingkungan.

Sebagai wahana untuk liburan alternatif bagi para pecinta alam.

NAMA KEGIATAN

”EXPEDITION TOBAKU 2012”

TEMA KEGIATAN

“PENDAKIAN BERSAMA UNTUK MEMPERERAT TALI PERSAUDARAAN ANTAR PENCINTA ALAM”

PELAKSANAAN KEGIATAN

Hari                :       Selasa – jum’at

Tanggal         :       10 – 20 januari 2012

Pukul             :       07.00 WITA – Selesai

Lokasi            :       Desa bantimurung , bone-bone

PESERTA KEGIATAN

Peserta kegiatan  ”EXPEDITION TOBAKU 2012” adalah anggota aktif KPA GARIS Palopo dan anggota KPA JELATANG.

  1. HAMKA S.Pd                                                 ( KPA GARIS PALOPO )
  2. BEJO SETIAWAN   S.Com                   ( KPA GARIS PALOPO )
  3. FRANS                                                               ( KPA JELATANG)

KESIMPULAN DAN SARAN

Atas terlaksananya kegiatan EXPEDITION TOBAKU 2012 ini , kami selaku panitia dan peserta mengucapkan terima kasih  kepada semua pihak baik peserta, panitia, pengurus, maupun pihak – pihak yang telah berpartisipasi, mendukung serta bekerjasama dengan baik. Dengan segala kerendahan hati kami menyadari bahwa kegiatan ini tidak dapat berjalan dengan lancar tanpa adanya dukungan moril maupun materil dari semua pihak.

Walaupun sebenarnya sebelum keberangkatan pendakian direncanakan ada sekitar 15 orang  yang menyatakan  akan ikut tapi kenyataannya hanya 3 orang , itu semua tidak mengurangi semangat kami untuk menyukseskan kegiatan EXPEDITION TOBAKU 2012. karena semua pengurus tidak ingin kegiatan ini hanya menjadi slogan pepesan kosong. Akhirnya kegiatan ini berjalan dengan sukses walaupun menguras banyak tenaga namun itu semua terbayarkan dengan senyum yang selalu melekat di bibir para peserta, semua terbayang akan keindahan maha karya sang pencipta selama perjalanan EXPEDITION TOBAKU 2012

Demikian Laporan pertanggung jawaban ini kami buat dan dilaksanakan agar dapat dijadikan   bahan pertimbangan serta bahan evaluasi untuk kegiatan berikutnya.

 Laporan pendakian

NO

TEMPAT

WAKTU

TEMPAT

WAKTU

CAMP

1

RUMAH KEPALA DUSUN  (start)

07.00

AIR TERJUN

08.30

 

 

POS 1

12.00

 

 

14.00

2

CAMP (start)

08.25

POS 2

09.10

 

 

POS ITINK

11.40

POS 3

14.00

17.00

3

CAMP  (start)

08.25

POS 4

09.10

13.15

4

CAMP  (start)

08.20

TO’LANGI

10.15

12.00

5

CAMP  (start)

08.35

LEMBAH WARU

10.14

 

 

BALEASE

12.30

 

 

17.00

6

CAMP  (start)

09.00

———————-

11.00

 

 

—————–

15.00

 

 

16.30

7

CAMP  (start)

08.25

———————-

13.00

15.00

8

CAMP  (start)

08.30

KABENTONU

11.00

15.30

9

CAMP  (start)

08.42

DANAU

09.00

 

 

BALEASE

11.40

LEMBAH WARU

15.00

15.00

10

CAMP  (start)

09.05

TO’LANGI

11.05

 

 

——————-

12.40

POS 4

16.16

16.16

11

CAMP  (start)

08.16

AIR TERJUN

14.45

 

 

RUMAH KEPALA DUSUN

15.15

 

 

 

 

 

·        

Laporan perjalanan

 Keterangan Perjalanan :

