Gunung Latimojong sebuah gunung yang hampir dikenal dikalangan pendaki. Puncak latimojong adalah salahsatu puncak yang berada pegunungan latimojong. Titik primernya mencapai elevasi 3305 mdpl. Namun sayang puncak latimojong sangat jarang di daki oleh para pengiat alam, hal ini di sebabkan karna masih kurangnya pemahaman kita tentang puncak rantemario yang selama ini di juluki puncak latimojong padahal kedua gunung itu berbeda.
Gunung latimojong berada pada deretan selatan pegunungan latimojong adapun nama lain dari puncak latimojong adalah tomoupa yang berarti orang beruntung, penduduk kampong di lembah seputaran gunung latimojong menamainya karna hanya orang yang beruntunglah yang dapat menggapai puncaknya. Puncaknya tidak terlalu jauh berbeda dengan puncak-puncak lain yang di atas ketinggian 3000 hanya saja untuk menggapai puncak latimojong tomoupa merupakan kebanggaan tersendiri.
Puncak Latimojong Tomoupa 3305 mdpl
Puncak Gunung Latimojong Tomoupa 3305 mdpl
Titik primernya di tandai sebuah batu yang di susun setinggi satu meter dan luas ukurannya sekitar 2 meter. Konon katanyanya batu batu itu di susun oleh paman sawerigading. Masyarakat di desa terdekat yaitu tibussan kab.Luwu menyatakan bahwa kerajaan langit dimana sawerigading berasal lokasinya berada di puncak latimojong tomoupa tetapi itu hanya kepercaan masyarakat sekitar benar atau tidaknya tergantung anda yang menyikapinya.
Sebuah cerita kuno dari masyarakat tibussan juga menceritakan bahwa dahulu kala disaat bumi ini di penuhi oleh air (air Bah saman nabi nuh) seluruh bumi di penuhi oleh air hanya puncak latimojonglah yang tidak di genangi oleh air bah. Ada sepasang lelaki dan wanita yang mendaratkan perahunya di puncak latimojong. Karena lokasinya sangat kecil makanya sang wanita melangkah ke gunung sinaji sebuah puncak yang berada di paling utara pegunungan latimojong dan mereka percaya pula bahwa kedua orang itu adalah kakek dan nenek dari sawerigading, dan masih banyak lagi hal-hal yang menarik terdapat di puncak Gunung Latimojong 3305 mdpl yang tak bisa di beberkan di sini.
Sampai saat ini 2013, jalur pendakian ke puncak latimojong tomoupa bulum ada yang paten jika ingin menaikinya mesti melalui semak belukar dan merintis beberapa jalur. Ada beberapa jalur yang dapat di lalui untuk menggapai puncak latimojong yaitu dari desa bungin kab. Enrekang dimana memakan waktu sekitar 2 sd 3 hari dan dari desa tibussan kac.latimojong kab.luwu. bisa juga merintis dari sidrap tetapi memakan waktu yang cukup lama.
Jika melaluli desa tibussan ada beberapa hal penting yang mesti di perhatikan diantaranya : kita sama sekali di larang untuk menggunakan segala macam yang berwarna kuning dan itu mutlak harus di laksanakan, sumber air hanya berada di hutan sekitar kampong saja jadi di haruskan membawa banyak-banyak persediaan air, ada 3 puncak yang harus di lalui jika ingin menggapai puncak latimojong tomoupa yaitu Gunung PantaraSiruk 2930m, Gunung Aruan 3037m, Gunung Pasabombo 3200m. ada 8 pos daki menuju puncak (jika masih ada).ada sebuah danau kecil berada di lereng sisi selatan puncak latimojong yang di berinama ma’tan, Ada baiknya membawa salah seorang dari kampong yang pernah menggapai puncaknya karna warga biasa tidak mengijinkan pendaki naik apabila tidak ada warga yang menjadi pemandu. Camp terakhir sebaiknya di puncak Gunung Pasabombo yang merupakan tanah yang sedikit lapang dan aman di jadikan lokasi camp.
Gunung Pasa Bombo 3200 mdpl
Itulah sedikit data tentang puncak sejati Gunung Latimojong (Tomoupa). Semoga dengan adanya artikel ini dapat menjadi motivasi kita untuk menjelajahi puncak Latimojong Tomoupa dan jalur Pendakian Sisi Timur Pegunungan Latimojong lebih ramai di lalui di kalangan pengiat alam.amin
Artikel By: Ayyung Garis CP:085299960666
Buntu Karua atau Gunung delapan (8) adalah sebuah gunung yang terletak di pedalaman tanah toraja, tepatnya di lembang (Desa) balla kecamatan bituang, Makale, kabupaten tanah tanah Toraja. Buntu puang memiliki ketinggian sekitar 2653mdpl dan merupakan salah satu puncak yang masih jarang di kunjungi oleh para pengiat alam bebas.
Buntu Karua (Kpa.Garis Palopo)
Banyak dugaan bahwa buntu puang adalah salah satu gunung berapi, meski tak mempunyai kaldera tetapi jika kita mendaki di buntu karua aroma khas bulerang tercium sangat jelas. Air sungai yang mengalir dari hulu buntu karua berwarna agak ke keruh tidak jernih seperti air sungai pada umumnya hal ini disebabkan adanya campuran bulerang pada air tersebut. Menurut salah satu sumber bahwa dahulu kala buntu karua adalah sebuah gunung yang sangat besar tetapi meletus sehingga dari gunung besar tersebut merubah menjadi gunung-gunung kecil yang berjumlah delapan, maka dari itu puncak tertingginya di sebut buntu karua atau Gunung delapan.
Buntu Karua (Kpa.Garis Palopo)
Keunikan dari gunung ini, selain jalur yang lumayan sulit, kelestarian alamnya sangat terjaga hampir 70% hutannya di penuhi oleh lumut, dan juga terdapat tugu trianggulasi setinggi 1m terbuat dari beton yang di bangun oleh belanda. Terdapat 8 pos daki menuju puncak, dan sumber air hanya terdapat di pos 3 dan pos 6 saja. Hal ini lah yang membuat kami ini melakukan expedisi ke buntu karua bersama kpa garis palopo dan kpa TWT tanah toraja.
Perjalanan kami mulai dari kota palopo menuju Kabupaten tanah toraja, kec. Bituang ,lembang (desa) balla. Perjalanan dari palopo memang mulus melalui aspal, tetapi ketika memasuki lembang balla akses di sana sangat hancur, jalannya di susun dari bebatuan yang besar dan sangat menanjak membuat mesin motor kami menjerit, sekitar 4 jam kami tiba di rumah pendeta setempat, mayoritas penduduk di kec.bituang adalah nasrani dan pak pendeta lah yang dijadikan pos lapor jika ingin melakukan pendakian ke buntu karua.
Kami mulai jalan menyusuri pandang ilalang dengan vegetasi pinus dan tanaman jenis pakis berbatang keras. Menuju pos 1 kami menyusuri pengairan irigasi dan tak di sangka2 team kami di guyur hujan yg lumayan deras. Rasa lapar tak terelakkan dan memaksa kami memasak beberapa mie instan di pengairan tersebut.
Sekitar sejam kami berjalan kami tiba di pos 1. Lokasinya sangat sempit, ditandai sebuah pohon pinus yang besar dan beberapa papan pos dari para team-team sebelumnya. Karna derasnya hujan kami melanjutkan perjalanan tanpa dokumentasi sedikit pun. Beberapa meter dari pos 1 menuju pos 2 kami memasuki hutan yang lumayan rapat. Deretan pohon pinus yang kami lalui berganti menjadi beberapa pohon palem berduri dan semak belukar, jalur menuju pos 2 sangat menanjak di persulit lagi jalannya di penuhi dedaunan yang basah akibat hujan dan membuat track yang dilalui menjadi licin. Entah berapa kali kami beristirahat sambil mengatur nafas. Sekitar jam5 sore kami tiba di pos 2, lokasinya juga di tandai sebuah pohon yang sangat besar di penuhi oleh lumut sayang sekali dokumentasi kami di pos dua juga tidak ada karna kala itu hujan masih mengguyur kami.
Dari pos dua kami menurun lembah yang curang tak jauh dari pos2, sekitar 30 menit kami tiba di pos3, dengan segera kami mendirikan tenda di tengah derasnya hujan. Setelah tenda berdiri kami pun segera masuk ke dalam tenda dan berganti pakaian yang basah kuyuk. Malam yang kami lalui sangat menyenangkan di tengah kedinginan, minum kopi sambil bercerita pengalaman-pengalaman pendakian masing2 , pos 3 sangat sering dijadikan camp karna air sangat melimpah.
Keesokan paginya dengan segera setelah sarapan kami peaking dan bersiap berjalan kaki kembali menuju pos 4, ternyata untuk menuju pos 4 kami harus melalui punggungan yang sangat menanjak, sesekali kami terperosot kembali kebawak akibat licinya jalur menuju pos4. Sekitar sejam berjalan kami tiba di pos 4, lokasinya lumayan luas tapi tak terdapat sumber air di pos ini. Kami pun melanjutkan ke pos berikutnya, jalurnya kali ini sangat landai dan beberapa kali menurun sekitar 30 menit kami tiba di pos5 dan di lanjutkan ke pos 6, hanya sayang sekali jalur menuju pos 6 hutannya tidak beritu rapat karna adanya aktipitas ilegalonging oleh warga setempat. menuju pos 6 juga sangat banyak di tumbuhi pohon kalpataru dan kami pun memungut beberapa biji dari buah kalpataru tersebut. Sekitar 40 menit kami berjalan kami tiba di pos 6 disini sumber air terakhir, lokasinya dapat menampung sampai 3 tenda ukuran sedang sangat cocok di jadikan camp. Dengan segera kami mengisi beberapa botol air untuk persediaan di puncak karna kami berencana ngecamp di puncak.
Setelah istirahat sejenak kami pun melanjutkan perjalanan, menuju pos7, tiba2 hujan turun mengguyur kami, perjalan menyusuri hutan kembali agak sulit ditengah kabut dan jalan yang sudah tidak jelas dikarnakan jalur menuju pos 7 adalah jalur yang paling panjang dan sulit, butuh sekitar 2 jam agar kita bisa tiba di pos berikutnya.jalurnya juga dipenuhi lumut dan sangat sulit menentukan jalur di antara lumut. Maklum lah pendaki yang melakukan expedisi di buntu karua masih dapat di hitung jari.
Setibanya di pos 7 kami istirahat sejenak, lokasinya dapat menampung 2 tenda tapi tak terdapat sumber air. Setelah mengisap sebatang rokok, team melanjutkan ke pos 8 yaitu puncak, kali ini kami di hadapkan jalur yang sagat menanjak, beberapa kali kami terjatuh dari pijakan kami berdiri dikarnakan terkadang kayu yang di selimuti oleh lumut sudah rapuk dan tak dapat di pijak, memanjat akar kayu menuju puncak adalah hal mutlak yang tak dapat di pungkiri. Sekitar sejam berjalan akhirnya kami tiba di puncak pada jam 11.26 dan dengan segera memeluk tembok trianggulasi yang di buat oleh belanda pada saman penjajahan.
Gemuru Guntur mengguncang langit segera kami mendirikan tenda di samping trianggulasi. Dan hujatn turun dengan lebatnya hingga dini hari. Esok paginya dengan segera kami kami berjan kebawah perkampungan dengan cepat, agar kami tak di landa hujan di siang hari. Di perjalan pulang kami mencium bau bulerang yang sangat menyengat, dan pada pos 3 kami mengambil jalur lain menuju kampung menyusuri sungai yang berwarna ke abu2an hal ini kemungkinannya air di sunagi itu mengandung bulerang. Di lembah kami kembali di guyur hujan yang sangat deras. Membuat jalur kembali licin dari kejauhan perkampungan sudah terlihat rasa ingin tiba secepatnya sampai mengalahkan rasa lelah dan rasa dingin. Sekitar jam 12 kami tiba di rumah pak pendeta dan total jam yang kami gunakan untuk pulang dari puncak adalah 4jam 30 menit. Tanpa menunggu lagi kami melanjutkan perjalanan di tengah derasnya hujan hingga sampai di kotamadya palopo pada pukul 17.30, memang agak lambat dikarnakan rem motor kami rusak ketika memasuki kota rantepao tanah toraja.
Sekian cerita perjlanan kami, menggapai puncak Gunung delapan (Buntu Karua) pada tanggal 5 mei 2012.
Profil : Kpa Garis palopo
Alamat. Jalan Islamic center. Kel.takalala kec.wara selatan kotamadya palopo Sul-Sel
Telp : 085299960666.
klik juga :
G.Balease :
http://latimojong.wordpress.com/2011/01/02/wild-expedition-iv-kpa-garis-palopo/
G.Kambuno:
http://latimojong.wordpress.com/2011/01/02/wild-expedition-vi-kpa-garis-palopo/
G.Gandang Dewata:
http://latimojong.wordpress.com/2011/01/02/wild-expedition-ix-kpa-garis-palopo/
G.Nenemori:
http://latimojong.wordpress.com/2011/01/26/wild-expedition-11-kpa-garis-palopo/
Gunung Sulawesi–Selatan:
http://latimojong.wordpress.com/2011/02/21/daftar-gunung-gunung-di-sulawesi-selatan/
http://latimojong.wordpress.com/2011/08/01/3-puncak-tersulit-sulawesi-selatan/

Puncak Trianggulasi Gunung Karua 2653 mdpl
Buntu Karua atau Gunung delapan (8) adalah sebuah gunung yang terletak di pedalaman tanah toraja, tepatnya di lembang (Desa) balla kecamatan bituang, Makale, kabupaten tanah tanah Toraja. Buntu puang memiliki ketinggian sekitar 2653mdpl dan merupakan salah satu puncak yang masih jarang di kunjungi oleh para pengiat alam bebas.
Banyak dugaan bahwa buntu puang adalah salah satu gunung berapi, meski tak mempunyai kaldera tetapi jika kita mendaki di buntu karua aroma khas bulerang tercium sangat jelas. Air sungai yang mengalir dari hulu buntu karua berwarna agak ke keruh tidak jernih seperti air sungai pada umumnya hal ini disebabkan adanya campuran bulerang pada air tersebut. Menurut salah satu sumber bahwa dahulu kala buntu karua adalah sebuah gunung yang sangat besar tetapi meletus sehingga dari gunung besar tersebut merubah menjadi gunung-gunung kecil yang berjumlah delapan, maka dari itu puncak tertingginya di sebut buntu karua atau Gunung delapan.