  1. Start dari sekretariat KPA GARIS Palopo menuju Rumah bapak Nas yang saat itu menjabat sebagai Kepala Dusun dengan menggunakan mobil carteran.
  2. Sesampai di sana menunggu kedatangan dari tuan rumah (seyogianya sebelum melakukan pendakian kita bermalam di rumah Bapak Nas untuk mendapatkan info terbaru dan juga petuah – petuah dari beliau.
  3. Keesokannya barulah kita melakukan pendakian.
  4. Diawali dengan jalan pengerasan yang melewati perkampungan kemudian memotong lewat persawahan serta menyusuri  anak sungai untuk sampai ke tempat air terjun sebelumnya kita akanmenjumpai kembali jalan pengerasan dan  melewati jalan setapak di samping rumah ( pondok ) yang terletak di perkebunan coklat.
  5. Sebenarnya lewat jalur pengerasan juga bisa tetapi rutenya terlalu lama.
  6. Untuk sampai ke pintu rimba kita akan berbelok ke kiri ke arah utara dengan medan sedikit mendaki.
  7. Dalam perjalanan ke pos 1 kita akan menjumpai sisa-sisa  tebangan pohan akibat ulah para penebang liar.
  8. Dari camp kita menuju pos 2 dan beristarahat minum kemudian lanjut ke pos itink ( nama salah satu anggota organisasi pecinta alam di Palopo ).
  9. Menuju ke pos 3 kita melewati jalur pendakian dan penurunan yang cukup menyulitkan.
  10. di jalur ini sudah banyak tumbuhan rotan yang durinya siap mencabik para pendaki.
  11.  Hari ke 3 merupakan perjalan yang cukup sulit untuk mencapai pos 4 disini suasana sudah mulai dingin karena tempatnya daerah lembab.
  12. Akhirnya sampai juga di pos 5 tempat  camp untuk hari ke 3.
  13. Hari ke 4 di awali dengan keceriaan karena  menurut leader ( Hamka S.Pd ) puncak to’langi sudah dekat sekitar 2 setengah jam.
  14. Sesampai di puncak cuaca kian memburuk badai hujan datang secara tiba – tiba. Leaderpun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan keesokan harinya saja untuk menjaga kemungkinan – kemungkinan yang tidak di inginkan akan terjadi.
  15. Hari ke 5 pagi yang cerah perjalanan pun berlanjut ke lembah waru , kurang lebih luasnya seukuran lapangan futsal.
  16.  Sambil membuat dokumentasi , peserta melanjutkan perjalaan ke puncak balease dengan jalur pendakian dan penurunan terjal meskipun ada juga jalur yang landai.
  17. Sampai di puncak balease kita istirahat untuk mengisi kekosongan perut.
  18. Puncak balease, susana dingin meski sudah tengah hari, kamera pun kembali beraksi untuk dokumentasi.
  19. 1 jam sudah beristirahat, saatnya menuju puncak ke 3 kabentonu. Menurut data yang kami dapat di Rumah Bapak Dusun ( Pak Nas ) di buku tamu puncak kabentonu baru beberapa orang saja yang pernah ke sana, salah satunya team The Tree Musketeer dari KORPLA Unhas tahun 2004.
  20. Melewati punggungan dengan penurunan yang landai di sertai keindahan panorama pegunungan balease ini.
  21. Perjalanan pun berlanjut dengan menyusuri jalan setapak yang samar-samar dengan bantuan sisa – sisa string yang sudah tua, sesekali kompas dan peta pun di buka untuk memastikan bahwa arahnya sesuai dengan puncak kabentonu.
  22. Waktu sudah menunjukkan 16.50 hujan pun turun cukup deras dan haripun mulai gelap kami pun memasang tenda di tempat yang bisa di bilang kurang layak. ( tempat pasang tenda darurat ). Ini memang cukup menyedihkan tapi inilah kehidupan di alam bebas.
  23. Pukul 09.00 kami sudah siap melanjutkan perjananan, di sini kami sempat kebingungan karena string dan jalan setapak pun sudah tidak nampak lagi. Akhirnya peta dan kompas pun menjadi andalan utama.
  24. Menyusuri punggungan, perjalanan pun berlanjut dengan melewati medan jalur yang cukup sulit sampai harus merayap-rayap hanya untuk menembus rapatnya pepohonan yang tumbuh liar di tempat ini.
  25. Pukul 15.00 kami sempat di hantam badai gunung, kami bertahan dengan memasang flysheet, menunggu badai reda.
  26. Badai reda perjalanan berlanjut dengan melewati pendakian dan penurunan sampai waktu menunjukkan pukul 16.30 lalu kemudian memasang tenda untuk camp.
  27. Hari ke 7  mungkin ini adalah hari yang cukup membosankan dalam perjalanan expedisi ini. Karena sudah kelelahan tetapi puncak belum juga di temukan. Setiap sampai di puncak punggungan masih ada puncak di sebelahnya begitu seterusnya sampai waktu menunjukkan pukul 15.00, dan akhirnya kami pun camp.
  28. Hari ke 8 pagi yang cukup cerah, namun tak secerah raut wajah kami karena perjalanan kami ini hanya mengandalkan peta , kompas, dan insting semata, namun itu semua tak mampu memadamkan semangat kami untuk mencapai puncak terakhir expedisi ini.
  29. Masih dengan kontur pegunungan yang masih kebanyakan pendakian dan penurunan namun pepohonan tak serapat perjalanan kemarin.
  30.  Akhirnya semangat para peserta kembali bertambah setelah mendapatkan string tua yang terikat pada ranting pohon. Paling tidak itu semua membuktikan bahwa kita berjalan pada jalur yang benar.
  31. Tepat pukul 10.50 kami sudah berada di puncak kabentonu….., yah puncak kabentonu, puncak terakir expedisi. Akhirnya rasa bahagia pun tak lagi dapat di tutupi lagi, semua tertawa haru…, Kami pun menemukan peninggalan dari team the tree musketeer , sebuah pesan dalam botol yang berisi tulisan nama- nama team dari korspala unhas pada expedisi 2004.
  32. Tanpa beristirahat terlalu lama kami langsung mengarah perjalanan pulang  dan camp pukul 15.30.
  33. Hari ke 9 kami berjalan dengan semangat sekali sampai menembus puncak balease kembali pada pertengahan hari dan berlanjut  untuk memasang tenda buat camp di lembah waru.
  34. Hari ke 10 pertengahan haripun puncak to’ langi 3016 mdpl sudah kami injak dan berlanjut sampai pada pukul 16.16 untuk camp.dan camp kami berada di pos4.
  35. Hari ke 11 kami melanjutkan perjalan dengan sisa sisa tenaga yang ada hingga mencapai air terjun. Sampai di air terjun kami singgah sebentar untuk membersihkan badan dan pakaian yang kotor sebelum tiba di perkampungan.
  36. Pukul 15.15 kami sampai di rumah bapak dusun dengan selamat dan terus berpamitan kepada beliau untuk langsung menuju ke palopo .
  37. Selesai dan sampai jumpa di expedisi Tobaku Part-2

Writer By : Bejo Setiawan S.Com

(Kpa.Garis Palopo)

Peta Peg.Latimojong

Gunung Latimojong sebuah gunung yang hampir dikenal dikalangan pendaki. Puncak latimojong adalah salahsatu puncak yang berada pegunungan latimojong. Titik primernya mencapai elevasi 3305 mdpl. Namun sayang puncak latimojong sangat jarang di daki oleh para pengiat alam, hal ini di sebabkan karna masih kurangnya pemahaman kita tentang puncak rantemario yang selama ini di juluki puncak latimojong padahal kedua gunung itu berbeda.

Puncak Rantemario dan Puncak Latimojong

Pegunungan Latimojong

Gunung latimojong berada pada deretan selatan pegunungan latimojong adapun nama lain dari puncak latimojong adalah tomoupa yang berarti orang beruntung, penduduk kampong di lembah seputaran gunung latimojong menamainya karna hanya orang yang beruntunglah yang dapat menggapai puncaknya. Puncaknya tidak terlalu jauh berbeda dengan puncak-puncak lain yang di atas ketinggian 3000 hanya saja untuk menggapai puncak latimojong tomoupa merupakan kebanggaan tersendiri.