Keunikan dari gunung ini, selain jalur yang lumayan sulit, kelestarian alamnya sangat terjaga hampir 70% hutannya di penuhi oleh lumut, dan juga terdapat tugu trianggulasi setinggi 1m terbuat dari beton yang di bangun oleh belanda. Terdapat 8 pos daki menuju puncak, dan sumber air hanya terdapat di pos 3 dan pos 6 saja. Hal ini lah yang membuat kami ini melakukan expedisi ke buntu karua bersama kpa garis palopo dan kpa TWT tanah toraja.
Perjalanan kami mulai dari kota palopo menuju Kabupaten tanah toraja, kec. Bituang ,lembang (desa) balla. Perjalanan dari palopo memang mulus melalui aspal, tetapi ketika memasuki lembang balla akses di sana sangat hancur, jalannya di susun dari bebatuan yang besar dan sangat menanjak membuat mesin motor kami menjerit, sekitar 4 jam kami tiba di rumah pendeta setempat, mayoritas penduduk di kec.bituang adalah nasrani dan pak pendeta lah yang dijadikan pos lapor jika ingin melakukan pendakian ke buntu karua, Untuk info lebih lengkap silakan Klik di sini
http://latimojong.wordpress.com/2012/06/22/wild-expedition-15-gunung-delapan-buntu-karua/
makasih and salam Lestari, sampai jumpa di cerita berikutnya
lihat juha info :
G.Balease :
http://latimojong.wordpress.com/2011/01/02/wild-expedition-iv-kpa-garis-palopo/
G.Kambuno:
http://latimojong.wordpress.com/2011/01/02/wild-expedition-vi-kpa-garis-palopo/
G.Gandang Dewata:
http://latimojong.wordpress.com/2011/01/02/wild-expedition-ix-kpa-garis-palopo/
G.Nenemori:
http://latimojong.wordpress.com/2011/01/26/wild-expedition-11-kpa-garis-palopo/
http://latimojong.wordpress.com/2011/02/21/daftar-gunung-gunung-di-sulawesi-selatan/
http://latimojong.wordpress.com/2011/08/01/3-puncak-tersulit-sulawesi-selatan/
Resensi Buku :
Penyusun : Idwar Anwar
Penerbit : Komunitas Kampung Sawerigading (KAMPUS)
Cetakan : I, Januari 2005
Tebal : xiii + 656 halamanLuwu; Jejak Sejarah Nusantara yang Terlupakan
Berbicara mengenai Sulawesi Selatan khususnya, maka sulit untuk tidak mengenang kerajaan Luwu dan tokoh-tokohnya. Sebab dari sinilah, lahir propinsi Sulawesi Selatan kelak. Bahkan termasuk beberapa daerah yang kini tidak berada dalam wilayah Sul-Sel (Luwu), di zaman dahulu termasuk wilayah Sulawesi Selatan (Luwu).
Demikianlah kenyataan sejarah yang melansir bahwa cikal bakal Sulawesi Selatan dan perdaban manusia bermula dari mitologi masyarakat tentang La Tongeq Langiq atau yang lebih dikenal dengan nama Batara Guru yang diturunkan ke Dunia Tengah tepatnya di Wotu Kab. Luwu Timur. Benar atau tidak, hal ini telah terintegrasikan dalam konsepsi masyarakat pendukungnya. Termasuk tata cara pemerintahan hadat wotu yang sudah menyerupakan sebuah negara (Kingdom).
Kerajaan Luwu dikenal sebagai kerajaan tertua di Sulawesi Selatan, bahkan di Indonesia Timur. Tokoh Batara Guru sendiri yang dikenal sebagai manusia pertama dalam wilayah kesadaran manusia Bugis diinformasikan melalui Sureq Galigo. Ia dturunkan dari Boting langiq untuk menyemarakkan Ale Kawaq (bumi) yang masih kosong.
Mitologi Galigo di kalangan masyarakat Bugis sampai saat ini masih dianggap sebagai sebuah kebenaran –meski terus menerus mengalami reduksi—bahkan sesuatu yang sakral. Karena kesakralannya ini, ia dijadikan sebagai kitab suci kedua setelah al-Qur’an. Mereka meyakini bahwa di dalamnya ada sebuah kekuatan yang tersimpan.
Begitu fantastis dan agungnya sejarah kebudayaan Luwu di masa lalu, telah memberikan justifikasi kemajuan peradaban masyarakat Luwu yang telah melampaui batas-batas nalar kita. Menjadi soal kemudian adalah, sejauh mana pengetahuan masyarakat Sulawesi Selatan dan Luwu khususnya tentang sejarah mereka sendiri?
Jika merujuk pada sejarah, Luwu dapat dikatakan sebagai sebuah kerajaan tertua, khususnya Sulawesi Selatan. Dan sebagai kerajaan tertua, tentunya Luwu banyak menyimpan berbagai catatan sejarah yang panjang. Sureq Galigo yang merupakan karya sastra terpanjang di dunia adalah salah satu bukti nyata dari perjalanan panjang sejarah Luwu dengan beberapa tokohnya yang telah membangun kerajaan Luwu, bahkan memberi warna pada beberapa kerajaan/ wilayah yang ada di nusantara.
Luwu sebagai sebuah wilayah yang otonom (kerajaan), sejak periode Galigo hingga Lontaraq, telah berperan penting dalam membangun tatanan masyarakat di beberapa wilayah. Berbagai wilayah, utamanya di Sulawesi Selatan bahkan kerap menghubungkan keturunannya atau
keberadaan kerajaannya dengan Luwu.
Dengan demikian, dapatlah dikatakan bahwa Luwu merupakan akar kebudayaan yang telah berintegrasi dalam wilayah kesadaran masyarakat pendukungnya. Disadari atau tidak, keagungan dan kearifan sejarah dan kebuadayaan Luwu telah menjadi kekuatan tersendiri dalam menyerap dan mentransformasikan berbagai anasir kebudayaan dari luar yang kemudian berintegrasi dalam sebuah harmonisasi kebudayaan.
Meski demikian, kekuatan tersebut dewasa ini telah mengalami reduksi struktural. Bahkan secara horisontal, sejarah terlebih kebudayaan Luwu terus mengalami alienasi dari masyarakatnya sendiri. Kondisi ini semakin diperparah oleh adanya kecenderungan terjadinya proses politisasi sejarah dan kebudayaan. Hal ini tentunya juga akan menjadikan sejarah dan kebudayaan Luwu mengalami keterasingan dari pusat kesadaran masyarakat Luwu sendiri.
Berpijak pada kondisi di ataslah, maka Komunitas Kampung Sawerigading (KAMPUS) merasakan perlunya suatu langkah yang tepat untuk mendokumentasikan kembali serpihan-serpihan sejarah tersebut.
Hal ini selain bertujuan jangka pendek untuk mereuni memori masyarakat Sulawesi Selatan akan sejarahnya sendiri,yang pada gilirannya dapat dijadikan aset nasional dalam mengisi pembangunan dengan kerangka otonomi daerah untuk menjadi acuan konsep pemerintahan, juga berfungsi seebagai investasi intelektual bagi generasi selanjutnya. Karena bercermin pada sejarah, adalah salah satu hal yang mampu memicu proses kreatif.