Puncak Sejati Latimojong (Tomoupa)Puncak Latimojong Tomoupa 3305 mdpl

Puncak Gunung Latimojong Tomoupa 3305 mdplPuncak Gunung Latimojong Tomoupa 3305 mdpl

Titik primernya di tandai sebuah batu yang di susun setinggi satu meter dan luas ukurannya sekitar 2 meter. Konon katanyanya batu batu itu di susun oleh paman sawerigading. Masyarakat di desa terdekat yaitu tibussan kab.Luwu menyatakan bahwa kerajaan langit dimana sawerigading berasal lokasinya berada di puncak latimojong tomoupa tetapi itu hanya kepercaan masyarakat sekitar benar atau tidaknya tergantung anda yang menyikapinya.

Gunung Latimojong 3305m

Gunung Latimojong Tomoupa 3478 mdpljalur menuju puncak

Gunung Latimojong 3305m Jalur menuju Puncak

Sebuah cerita kuno dari masyarakat tibussan juga menceritakan bahwa dahulu kala disaat bumi ini di penuhi oleh air (air Bah saman nabi nuh) seluruh bumi di penuhi oleh air hanya puncak latimojonglah yang tidak di genangi oleh air bah. Ada sepasang lelaki dan wanita yang mendaratkan perahunya di puncak latimojong. Karena lokasinya sangat kecil makanya sang wanita melangkah ke gunung sinaji sebuah puncak yang berada di paling utara pegunungan latimojong dan mereka percaya pula bahwa kedua orang itu adalah kakek dan nenek dari sawerigading, dan masih banyak lagi hal-hal yang menarik terdapat di puncak Gunung Latimojong 3305 mdpl yang tak bisa di beberkan di sini.

Sampai saat ini 2013, jalur pendakian ke puncak latimojong tomoupa bulum ada yang paten jika ingin menaikinya mesti melalui semak belukar dan merintis beberapa jalur. Ada beberapa jalur yang dapat di lalui untuk menggapai puncak latimojong yaitu dari desa bungin kab. Enrekang dimana memakan waktu sekitar 2 sd 3 hari dan dari desa tibussan kac.latimojong kab.luwu. bisa juga merintis dari sidrap tetapi memakan waktu yang cukup lama.

Sisi Utara Pegunungan Latimojong

Pasa Bombo Camp

Jika melaluli desa tibussan ada beberapa hal penting yang mesti di perhatikan diantaranya : kita sama sekali di larang untuk menggunakan segala macam yang berwarna kuning dan itu mutlak harus di laksanakan, sumber air hanya berada di hutan sekitar kampong saja jadi di haruskan membawa banyak-banyak persediaan air, ada 3 puncak yang harus di lalui jika ingin menggapai puncak latimojong tomoupa yaitu Gunung PantaraSiruk 2930m, Gunung Aruan 3037m, Gunung Pasabombo 3200m. ada 8 pos daki menuju puncak (jika masih ada).ada sebuah danau kecil berada di lereng sisi selatan puncak latimojong yang di berinama ma’tan, Ada baiknya membawa salah seorang dari kampong yang pernah menggapai puncaknya karna warga biasa tidak mengijinkan pendaki naik apabila tidak ada warga yang menjadi pemandu. Camp terakhir sebaiknya di puncak Gunung Pasabombo yang merupakan tanah yang sedikit lapang dan aman di jadikan lokasi camp.

Gunung Pasa Bom'bo

Gunung Pasa Bombo 3200 mdpl

Itulah sedikit data tentang puncak sejati Gunung Latimojong (Tomoupa). Semoga dengan adanya artikel ini dapat menjadi motivasi kita untuk menjelajahi puncak Latimojong Tomoupa dan jalur Pendakian Sisi Timur Pegunungan Latimojong lebih ramai di lalui di kalangan pengiat alam.amin

Artikel By: Ayyung Garis CP:085299960666

G.Latimojong 3305m

Buntu Karua atau Gunung delapan (8) adalah sebuah gunung yang terletak di pedalaman tanah toraja, tepatnya di lembang (Desa) balla kecamatan bituang, Makale, kabupaten tanah tanah Toraja. Buntu puang memiliki ketinggian sekitar 2653mdpl dan merupakan salah satu puncak yang masih jarang di kunjungi oleh para pengiat alam bebas.

Buntu Karua (Kpa.Garis Palopo)

Banyak dugaan bahwa buntu puang adalah salah satu gunung berapi, meski tak mempunyai kaldera tetapi jika kita mendaki di buntu karua aroma khas bulerang tercium sangat jelas. Air sungai yang mengalir dari hulu buntu karua berwarna agak ke keruh tidak jernih seperti air sungai pada umumnya hal ini disebabkan adanya campuran bulerang pada air tersebut. Menurut salah satu sumber bahwa dahulu kala buntu karua adalah sebuah gunung yang sangat besar tetapi meletus sehingga dari gunung besar tersebut merubah menjadi gunung-gunung kecil yang berjumlah delapan, maka dari itu puncak tertingginya di sebut buntu karua atau Gunung delapan.

Buntu Karua (Kpa.Garis Palopo)

Keunikan dari gunung ini, selain jalur yang lumayan sulit, kelestarian alamnya sangat terjaga hampir 70% hutannya di penuhi oleh lumut, dan juga terdapat tugu trianggulasi setinggi 1m terbuat dari beton yang di bangun oleh belanda. Terdapat 8 pos daki menuju puncak, dan sumber air hanya terdapat di pos 3 dan pos 6 saja. Hal ini lah yang membuat kami ini melakukan expedisi ke buntu karua bersama kpa garis palopo dan kpa TWT tanah toraja.

Perjalanan kami mulai dari kota palopo menuju Kabupaten tanah toraja, kec. Bituang ,lembang (desa) balla. Perjalanan dari palopo memang mulus melalui aspal, tetapi ketika memasuki lembang balla akses di sana sangat hancur, jalannya di susun dari bebatuan yang besar dan sangat menanjak membuat mesin motor kami menjerit, sekitar 4 jam kami tiba di rumah pendeta setempat, mayoritas penduduk di kec.bituang adalah nasrani dan pak pendeta lah yang dijadikan pos lapor jika ingin melakukan pendakian ke buntu karua.