Selain disebabkan alasan di atas, alasan lain yang tak kalah pentingnya adalah berhamburannya referensi tertulis dan non tertulis serta semakin hilangnya saksi-saksi sejarah. Olehnya, dengan segala kerendahan hati dan kerja keras yang hampir tak kenal lelah, KAMPUS telah berhasil menemukan formulasi yang betul-betul unik dalam upaya revitalisasi sejarah besar perdaban Sulawesi di masa lalu dalam bentuk sebuah ensiklopedi. Sebuah langkah fenomenal tentunya, di tengah sepinya referensi yang akan dapat bertutur lengkap dan padat akan nilai dari sebuah sejarah.
Buku yang hadir di hadapan dewan pembaca ini, disusun dalam bentuk ensiklopedi dengan tujuan memudahkan penelusuran jejak sejarah dengan sajian yang padat dan lugas tidak se-kaku bentuk buku pada umumnya –tentu tanpa mengurangi penghargaan terhadap rumitnya penyusunan buku sejarah pada umumnya. Buku ini telah berusaha memenuhi pengertian dasar tentang ensiklopedi sebagai karya yang menghimpun dan menyajikan berbagai data, baik yang tertulis maupun lisan tentang sejarah Luwu yang disusun secara sistemtis menurut abjad dengan memuat lebih dari 600 entri.
Meskipun demikian, buku ini tidak terlepas dari kelemahan manusia pada umumnya, dimana masih terdapat kalimat-kalimat yang tidak menggunakan tanda baca sebagaimana mestinya, yang terkadang mampu mengaburkan makna yang tersimpan di balik sebuah informasi. Hal ini
mungkin perlu dimaklumi, karena dengan keterbatasan waktu (penyusunan hanya berjalan sekitar 6 bulan), sementara begitu bertumpuk data yang mesti dihimpun dan ditata kembali, menjadi tantangan tersendiri.
Ensiklopedi ini selain memuat sejarah Luwu mulai dari diturunkannya Batara Guru hingga peristiwa kecil seperti pembuatan jalan poros Makassar-Palopo, juga memuat bioadata –baik singkat maupun panjang– tokoh-tokoh Luwu (juga daerah-daerah yang masih menjadi bagian distrik Luwu dahulu) tanpa melihat apakah tokoh tersebut adalah pejuang, pengkhianat, dan selainnya. Sebab menjadi pejuang ataupun pengkhianat, atau papaun namanya, hanyalah persoalan nilai.
Sejarah yang sejati tak akan membuat demarkasi antara dua kenyataan hidup kontras, akan tetapi lebih dari itu, persoalan sejarah adalah persoalan pergulatan niali itu sendiri. Sehingga tak heran, jika satu kurun waktu tertentu misalnya, seorang Kahar Muzakkar menjadi pemberontak, tetapi di waktu yang lain, ia begitu dielu-elukan sebagai pahlawan yang berani menentang tirani yang berkedok nasionalisme. Akhirnya, kita mungkin masih ingat, seorang filsuf dunia, Epicurus pernah menyatakan bahwa Historia Magistra Vitae (Sejarah adalah Guru kehidupan) dan kepada dewan pembaca sekalianlah, buku ini mendapatkan tempat sebagai jejak langkah tertinggal namun tak terlupakan.
Selamat Membaca!
sumber klik disini

Masyarakat yang tinggal disekitar gunung masih percaya akan adanya mahkluk halus yang tinggal di hutan-hutan, mata air, batu besar, pohon besar, kawah, dan puncak gunung. Penduduk sekitar gunung Merapi yakin bahwa puncak Merapi adalah istana mahluk halus.
Pasar bubrah adalah pasarnya bangsa mahkluk halus. Watu gubug di Gn.Merbabu adalah pintu gerbang menuju kerajaan Gaib. Di puncak gunung Gede terdapat lapangan luas yang konon pendaki yang berkemah di sana sering mendengar derap kaki kuda atau melihat istana.
Di Ranu Kumbolo didekat gn Semeru para pendaki yang berkemah sering melihat hantu wanita muncul dari tengah danau. Peristiwa-peritiwa gaib sering dialami para pendaki hampir di seluruh gunung-gunung yang terkenal dengan keangkerannya. Para pendaki sering diingatkan oleh masyarakat setempat, petugas, maupun peraturan yang jelas-jelas berisi pantangan-pantangan yang berhubungan dengan makhluk halus penghuni gunung yang bersangkutan.
“Pintu Gerbang Kerajaan Gaib” di puncak Merbabu
Untuk mendaki Gn. Agung di Bali pendaki dilarang membawa makanan yang mengandung daging sapi. Beberapa peraturan mistik di gunung yang umum berlaku misalnya pendaki wajib minta ijin (permisi) ketika melewati tempat-tempat tertentu, mau beristurahat, mau buang air. Dilarang mengenakan pakaian berwarna merah atau hijau, dilarang mendaki bagi wanita yang datang bulan. Larangan mendaki gunung Sundoro pada hari jawa Wage dan Selasa Kliwon. Larangan mendaki gunung Agung pada hari besar agama.
Upacara Labuhan Gunung MerapiTerlepas dari percaya atau tidak percaya, seorang pendaki yang sopan harus tetap mengikuti perturan-peraturan masyarakat setempat.
Tidak ada salahnya kita menghormati kepercayaan masyarakat setempat, juga guna menghindari terjadinya hal-hal yang tidakdiinginkan. Akibat buruk yang terjadi biasanya, pendaki akan linglung kehilangan arah sehingga akan berputar- putar di suatu tempat, bisa jadi akan kesurupan, atau akan berjumpa dengan hal-hal yang aneh, bisa juga mengakibatkan kecelakaan yang fatal.
Di tengah danau Ranu Kumbolo di tengah malam bulan purnama, sering muncul penampakan Dewi Penunggu danau, yang berupa gumpalan kabut tebal yang berputar-putar dan berubah menjadi seorang wanita.
pembagian makhluk halus menurut primbon jawa bisa diliat disini
Di dunia ini sebenarnya memiliki tujuh macam alam kehidupan, termasuk alam yang dihuni oleh manusia. Masing-masing Alam ditempati oleh bermacam- macam mahkluk. Mahkluk-mahkluk dari tujuh alam tersebut, pada prinsipnya mereka mengurusi alamnya masing-masing, aktivitas mereka tidak bercampur, setiap alam mempunyai urusannya masing-masing. Dari tujuh alam itu hanyalah alamnya manusia yang mempunyai matahari dan penduduknya yang terdiri dari manusia, binatang dan lain-lain mempunyai badan jasmani.