Kami mulai jalan menyusuri pandang ilalang dengan vegetasi pinus dan tanaman jenis pakis berbatang keras. Menuju pos 1 kami menyusuri pengairan irigasi dan tak di sangka2 team kami di guyur hujan yg lumayan deras. Rasa lapar tak terelakkan dan memaksa kami memasak beberapa mie instan di pengairan tersebut.

Sekitar sejam kami berjalan kami tiba di pos 1. Lokasinya sangat sempit, ditandai sebuah pohon pinus yang besar dan beberapa papan pos dari para team-team sebelumnya. Karna derasnya hujan kami melanjutkan perjalanan tanpa dokumentasi sedikit pun. Beberapa meter dari pos 1 menuju pos 2 kami memasuki hutan yang lumayan rapat. Deretan pohon pinus yang kami lalui berganti menjadi beberapa pohon palem berduri dan semak belukar, jalur menuju pos 2 sangat menanjak di persulit lagi jalannya di penuhi dedaunan yang basah akibat hujan dan membuat track yang dilalui menjadi licin. Entah berapa kali kami beristirahat sambil mengatur nafas. Sekitar jam5 sore kami tiba di pos 2, lokasinya juga di tandai sebuah pohon yang sangat besar di penuhi oleh lumut sayang sekali dokumentasi kami di pos dua juga tidak ada karna kala itu hujan masih mengguyur kami.

Dari pos dua kami menurun lembah yang curang tak jauh dari pos2, sekitar 30 menit kami tiba di pos3, dengan segera kami mendirikan tenda di tengah derasnya hujan. Setelah tenda berdiri kami pun segera masuk ke dalam tenda dan berganti pakaian yang basah kuyuk. Malam yang kami lalui sangat menyenangkan di tengah kedinginan, minum kopi sambil bercerita pengalaman-pengalaman pendakian masing2 , pos 3 sangat sering dijadikan camp karna air sangat melimpah.

Keesokan paginya dengan segera setelah sarapan kami peaking dan bersiap berjalan kaki kembali menuju pos 4, ternyata untuk menuju pos 4 kami harus melalui punggungan yang sangat menanjak, sesekali kami terperosot kembali kebawak akibat licinya jalur menuju pos4. Sekitar sejam  berjalan kami tiba di pos 4, lokasinya lumayan luas tapi tak terdapat sumber air di pos ini. Kami pun melanjutkan ke pos berikutnya, jalurnya kali ini sangat landai dan beberapa kali menurun sekitar 30 menit kami tiba di pos5 dan di lanjutkan ke pos 6, hanya sayang sekali jalur menuju pos 6 hutannya tidak beritu rapat karna adanya aktipitas ilegalonging oleh warga setempat. menuju pos 6 juga sangat banyak di tumbuhi pohon kalpataru dan kami pun memungut beberapa biji dari buah kalpataru tersebut. Sekitar 40 menit kami berjalan kami tiba di pos 6 disini sumber air terakhir, lokasinya dapat menampung sampai 3 tenda ukuran sedang sangat cocok di jadikan camp. Dengan segera kami mengisi beberapa botol air untuk persediaan di puncak karna kami berencana ngecamp di puncak.

Setelah istirahat sejenak kami pun melanjutkan perjalanan, menuju pos7, tiba2 hujan turun mengguyur kami, perjalan menyusuri hutan kembali agak sulit ditengah kabut dan jalan yang sudah tidak jelas dikarnakan jalur menuju pos 7 adalah jalur yang paling panjang dan sulit, butuh sekitar 2 jam agar kita bisa tiba di pos berikutnya.jalurnya juga dipenuhi lumut dan sangat sulit menentukan jalur di antara lumut. Maklum lah pendaki yang melakukan expedisi di buntu karua masih dapat di hitung jari.

Setibanya di pos 7 kami istirahat sejenak, lokasinya dapat menampung 2 tenda tapi tak terdapat sumber air. Setelah mengisap sebatang rokok, team melanjutkan ke pos 8 yaitu puncak, kali ini kami di hadapkan jalur yang sagat menanjak, beberapa kali kami terjatuh dari pijakan kami berdiri dikarnakan terkadang kayu yang di selimuti oleh lumut sudah rapuk dan tak dapat di pijak, memanjat akar kayu menuju puncak adalah hal mutlak yang tak dapat di pungkiri. Sekitar sejam berjalan akhirnya kami tiba di puncak pada jam 11.26 dan dengan segera memeluk tembok trianggulasi yang di buat oleh belanda pada saman penjajahan.

Gemuru Guntur mengguncang langit segera kami mendirikan tenda di samping trianggulasi. Dan hujatn turun dengan lebatnya hingga dini hari. Esok paginya dengan segera kami kami berjan  kebawah perkampungan dengan cepat, agar kami tak di landa hujan di siang hari. Di perjalan pulang kami mencium bau bulerang yang sangat menyengat, dan pada pos 3 kami mengambil jalur lain menuju kampung menyusuri sungai yang berwarna  ke abu2an hal ini kemungkinannya air di sunagi itu mengandung bulerang. Di lembah kami kembali di guyur hujan yang sangat deras. Membuat jalur kembali licin dari kejauhan perkampungan sudah terlihat rasa ingin tiba secepatnya sampai mengalahkan rasa lelah dan rasa dingin. Sekitar jam 12 kami tiba di rumah pak pendeta dan total jam yang kami gunakan untuk pulang dari puncak adalah 4jam 30 menit. Tanpa menunggu lagi kami melanjutkan perjalanan di tengah derasnya hujan hingga sampai di kotamadya palopo pada pukul 17.30, memang agak lambat dikarnakan rem motor kami rusak ketika memasuki kota rantepao tanah toraja.

Sekian cerita perjlanan kami, menggapai puncak Gunung delapan (Buntu Karua) pada tanggal 5 mei 2012.