Penduduk dari 6 alam yang lain mereka mempunyai badan dari cahaya ( badan Cahya ) atau yang secara populer dikenal sebagai mahkluk halus, mahkluk yang tidak kelihatan. Di 6 alam itu tidak ada hari yang terang berderang karena tidak ada matahari. Keadaannya seperti suasana malam yang cerah dibawah sinar bulan dan bintang-bintang yang terang, maka itu tidak ada sinar yang menyilaukan seperti sinar matahari atau bagaskoro ( Jawa halus )
Ada 2 macam mahkluk halus yakni Mahkluk halus asli yang memang dilahirkan sebagai mahkluk halus, dan Mahkluk halus yang berasal dari manusia yang telah meninggal. Seperti juga manusia ada yang baik dan jahat, ada yang pintar dan bodoh. Mahkluk-mahkluk halus yang asli mereka tinggal di dunianya masing-masing, mereka mempunyai masyarakat maka itu ada mahkluk halus yang mempunyai kedudukan tinggi seperti Raja-raja, Ratu-ratu, Menteri-menteri dll, sebaliknya ada yang berpangkat rendah seperti prajurit, pegawai, pekerja dll. beberapa kerajaan makhluk halus terbesar bisa dilihat disini
Gangguan Manusia kepada Mahkluk Halus
Kehadiran manusia di tempat-tempat yang dihuni mahkluk halus kadangkala menimbulkan gangguan bagi mahkluk halus, oleh sebab itu sebaiknya manusia minta ijin (permisi) terlebih dahulu bila memasuki wilayah mereka. Bau-bauan sering mengganggu mereka, untuk itu seorang pendaki jangan sembarangan buang air. Bau rokok dan minuman keras dapat membangunkan mahkluk halus yang sedang tidur. Suara gaduh juga bisa membuat marah mahkluk halus.
Pendaki yang iseng memindahkan atau merusak tanaman atau benda-benda, bisa jadi secara tidak sadar ikut merusak tempat tinggal mahkluk halus. Memindahkan batu besar yang diyakini sebagai tempat tinggal mahkluk halus, kadang kala tidak pernah berhasil, begitu juga dengan upaya menebang pohon besar seringkali gagal, harus dengan disertai upacara membayar ganti rugi, berupa sesaji khusus.
Penebangan dan pengrusakan hutan dan pembangunan sarana-sarana kebutuhan manusia secara tidak langsung telah merusak tempat-tempat tinggal mahkluk halus. Sehingga hanya masyarakat mahkluk halus yang tinggal di gunung-gunung dan hutan-hutan, samudera-lah yang masih bisa lestari. Mahkluk halus sebagai penghuni dan penjaga alam bagaimanapun juga harus dihargai sebagai layaknya mahkluk yang lain. Kemarahan mahkluk halus bisa menimbulkan bencana wabah penyakit, tanah longsor, banjir, bahkan gunung meletus.
Bagi pendaki yang pernah melakukan pendakian seorang diri pasti akan merasakan berbagai suasana nuansa gaib. Percaya atau tidak dengan alam mahkluk halus, setiap pendaki tetap harus memahami tempat- tempat yang dianggap sakral dan angker oleh masyarakat setempat. Setidak-tidaknya bisa membawa oleh-oleh bahan cerita yang seru tentang gunung yang didaki.
Seorang Pecinta Alam Sejati akan menyapa matahari ketika muncul di ufuk timur. Hembusan angin kencang dianggap sebagai kejenakaan seorang sahabat, kucuran hujan deras adalah ajakan alam untuk bermain dan bercanda. Batu besar atau batang pohon bisa menjadi kawan kita berbicara, Burung – burung mengajak kita bernyanyi. Alam memang memiliki roh kehidupan. Pendaki yang ramah dan menghormati Alam, dia akan turun gunung dengan semangat hidup yang baru yang dipenuhi spirit of the mountain.
Musang berbulu domba merupakan peribahasa atau kiasan, bukan dalam arti binatang yang sebenarnya. Tetapi untuk sebutan Babi berbulu Domba, apakah ini juga peribahasa?
Seperti dilansir livescience.com, Jumat 23 April 2010, memberikan penjelasan tentang misteri binatang babi berbulu domba.
Makhluk aneh apakah ini? Apakah ini makhluk ganjil ciptaan dari Pulau Dr Moreau (film ilmuwan yang senang menyilangkan hewan)? Ataukah tipuan program photoshop? Jadi apa kebenaran dari keberadaan makhluk ini?
Dari tampilan luar, hewan ini diselimuti bulu dengan tipe wol seperti domba. Tetapi saat dilihat lagi lebih dekat, jelas wajah hewan ini adalah babi.
Ini adalah binatang asli, nyata, dan bukan rekaan. Meski bukan temuan baru, hewan ini juga bukan dari hasil hibrida atau persilangan campuran antara babi dan domba.
Warga Amerika Serikat dan warga lain pada umumnya biasa menjumpai babi dengan kulit yang licin dan berwarna merah muda. Babi jenis ini memang ada, hewan ini kerap disebut dari jenis mangalitsa.
Jenis ini berasal dari dataran tinggi di Austria dan Hungaria. Kulit atau tepatnya bulu-bulu wol itu melindungi mereka dari suhu dingin Eropa.
Mangalitsa bukanlah produk dari rekayasa genetik. Dia merupakan binatang dari perkawinan turun-temurun selama ribuan tahun lalu. Perkembangannya pun hanya di peternakan-peternakan biasa.
Mangalitsa sendiri merupakan keturunan gen kuat babi asli Hungaria dari peranakan Bakony dan Szalontai, yang dikawinkan silang dengan Sumadijas dari Serbia.
Keberadaan mereka sudah lebih dari satu abad. Tetapi, gambar-gambar foto hewan ini belum lama dirilis dai kebun binatang di Essex, Inggris.
Mereka memajang hewan ini dalam upaya untuk melestarikan hewan langka. Hal ini dilakukan agar hewan jenis ini tidak dikonsumsi. Karena, binatang ini sudah termasuk kategori langka. (umi)
• VIVAnews
Sejumlah turis mengaku mereka mendapat bisikan-bisikan aneh dari boneka-boneka itu ketika menginjakkan kaki di pulau itu. Bisikan seperti desiran angin itu seolah mengatakan, anda harus membawa hadiah bila datang ke sana. Hadiah itu untuk menenangkan jiwa mereka.
Artikel ini adalah tafsiran dari KH Fahmi Basya tentang Siapa Pembangun Borobudur?:

“Dan Kami tundukkan angin bagi Sulaiman, yang perjalanan (angin) di waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan perjalanan (Angin) di waktu sore sama dengan sebulan…”
(Q.S. Saba : 12/ 3412)
Dari keterangan ayat tersebut di atas (Q.S. Saba : 12) bahwa Nabi Sulaiman a.s. hidup di negeri yang perjalanan angin di waktu pagi sama dengan perjalanan selama satu bulan begitupun dengan perjalanan angin di waktu sore harinya, inilah yang kita kenal dengan Angin Muson yang terjadi di Indonesia, yaitu angin muson barat dan angin muson timur.
Angin Muson (Monsun)
Angin muson adalah angin yang berhembus secara periodik (minimal 3 bulan) dan antara periode yang satu dengan yang lain polanya akan berlawanan yang berganti arah secara berlawanan setiap setengah tahun. Umumnya pada setengah tahun pertama bertiup angin darat yang kering dan setengah tahun berikutnya bertiup angin laut yang basah. Pada bulan Oktober – April, matahari berada pada belahan langit Selatan, sehingga benua Australia lebih banyak memperoleh pemanasan matahari dari benua Asia. Akibatnya di Australia terdapat pusat tekanan udara rendah (depresi) sedangkan di Asia terdapat pusat-pusat tekanan udara tinggi (kompresi). Keadaan ini menyebabkan arus angin dari benua Asia ke benua Australia. Di Indonesia angin ini merupakan angin musim Timur Laut di belahan bumi Utara dan angin musim Barat di belahan bumi Selatan. Oleh karena angin ini melewati Samudra Pasifik dan Samudra Hindia maka banyak membawa uap air, sehingga pada umumnya di Indonesia terjadi musim penghujan
Angin Muson bisa terjadi apabila suatu Negara berada diantara 2 (dua) kontinen/benua. Indonesia sendiri berada di antara dua benua,yaitu benua Asia dan Australia selain itu juga Indonesia berada di antara 2 (dua) samudera, yaitu samudera Pasifik dan samudera Atlantik.