Profil : Kpa Garis palopo

Alamat. Jalan Islamic center. Kel.takalala kec.wara selatan kotamadya palopo Sul-Sel

Telp : 085299960666.

klik juga :

G.Balease : http://latimojong.wordpress.com/2011/01/02/wild-expedition-iv-kpa-garis-palopo/

G.Kambuno: http://latimojong.wordpress.com/2011/01/02/wild-expedition-vi-kpa-garis-palopo/

G.Gandang Dewata: http://latimojong.wordpress.com/2011/01/02/wild-expedition-ix-kpa-garis-palopo/

G.Nenemori: http://latimojong.wordpress.com/2011/01/26/wild-expedition-11-kpa-garis-palopo/

Gunung Sulawesi–Selatan: http://latimojong.wordpress.com/2011/02/21/daftar-gunung-gunung-di-sulawesi-selatan/

http://latimojong.wordpress.com/2011/08/01/3-puncak-tersulit-sulawesi-selatan/


Puncak Trianggulasi Gunung Karua 2653 mdpl

Buntu Karua atau Gunung delapan (8) adalah sebuah gunung yang terletak di pedalaman tanah toraja, tepatnya di lembang (Desa) balla kecamatan bituang, Makale, kabupaten tanah tanah Toraja. Buntu puang memiliki ketinggian sekitar 2653mdpl dan merupakan salah satu puncak yang masih jarang di kunjungi oleh para pengiat alam bebas.

Banyak dugaan bahwa buntu puang adalah salah satu gunung berapi, meski tak mempunyai kaldera tetapi jika kita mendaki di buntu karua aroma khas bulerang tercium sangat jelas. Air sungai yang mengalir dari hulu buntu karua berwarna agak ke keruh tidak jernih seperti air sungai pada umumnya hal ini disebabkan adanya campuran bulerang pada air tersebut. Menurut salah satu sumber bahwa dahulu kala buntu karua adalah sebuah gunung yang sangat besar tetapi meletus sehingga dari gunung besar tersebut merubah menjadi gunung-gunung kecil yang berjumlah delapan, maka dari itu puncak tertingginya di sebut buntu karua atau Gunung delapan.

Keunikan dari gunung ini, selain jalur yang lumayan sulit, kelestarian alamnya sangat terjaga hampir 70% hutannya di penuhi oleh lumut, dan juga terdapat tugu trianggulasi setinggi 1m terbuat dari beton yang di bangun oleh belanda. Terdapat 8 pos daki menuju puncak, dan sumber air hanya terdapat di pos 3 dan pos 6 saja. Hal ini lah yang membuat kami ini melakukan expedisi ke buntu karua bersama kpa garis palopo dan kpa TWT tanah toraja.

Perjalanan kami mulai dari kota palopo menuju Kabupaten tanah toraja, kec. Bituang ,lembang (desa) balla. Perjalanan dari palopo memang mulus melalui aspal, tetapi ketika memasuki lembang balla akses di sana sangat hancur, jalannya di susun dari bebatuan yang besar dan sangat menanjak membuat mesin motor kami menjerit, sekitar 4 jam kami tiba di rumah pendeta setempat, mayoritas penduduk di kec.bituang adalah nasrani dan pak pendeta lah yang dijadikan pos lapor jika ingin melakukan pendakian ke buntu karua, Untuk info lebih lengkap silakan Klik di sini http://latimojong.wordpress.com/2012/06/22/wild-expedition-15-gunung-delapan-buntu-karua/ makasih and salam Lestari, sampai jumpa di cerita berikutnya :)

lihat juha info :

G.Balease : http://latimojong.wordpress.com/2011/01/02/wild-expedition-iv-kpa-garis-palopo/

G.Kambuno: http://latimojong.wordpress.com/2011/01/02/wild-expedition-vi-kpa-garis-palopo/

G.Gandang Dewata: http://latimojong.wordpress.com/2011/01/02/wild-expedition-ix-kpa-garis-palopo/

G.Nenemori: http://latimojong.wordpress.com/2011/01/26/wild-expedition-11-kpa-garis-palopo/

http://latimojong.wordpress.com/2011/02/21/daftar-gunung-gunung-di-sulawesi-selatan/

http://latimojong.wordpress.com/2011/08/01/3-puncak-tersulit-sulawesi-selatan/

gambar kedatuan luwu ware terakhirResensi Buku :

Judul Buku : Ensiklopedi Sejarah Luwu
Penyusun : Idwar Anwar
Penerbit : Komunitas Kampung Sawerigading (KAMPUS)
Cetakan : I, Januari 2005
Tebal : xiii + 656 halamanLuwu; Jejak Sejarah Nusantara yang Terlupakan

Berbicara mengenai Sulawesi Selatan khususnya, maka sulit untuk tidak mengenang kerajaan Luwu dan tokoh-tokohnya. Sebab dari sinilah, lahir propinsi Sulawesi Selatan kelak. Bahkan termasuk beberapa daerah yang kini tidak berada dalam wilayah Sul-Sel (Luwu), di zaman dahulu termasuk wilayah Sulawesi Selatan (Luwu).

Demikianlah kenyataan sejarah yang melansir bahwa cikal bakal Sulawesi Selatan dan perdaban manusia bermula dari mitologi masyarakat tentang La Tongeq Langiq atau yang lebih dikenal dengan nama Batara Guru yang diturunkan ke Dunia Tengah tepatnya di Wotu Kab. Luwu Timur. Benar atau tidak, hal ini telah terintegrasikan dalam konsepsi masyarakat pendukungnya. Termasuk tata cara pemerintahan hadat wotu yang sudah menyerupakan sebuah negara (Kingdom).

Kerajaan Luwu dikenal sebagai kerajaan tertua di Sulawesi Selatan, bahkan di Indonesia Timur. Tokoh Batara Guru sendiri yang dikenal sebagai manusia pertama dalam wilayah kesadaran manusia Bugis diinformasikan melalui Sureq Galigo. Ia dturunkan dari Boting langiq untuk menyemarakkan Ale Kawaq (bumi) yang masih kosong.

Mitologi Galigo di kalangan masyarakat Bugis sampai saat ini masih dianggap sebagai sebuah kebenaran –meski terus menerus mengalami reduksi—bahkan sesuatu yang sakral. Karena kesakralannya ini, ia dijadikan sebagai kitab suci kedua setelah al-Qur’an. Mereka meyakini bahwa di dalamnya ada sebuah kekuatan yang tersimpan.