Nama Sulaiman sendiri merupakan nama khas dari orang Jawa dan merupakan satu-satunya nabi dan Rasul (yang wajib diketahui) yang memiliki nama khas ini, yaitu perpaduan antara kata-kata Su-lai-man, sama halnya dengan nama-nama seperti Sudirman, Sukirman, Sutarman dll.
Selain itu kita sampai saat ini masih terdapat sebuah tempat/kota di Jogjakarta dengan nama Sulaiman yaitu Sleman, di daerah ini terdapat banyak sekali peninggalan dari masa lampau yang penuh misteri, diantaranya bangunan Borobudur, Prambanan, Situs Ratu Boko dll.
Dari beberapa sumber sejarah, Bangunan/candi Borobudur dibangun oleh Dinasti Sailendra, namun itupun hanya sebatas perkiraan, karena tidak ada bukti autentik yang benar-benar bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Daoed Joesoef (mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan) dalam bukunya “BOROBUDUR” pada halaman 43, menjelaskan makna dari kata Sailendra berasal dari kata Saila indra yang artinya Raja Gunung. Ini bisa difahami dalam beberapa kisah/legenda di tanah Jawa khususnya di Trowulan (ibukota Majapahit), bahwa Sailendra ini mampu menaklukkan gunung dan sanggup memutarnya saat melawan seorang raksasa.
Dalam sejarah Islam sendiri, kita mengenal satu-satunya nabi yang memiliki mu’jizat sanggup menaklukkan gunung adalah Nabi Daud a.s. dan dalam kisahpun Nabi Daud a.s. pernah mengalahkan seorang raksasa bernama Jalut. Dialah ayah dari Nabi Sulaiman a.s.
Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Daud karunia dari Kami. “Hai gunung-gunung dan burung-burung, bertasbihlah berulang-ulang bersama Daud” dan kami telah melunakkan besi untuknya.
(Q.S. Saba ; 10/ 3410)
Atau dari beberapa sumber, makna Sailendra inipun berasal dari kataSalin Indra yang artinya bisa menguasai/berganti-ganti alam, yaitu alam manusia , alam ghaib (jin/setan dll) dan alam binatang.
Satu-satunya Nabi yang menguasai alam-alam ini, sehingga mampu berkomunikasi bahkan menguasainya adalah Nabi Sulaiman a.s.
“Dan Sulaiman telah mewarisi Daud dan dia berkata; ‘Hai manusia, kami telah diberi pengertian tentang bahasa burung dan kami diberi segala sesuatu. Sesungguhnya semua itu benar-benar suatu karunia yang nyata”
(Q.S. An Naml : 16/ 2716)

“Dan dikumpulkan bagi Sulaiman tentaranya dari Jin, manusia dan burung lalu mereka itu diatur dengan tertib”
(Q.S. An Naml : 17/2717)

“Dan Kami tundukkan angin bagi Sulaiman, yang perjalanan (angin) di waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan perjalanan (Angin) di waktu sore sama dengan sebulan dan kami alirkan cairan tembaga baginya. Dan sebahagian dari jin ada yang bekerja di bawah kekuasaannya dengan izin Tuhannya………..”
(Q.S. Saba : 12/ 3412)
Catatan Redaksi AYS:
Silahkan Bandingkan dengan informasi tentang Suatu Tempat bernama Ofir, yang Nabi dan Raja Sulaiman AS, mengirimkan ekspedisi Kapal Laut untuk pergi Ke Ofir dan pulanhnya membawa Berton-ton Emas dan Komoditi berharga lainnya untuk Raja (Nabi) Sulaiman AS. Ofir= Nusantara (?). Simak di:
In times, when the Queen of Sheba, monarch of south part of Arabian Peninsula called Arabia Felix, Lucky Arabia, visited King Solomon of Israel, the wisdom of this uncommon monarch brought fully benefits. King Solomon who finished to build great temple in Jerusalem, welcomed prominent visit in his new built biggest and the most beautiful royal palace. In that times flotilla of his ships was on the seas, going for gold and other treasure to distant land Ofir, which was the biggest blast furnaces of antiquity and produced for King Solomon astounding quantity of rare copper. Briefly, King Solomon was monarch in a land, which was, in a good sense, affected by economic miracle. It is good to say, that the lion’s share on this had the Kings´ wisdom.
Three times a year, the King Solomon offered holocaust and peace sacrifices on the altar, which was built to Lord and he burnt thyme in front of Lord. And building of the temple was finished. The King Solomon also constructed ships in Asiongaber, which was located near Eilat near Red Sea in Edom. Hiram sent on the board with King Solomons´people his people, sailors, who knew the sea. They were sailing to Ofir, they brought from there four hundred and twenty talents of gold and gave it to the King Solomon.” (Bible, 1Kr9, 25-28)
As time was flowing Ofir became legend. The fabulous place. In times of the King Solomon at least Phoenician knew where it was situated. The expedition was challenged by King of Israel, so they did not flow to unknown. On the contrary, they flew to known, but very distant place. Where was Ofir situated, is the question for researcher up to now. The most feasible solution is seen to be the east cost of Africa. But it is long almost ten thousand kilometres. It is said that every expedition to Ofir, yes, it was not only one, took three years. It is known, that those long voyages were not possible without any stop for filling up food stocks, for ship repairing, for rest for sailors especially for oarsmen. No wonder, that so voyage, which was thousands kilometres long, prolonged for years. Even sometimes they sowed grain and they waited for harvesting. In every case this journey was successful, because they brought with them around twenty tons of gold. And except gold they brought silver, ivory, rare animals, apes, peacocks. (Source:
http://www.putnici.sk/newsread.php?newsid=1225
)
http://www.ofir.sk/en/history.htm
Atlantis, Benua yang Hilang Akhirnya Ditemukan (Atlantis the Lost Continents Finally Found), demikian judul buku karya Prof Arysio Nunes dos Santos yang dirilis pada bulan Agustus 2005. Dalam buku ini ia menjelaskan Teori tentang Atlantis dengan menggunakan argumen yang sangat luas dan kuat, dari yang bersifat ilmiah ketat, seperti Geologi, Linguistik, dan Antropologi, hingga yang lebih misterius dan gaib (Okultisme, Simbolisme, Mitologi, dll.)
Dos Santos adalah seorang ilmuwan profesional dengan gelar PhD dalam fisika nuklir dan dosen lepas Kimia-Fisik. Penulis ini telah mendedikasikan dirinya dengan sangat intensif untuk mempelajari masalah Atlantis paling tidak selama 30 tahun terakhir hingga kini. Dialah orang pertama yang menghubungkan peristiwa bencana Zaman Es terakhir (11.600 tahun lalu) dengan bencana air bah yang melanda seluruh dunia serta kehancuran Atlantis. Prof Santos berhasil menemukan situs yang sangat memenuhi syarat sebagai lokasi Benua yang Hilang. Ini merupakan temuan situs yang tak tertandingi sebagai situs yang paling logis yang pernah diusulkan, dan yang paling cocok dengan semua fitur yang disebutkan oleh filsuf Yunani Plato, dan juga yang telah disebutkan melalui sumber-sumber yang lain.