Begitu fantastis dan agungnya sejarah kebudayaan Luwu di masa lalu, telah memberikan justifikasi kemajuan peradaban masyarakat Luwu yang telah melampaui batas-batas nalar kita. Menjadi soal kemudian adalah, sejauh mana pengetahuan masyarakat Sulawesi Selatan dan Luwu khususnya tentang sejarah mereka sendiri?

Jika merujuk pada sejarah, Luwu dapat dikatakan sebagai sebuah kerajaan tertua, khususnya Sulawesi Selatan. Dan sebagai kerajaan tertua, tentunya Luwu banyak menyimpan berbagai catatan sejarah yang panjang. Sureq Galigo yang merupakan karya sastra terpanjang di dunia adalah salah satu bukti nyata dari perjalanan panjang sejarah Luwu dengan beberapa tokohnya yang telah membangun kerajaan Luwu, bahkan memberi warna pada beberapa kerajaan/ wilayah yang ada di nusantara.

Luwu sebagai sebuah wilayah yang otonom (kerajaan), sejak periode Galigo hingga Lontaraq, telah berperan penting dalam membangun tatanan masyarakat di beberapa wilayah. Berbagai wilayah, utamanya di Sulawesi Selatan bahkan kerap menghubungkan keturunannya atau
keberadaan kerajaannya dengan Luwu.

Dengan demikian, dapatlah dikatakan bahwa Luwu merupakan akar kebudayaan yang telah berintegrasi dalam wilayah kesadaran masyarakat pendukungnya. Disadari atau tidak, keagungan dan kearifan sejarah dan kebuadayaan Luwu telah menjadi kekuatan tersendiri dalam menyerap dan mentransformasikan berbagai anasir kebudayaan dari luar yang kemudian berintegrasi dalam sebuah harmonisasi kebudayaan.

Meski demikian, kekuatan tersebut dewasa ini telah mengalami reduksi struktural. Bahkan secara horisontal, sejarah terlebih kebudayaan Luwu terus mengalami alienasi dari masyarakatnya sendiri. Kondisi ini semakin diperparah oleh adanya kecenderungan terjadinya proses politisasi sejarah dan kebudayaan. Hal ini tentunya juga akan menjadikan sejarah dan kebudayaan Luwu mengalami keterasingan dari pusat kesadaran masyarakat Luwu sendiri.

Berpijak pada kondisi di ataslah, maka Komunitas Kampung Sawerigading (KAMPUS) merasakan perlunya suatu langkah yang tepat untuk mendokumentasikan kembali serpihan-serpihan sejarah tersebut.

Hal ini selain bertujuan jangka pendek untuk mereuni memori masyarakat Sulawesi Selatan akan sejarahnya sendiri,yang pada gilirannya dapat dijadikan aset nasional dalam mengisi pembangunan dengan kerangka otonomi daerah untuk menjadi acuan konsep pemerintahan, juga berfungsi seebagai investasi intelektual bagi generasi selanjutnya. Karena bercermin pada sejarah, adalah salah satu hal yang mampu memicu proses kreatif.

Selain disebabkan alasan di atas, alasan lain yang tak kalah pentingnya adalah berhamburannya referensi tertulis dan non tertulis serta semakin hilangnya saksi-saksi sejarah. Olehnya, dengan segala kerendahan hati dan kerja keras yang hampir tak kenal lelah, KAMPUS telah berhasil menemukan formulasi yang betul-betul unik dalam upaya revitalisasi sejarah besar perdaban Sulawesi di masa lalu dalam bentuk sebuah ensiklopedi. Sebuah langkah fenomenal tentunya, di tengah sepinya referensi yang akan dapat bertutur lengkap dan padat akan nilai dari sebuah sejarah.

Buku yang hadir di hadapan dewan pembaca ini, disusun dalam bentuk ensiklopedi dengan tujuan memudahkan penelusuran jejak sejarah dengan sajian yang padat dan lugas tidak se-kaku bentuk buku pada umumnya –tentu tanpa mengurangi penghargaan terhadap rumitnya penyusunan buku sejarah pada umumnya. Buku ini telah berusaha memenuhi pengertian dasar tentang ensiklopedi sebagai karya yang menghimpun dan menyajikan berbagai data, baik yang tertulis maupun lisan tentang sejarah Luwu yang disusun secara sistemtis menurut abjad dengan memuat lebih dari 600 entri.

Meskipun demikian, buku ini tidak terlepas dari kelemahan manusia pada umumnya, dimana masih terdapat kalimat-kalimat yang tidak menggunakan tanda baca sebagaimana mestinya, yang terkadang mampu mengaburkan makna yang tersimpan di balik sebuah informasi. Hal ini
mungkin perlu dimaklumi, karena dengan keterbatasan waktu (penyusunan hanya berjalan sekitar 6 bulan), sementara begitu bertumpuk data yang mesti dihimpun dan ditata kembali, menjadi tantangan tersendiri.

Ensiklopedi ini selain memuat sejarah Luwu mulai dari diturunkannya Batara Guru hingga peristiwa kecil seperti pembuatan jalan poros Makassar-Palopo, juga memuat bioadata –baik singkat maupun panjang– tokoh-tokoh Luwu (juga daerah-daerah yang masih menjadi bagian distrik Luwu dahulu) tanpa melihat apakah tokoh tersebut adalah pejuang, pengkhianat, dan selainnya. Sebab menjadi pejuang ataupun pengkhianat, atau papaun namanya, hanyalah persoalan nilai.

Sejarah yang sejati tak akan membuat demarkasi antara dua kenyataan hidup kontras, akan tetapi lebih dari itu, persoalan sejarah adalah persoalan pergulatan niali itu sendiri. Sehingga tak heran, jika satu kurun waktu tertentu misalnya, seorang Kahar Muzakkar menjadi pemberontak, tetapi di waktu yang lain, ia begitu dielu-elukan sebagai pahlawan yang berani menentang tirani yang berkedok nasionalisme. Akhirnya, kita mungkin masih ingat, seorang filsuf dunia, Epicurus pernah menyatakan bahwa Historia Magistra Vitae (Sejarah adalah Guru kehidupan) dan kepada dewan pembaca sekalianlah, buku ini mendapatkan tempat sebagai jejak langkah tertinggal namun tak terlupakan.