Pembaca akan dihadapkan dengan suatu fakta kenyataan berdasar bukti-bukti yang sangat kuat mengenai segala macam hal yang berkaitan dengan keberadaan Atlantis. Dan karena ditulis oleh seorang ilmuwan terkenal yang kompeten, maka cukup untuk mengguncang keyakinan bagi siapa saja, bahkan bagi orang yang paling skeptis sekalipun.
Di mana ditemukannya Atlantis?
Secara tegas dinyatakan oleh Prof Santos melalui bukunya tersebut bahwa, lokasi Atlantis yang hilang sejak kira-kira 11600 tahun yang lalu itu adalah Indonesia.
Selama ini, benua yang diceritakan Plato 2500 tahun yang lalu itu adalah benua yang dihuni oleh bangsa Atlantis yang memiliki peradaban yang sangat tinggi dengan alamnya yang sangat kaya, yang kemudian hilang tenggelam ke dasar laut oleh bencana banjir dan gempa bumi sebagai hukuman dari para Dewa. Kisah Atlantis ini dibahas dari masa ke masa, dan upaya penelusuran pun terus dilakukan guna menemukan sisa-sisa peradaban tinggi yang telah dicapai oleh bangsa Atlantis itu.
Pencarian dilakukan di samudera Atlantik, Laut Tengah, Karibia, sampai ke Kutub Utara. Pencarian ini sama sekali tidak ada hasilnya, sehingga sebagian orang beranggapan bahwa yang diceritakan Plato itu hanyalah khayalan dari negeri dongeng semata.
Profesor Santos yang juga ahli Fisika Nuklir ini menyatakan bahwa Atlantis tidak pernah ditemukan karena dicari di tempat yang salah.
Lokasi yang benar secara meyakinkan berdasarkan bukti-bukti yang dikumpulkan Santos, adalah Indonesia. Profesor Santos mengatakan bahwa dia sudah meneliti kemungkinan lokasi Atlantis selama hampir 30 tahun terakhir.
Ilmu yang digunakan Santos dalam menelusur lokasi Atlantis ini adalah ilmu Geologi, Astronomi, Paleontologi, Archeologi, Linguistik, Ethnologi, dan Komparative Mitologi. Bagi yang ingin mengetahui kualifikasi Santos secara lengkap dapat dilihat di alamat ini: http://atlan.org/author/resume.htm
Buku Santos ini yang diantaranya dipasarkan lewat ‘Amazon.com’ ternyata laris manis. Bahkan konon bukunya ini terlink ke lebih dari 400 buah situs di internet, dan website-nya sendiri menurut Santos hingga kini telah dikunjungi paling kurang sebanyak dua setengah juta pengunjung.
Bila pemerintah RI cukup tanggap dan peka, sebenarnya ini merupakan iklan gratis alias promosi untuk mengenalkan Indonesia secara efektif ke seantero jagat dengan tidak memerlukan dana kampanye serupiah pun.
Sebagaimana dapat diikuti dari website-nya, Plato menulis tentang Atlantis pada masa dimana Yunani masih menjadi pusat kebudayaan Dunia Barat (Western World). Sampai saat ini belum dapat diketahui secara pasti, apakah sang ahli filsafat ini hanya menceritakan sebuah mitos, moral fabel, science fiction, ataukah sebuah kisah sejarah yang sebenarnya. Ataukah pula dia menjelaskan sebuah fakta secara jujur bahwa Atlantis adalah sebuah realitas absolut?
Plato bercerita bahwa Atlantis adalah sebuah negara makmur dengan emas, batuan mulia, dan merupakan ‘mother of all civilazation’ dengan kerajaan berukuran benua yang menguasai pelayaran, perdagangan, ilmu metalurgi, memiliki jaringan irigasi dan transportasi yang baik, serta kehidupan berkesenian, tarian, teater, musik, dan olahraga yang sangat semarak.
Warga Atlantis yang semula merupakan orang-orang terhormat dan kaya, kemudian berubah menjadi ambisius, egois dan hedonis. Para Dewa kemudian menghukum mereka dengan mendatangkan banjir, letusan gunung berapi, dan gempa bumi yang demikian dahsyatnya sehingga menenggelamkan seluruh benua itu hingga ke dasar lautan.
Kisah-kisah sejenis atau mirip kisah Atlantis ini yang berakhir dengan bencana banjir dan gempa bumi, ternyata juga ditemui dalam kisah-kisah sakral tradisional di berbagai bagian dunia, yang umumnya diceritakan dalam bahasa lokal (setempat).
Menurut Santos, ukuran waktu yang diberikan Plato 11600 tahun BP (Before Present), secara tepat bersamaan dengan berakhirnya Zaman Es atau Zaman Pleistocene, yang juga menimbulkan bencana banjir dan gempa yang sangat hebat. Bencana ini menyebabkan punahnya 70% dari spesies mamalia yang hidup saat itu, termasuk kemungkinan juga dua spesies manusia, Neandertal dan Cro-Magnon.
Sebelum terjadinya bencana banjir menyeluruh itu, pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan dan Nusa Tenggara masih menyatu dengan semenanjung Malaysia dan benua Asia.
Posisi Indonesia terletak pada 3 lempeng tektonis yang saling menekan, yang menimbulkan sederetan gunung berapi mulai dari Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, dan terus ke Utara sampai ke Filipina yang merupakan bagian dari jalur api ‘Ring of Fire’.
Gunung utama yang disebutkan oleh Santos, yang memegang peranan penting dalam bencana ini adalah gunung Krakatau dan ‘sebuah gunung lain’ (kemungkinan gunung Toba). Sedangkan gunung lain yang disebut-sebut dalam kaitannya dengan kisah-kisah mitologi adalah gunung Semeru, gunung Agung, dan gunung Rinjani.
Bencana alam beruntun ini menurut Santos dimulai dengan ledakan dahsyat gunung Krakatau, yang memusnahkan seluruh gunung itu sendiri, dan membentuk sebuah kaldera besar yang sekarang menjadi selat Sunda yang memisahkan antara pulau Sumatera dan Jawa.
Letusan ini menimbulkan tsunami dengan gelombang laut yang sangat tinggi, yang kemudian menutupi dataran-dataran rendah di antara Sumatera dengan Semenanjung Malaysia, di antara Jawa dan Kalimantan, dan antara Sumatera dan Kalimantan.
Abu hasil letusan gunung Krakatau yang berupa ‘fly-ash’ naik tinggi ke udara dan ditiup angin ke seluruh bagian dunia yang pada masa itu sebagian besar masih ditutup es (Zaman Es Pleistocene) . Abu ini kemudian turun dan menutupi lapisan es. Akibat adanya lapisan abu, es kemudian mencair sebagai akibat panas matahari yang diserap oleh lapisan abu tersebut.
Gletser di kutub Utara dan Eropa kemudian meleleh dan mengalir ke seluruh bagian bumi yang rendah, termasuk Indonesia. Banjir akibat tsunami dan lelehan es inilah yang menyebabkan air laut naik sekitar 130 meter di atas dataran rendah Indonesia. Dataran rendah di Indonesia tenggelam di bawah permukaan laut, dan yang tinggal adalah dataran tinggi dan puncak-puncak gunung berapi.