Selamat Membaca!

sumber klik disini

Mitos Keangkeran Sebuah Gunung

Posted: February 2, 2012 in Mountain

Masyarakat yang tinggal disekitar gunung masih percaya akan adanya mahkluk halus yang tinggal di hutan-hutan, mata air, batu besar, pohon besar, kawah, dan puncak gunung. Penduduk sekitar gunung Merapi yakin bahwa puncak Merapi adalah istana mahluk halus.

Pasar bubrah adalah pasarnya bangsa mahkluk halus. Watu gubug di Gn.Merbabu adalah pintu gerbang menuju kerajaan Gaib. Di puncak gunung Gede terdapat lapangan luas yang konon pendaki yang berkemah di sana sering mendengar derap kaki kuda atau melihat istana.

Di Ranu Kumbolo didekat gn Semeru para pendaki yang berkemah sering melihat hantu wanita muncul dari tengah danau. Peristiwa-peritiwa gaib sering dialami para pendaki hampir di seluruh gunung-gunung yang terkenal dengan keangkerannya. Para pendaki sering diingatkan oleh masyarakat setempat, petugas, maupun peraturan yang jelas-jelas berisi pantangan-pantangan yang berhubungan dengan makhluk halus penghuni gunung yang bersangkutan.

“Pintu Gerbang Kerajaan Gaib” di puncak Merbabu
Untuk mendaki Gn. Agung di Bali pendaki dilarang membawa makanan yang mengandung daging sapi. Beberapa peraturan mistik di gunung yang umum berlaku misalnya pendaki wajib minta ijin (permisi) ketika melewati tempat-tempat tertentu, mau beristurahat, mau buang air. Dilarang mengenakan pakaian berwarna merah atau hijau, dilarang mendaki bagi wanita yang datang bulan. Larangan mendaki gunung Sundoro pada hari jawa Wage dan Selasa Kliwon. Larangan mendaki gunung Agung pada hari besar agama.
Upacara Labuhan Gunung MerapiTerlepas dari percaya atau tidak percaya, seorang pendaki yang sopan harus tetap mengikuti perturan-peraturan masyarakat setempat.

Tidak ada salahnya kita menghormati kepercayaan masyarakat setempat, juga guna menghindari terjadinya hal-hal yang tidakdiinginkan. Akibat buruk yang terjadi biasanya, pendaki akan linglung kehilangan arah sehingga akan berputar- putar di suatu tempat, bisa jadi akan kesurupan, atau akan berjumpa dengan hal-hal yang aneh, bisa juga mengakibatkan kecelakaan yang fatal.

Di tengah danau Ranu Kumbolo di tengah malam bulan purnama, sering muncul penampakan Dewi Penunggu danau, yang berupa gumpalan kabut tebal yang berputar-putar dan berubah menjadi seorang wanita.
pembagian makhluk halus menurut primbon jawa bisa diliat disini

Di dunia ini sebenarnya memiliki tujuh macam alam kehidupan, termasuk alam yang dihuni oleh manusia. Masing-masing Alam ditempati oleh bermacam- macam mahkluk. Mahkluk-mahkluk dari tujuh alam tersebut, pada prinsipnya mereka mengurusi alamnya masing-masing, aktivitas mereka tidak bercampur, setiap alam mempunyai urusannya masing-masing. Dari tujuh alam itu hanyalah alamnya manusia yang mempunyai matahari dan penduduknya yang terdiri dari manusia, binatang dan lain-lain mempunyai badan jasmani.

Penduduk dari 6 alam yang lain mereka mempunyai badan dari cahaya ( badan Cahya ) atau yang secara populer dikenal sebagai mahkluk halus, mahkluk yang tidak kelihatan. Di 6 alam itu tidak ada hari yang terang berderang karena tidak ada matahari. Keadaannya seperti suasana malam yang cerah dibawah sinar bulan dan bintang-bintang yang terang, maka itu tidak ada sinar yang menyilaukan seperti sinar matahari atau bagaskoro ( Jawa halus )

Ada 2 macam mahkluk halus yakni Mahkluk halus asli yang memang dilahirkan sebagai mahkluk halus, dan Mahkluk halus yang berasal dari manusia yang telah meninggal. Seperti juga manusia ada yang baik dan jahat, ada yang pintar dan bodoh. Mahkluk-mahkluk halus yang asli mereka tinggal di dunianya masing-masing, mereka mempunyai masyarakat maka itu ada mahkluk halus yang mempunyai kedudukan tinggi seperti Raja-raja, Ratu-ratu, Menteri-menteri dll, sebaliknya ada yang berpangkat rendah seperti prajurit, pegawai, pekerja dll. beberapa kerajaan makhluk halus terbesar bisa dilihat disini

Gangguan Manusia kepada Mahkluk Halus

Kehadiran manusia di tempat-tempat yang dihuni mahkluk halus kadangkala menimbulkan gangguan bagi mahkluk halus, oleh sebab itu sebaiknya manusia minta ijin (permisi) terlebih dahulu bila memasuki wilayah mereka. Bau-bauan sering mengganggu mereka, untuk itu seorang pendaki jangan sembarangan buang air. Bau rokok dan minuman keras dapat membangunkan mahkluk halus yang sedang tidur. Suara gaduh juga bisa membuat marah mahkluk halus.

Pendaki yang iseng memindahkan atau merusak tanaman atau benda-benda, bisa jadi secara tidak sadar ikut merusak tempat tinggal mahkluk halus. Memindahkan batu besar yang diyakini sebagai tempat tinggal mahkluk halus, kadang kala tidak pernah berhasil, begitu juga dengan upaya menebang pohon besar seringkali gagal, harus dengan disertai upacara membayar ganti rugi, berupa sesaji khusus.

Penebangan dan pengrusakan hutan dan pembangunan sarana-sarana kebutuhan manusia secara tidak langsung telah merusak tempat-tempat tinggal mahkluk halus. Sehingga hanya masyarakat mahkluk halus yang tinggal di gunung-gunung dan hutan-hutan, samudera-lah yang masih bisa lestari. Mahkluk halus sebagai penghuni dan penjaga alam bagaimanapun juga harus dihargai sebagai layaknya mahkluk yang lain. Kemarahan mahkluk halus bisa menimbulkan bencana wabah penyakit, tanah longsor, banjir, bahkan gunung meletus.

Bagi pendaki yang pernah melakukan pendakian seorang diri pasti akan merasakan berbagai suasana nuansa gaib. Percaya atau tidak dengan alam mahkluk halus, setiap pendaki tetap harus memahami tempat- tempat yang dianggap sakral dan angker oleh masyarakat setempat. Setidak-tidaknya bisa membawa oleh-oleh bahan cerita yang seru tentang gunung yang didaki.

Seorang Pecinta Alam Sejati akan menyapa matahari ketika muncul di ufuk timur. Hembusan angin kencang dianggap sebagai kejenakaan seorang sahabat, kucuran hujan deras adalah ajakan alam untuk bermain dan bercanda. Batu besar atau batang pohon bisa menjadi kawan kita berbicara, Burung – burung mengajak kita bernyanyi. Alam memang memiliki roh kehidupan. Pendaki yang ramah dan menghormati Alam, dia akan turun gunung dengan semangat hidup yang baru yang dipenuhi spirit of the mountain.

Misteri Babi Berbulu Domba

Posted: February 2, 2012 in Artikel

Musang berbulu domba merupakan peribahasa atau kiasan, bukan dalam arti binatang yang sebenarnya. Tetapi untuk sebutan Babi berbulu Domba, apakah ini juga peribahasa?

Seperti dilansir livescience.com, Jumat 23 April 2010, memberikan penjelasan tentang misteri binatang babi berbulu domba.

Makhluk aneh apakah ini? Apakah ini makhluk ganjil ciptaan dari Pulau Dr Moreau (film ilmuwan yang senang menyilangkan hewan)? Ataukah tipuan program photoshop? Jadi apa kebenaran dari keberadaan makhluk ini?

Dari tampilan luar, hewan ini diselimuti bulu dengan tipe wol seperti domba. Tetapi saat dilihat lagi lebih dekat, jelas wajah hewan ini adalah babi.

Ini adalah binatang asli, nyata, dan bukan rekaan. Meski bukan temuan baru, hewan ini juga bukan dari hasil hibrida atau persilangan campuran antara babi dan domba.

Warga Amerika Serikat dan warga lain pada umumnya biasa menjumpai babi dengan kulit yang licin dan berwarna merah muda. Babi jenis ini memang ada, hewan ini kerap disebut dari jenis mangalitsa.

Jenis ini berasal dari dataran tinggi di Austria dan Hungaria. Kulit atau tepatnya bulu-bulu wol itu melindungi mereka dari suhu dingin Eropa.

Mangalitsa bukanlah produk dari rekayasa genetik. Dia merupakan binatang dari perkawinan turun-temurun selama ribuan tahun lalu. Perkembangannya pun hanya di peternakan-peternakan biasa.

Mangalitsa sendiri merupakan keturunan gen kuat babi asli Hungaria dari peranakan Bakony dan Szalontai, yang dikawinkan silang dengan Sumadijas dari Serbia.

Keberadaan mereka sudah lebih dari satu abad. Tetapi, gambar-gambar foto hewan ini belum lama dirilis dai kebun binatang di Essex, Inggris.
Mereka memajang hewan ini dalam upaya untuk melestarikan hewan langka. Hal ini dilakukan agar hewan jenis ini tidak dikonsumsi. Karena, binatang ini sudah termasuk kategori langka.  (umi)
• VIVAnews

MISTERI PULAU TERSERAM DI DUNIA

Posted: February 2, 2012 in Misteri Dunia
Kisah pulau ini sungguh misterius. Orang sekitar mengatakan pulau ini angker dan berhantu. Tidak ada yang tahu jelas bagaimana sejarah penduduk pulau ini, namun yang pasti pulau ini dipenuhi boneka-boneka yang dimutilasi. Wujudnya pun jadi menyeramkan. Pernah nonton film boneka setan “Chaky Dolls”, nah kira-kira seperti itulah mengesankan suasana horror.
Pulau angker ini terletak di sebuah kanal di selatan Mexico City. Orang Spanyol menyebutnya, “La Isla de la Munecas”. Cerita-cerita yang berkembang tentang pulau ini berbau mistik dan takhayul. Anehnya itu justru menarik orang datang ke sana.
Unik dan menyeramkan! Itulah kesan setiap pengunjung yang datang ke sana. Hampir semua pohon yang tumbuh di sana digantungi boneka-boneka yang tidak utuh lagi. Sejumlah wisatawan melaporkan, mereka merasa tidak nyaman ketika berkunjung ke sana. Seolah-olah ada mata yang selalu mengawasi ke mana pun mereka bergerak. Bulu kuduk bolak-balik merinding.
Konon, dulunya pulau itu merupakan kediaman seorang pertapa bernama Don Julian Santana. Meski ia telah menikah, namun entah kenapa dia memilih menghabiskan 50 tahun hidupnya menyendiri di pulau ini. Kabarnya, Don Julian mengaku, ia selalu dihantui oleh hantu gadis kecil yang tewas tenggelam di salah satu kanal di sekitar pulau.
    boneka ???
Beberapa orang mengatakan, Don Julian inilah yang menaruh boneka-boneka itu, menggantungnya di sekitar rumahnya dengan maksud menenangkan roh bocah cilik yang terus menerus meneror hidupnya.
Ironisnya, Don Julian ditemukan tewas oleh keponakannya pada tahun 2001 di lokasi kanal tempat di mana bocah itu tewas tenggelam. Kini Pulau Boneka itu menjadi kawasan wisata paling aneh di dunia.

Sejumlah turis mengaku mereka mendapat bisikan-bisikan aneh dari boneka-boneka itu ketika menginjakkan kaki di pulau itu. Bisikan seperti desiran angin itu seolah mengatakan, anda harus membawa hadiah bila datang ke sana. Hadiah itu untuk menenangkan jiwa mereka.