Tekanan air yang besar ini menimbulkan tarikan dan tekanan yang hebat pada lempeng-lempeng benua, yang selanjutnya menimbulkan letusan-letusan gunung berapi secara beruntun, dan disusul dengan gempa bumi yang dahsyat. Akibatnya adalah berakhirnya Zaman Es Pleistocene secara dramatis.
Dalam bukunya, Plato menyebutkan bahwa Atlantis adalah negara makmur yang bermandi matahari sepanjang waktu. Padahal zaman pada waktu itu adalah Zaman Es, dimana temperatur bumi secara menyeluruh adalah kira-kira 15 derajat Celcius lebih dingin dibanding saat ini. Lokasi yang bermandi sinar matahari pada waktu itu hanyalah Indonesia yang memang terletak di garis khatulistiwa.
Plato juga menyebutkan bahwa luas benua Atlantis yang hilang itu “….lebih besar dari Lybia (Afrika Utara) dan Asia Kecil digabung jadi satu…” Luas ini persis sama dengan luas kawasan Indonesia ditambah dengan luas Laut China Selatan.
Menurut Profesor Santos, para ahli yang umumnya berasal dari Barat, berkeyakinan teguh bahwa peradaban manusia berasal dari dunia mereka. Tapi realitas menunjukkan bahwa Atlantis berada di bawah perairan Indonesia dan bukan di tempat lain.
Santos telah menduga hal ini lebih dari 20 tahun yang lalu sewaktu dia mencermati tradisi-tradisi suci dari Yunani, Roma, Mesir, Mesopotamia, Phoenicia, Indian-Amerika, Hindu, Budha, dan Judeo-Christian. Walaupun dikisahkan dalam bahasa mereka masing-masing, ternyata istilah-istilah yang digunakan banyak yang merujuk ke hal atau kejadian yang sama.
Santos menyimpulkan bahwa penduduk Atlantis terdiri dari beberapa suku/etnis, dimana 2 buah suku terbesar adalah Arya dan Dravida. Semua suku bangsa ini sebelumya berasal dari Afrika 3 juta tahun yang lalu, yang kemudian menyebar ke seluruh Eropa, Asia dan ke Timur sampai ke Australia lebih kurang 1 juta tahun yang lalu. Di Indonesia mereka menemukan kondisi alam yang ideal untuk berkembang, yang menumbuhkan pengetahuan tentang pertanian serta peradaban secara menyeluruh. Ini terjadi pada zaman Pleistocene.
Pada Zaman Es itu, Atlantis adalah surga tropis dengan padang-padang yang indah, gunung, batu-batu mulia, berbagai jenis metal, parfum, sungai, danau, saluran irigasi, pertanian yang sangat produktif, istana emas dengan dinding-dinding perak, gajah, dan bermacam hewan liar lainnya.
Ketika bencana yang diceritakan di atas terjadi, dimana air laut naik setinggi kira-kira 130 meter, penduduk Atlantis yang selamat terpaksa keluar dan pindah ke India, Asia Tenggara, China, Polynesia, serta Amerika melalui selat Bering.
Suku Arya yang bermigrasi ke India mula-mula pindah dan menetap di lembah Indus. Karena glatsier Himalaya juga mencair dan menimbulkan banjir di lembah Indus, mereka akhirnya bermigrasi lebih lanjut ke Mesir, Mesopotamia, Palestina, Afrika Utara, dan Asia Utara. Di tempat-tempat baru ini mereka kemudian berupaya mengembangkan kembali budaya Atlantis yang merupakan akar budaya mereka.
Catatan terbaik dari tenggelamnya benua Atlantis ini dicatat di India melalui tradisi-tradisi suci di daerah seperti Lanka, Kumari Kandan, Tripura, dan lain-lain. Mereka adalah pewaris dari budaya yang tenggelam tersebut. Sedang suku Dravida yang berkulit lebih gelap tetap tinggal di Indonesia .
Migrasi besar-besaran ini dapat menjelaskan timbulnya secara tiba-tiba atau seketika teknologi maju seperti pertanian, pengolahan batu mulia, metalurgi, agama, dan diatas semuanya adalah bahasa dan abjad di seluruh dunia selama masa yang disebut Neolithic Revolution. Bahasa-bahasa di seluruh dunia dapat ditelusur berasal dari Sanskerta dan Dravida. Karenanya bahasa-bahasa di dunia sangat maju dipandang dari gramatika dan semantik.
Contohnya adalah abjad. Semua abjad menunjukkan adanya “sidik jari” dari India yang pada masa itu merupakan bagian yang integral dari Indonesia. Dari Indonesialah lahir bibit-bibit peradaban yang kemudian berkembang menjadi budaya lembah Indus, Mesir, Mesopotamia, Hatti, Yunani, Minoan, Crete, Roma, Inka, Maya, Aztek, dan lain-lain.
Budaya-budaya ini mengenal mitos yang sangat mirip. Nama Atlantis diberbagai suku bangsa disebut sebagai Tala, Attala, Patala, Talatala, Thule, Tollan, Aztlan, Tluloc, dan lain-lain.
Itulah ringkasan teori Profesor Santos yang ingin membuktikan bahwa benua Atlantis yang hilang itu sebenarnya berada di Indonesia.
Bukti-bukti yang menguatkan Indonesia sebagai Atlantis, dibandingkan dengan lokasi alternatif lainnya disimpulkan Profesor Santos dalam suatu matriks yang disebutnya sebagai ‘Checklist’ (Silakan lihat di sini: http://atlan.org/articles/checklist/#checklist).
Terlepas dari benar atau tidaknya teori ini, atau dapat dibuktikannya atau tidak kelak keberadaan Atlantis di bawah laut Indonesia, teori Profesor Santos ini hingga sekarang ternyata mampu menarik perhatian orang-orang luar ke Indonesia.
Teori ini juga disusun dengan argumentasi atau hujjah yang cukup jelas dan kuat. Kalau ada yang beranggapan bahwa kualitas bangsa Indonesia sekarang sama sekali “tidak meyakinkan” untuk dapat dikatakan sebagai nenek moyang dari bangsa-bangsa maju yang diturunkannya itu, maka ini adalah suatu proses maju atau mundurnya peradaban yang memakan waktu lebih dari sepuluh ribu tahun.
Contoh kecilnya, adalah perbandingan tentang orang Malaysia dan Indonesia; dimana 30-an tahun yang lalu mereka masih belajar dari kita, tapi sekarang mereka relatif sudah berada beberapa langkah di depan kita.
Allah SWT juga berfirman bahwa nasib manusia ini memang Dia pergilirkan. Yang hidup mulia (berkuasa) pada suatu saat akan menjadi hina (tertindas), dan sebaliknya. “… dan Kami mempergilirkan sejarah yang berlaku di antara manusia ….” (Surat Ali ‘Imran: 140) “Maka setelah datang keputusan Kami, Kami jadikan yang di atas menjadi yang di bawah ….” (Surat Hud: 82). Inilah “Cakra Manggilingan”, atau Roda Kehidupan yang senantiasa berputar.
Profesor Santos masih akan terus melakukan penelitian lapangan lebih lanjut guna lebih banyak lagi mendapatkan bukti atas teorinya. Kemajuan teknologi masa kini seperti satelit yang mampu memetakan dasar lautan, kapal selam mini untuk penelitian (sebagaimana yang digunakan untuk menemukan kapal ‘Titanic’), dan beragam peralatan canggih lainnya diharapkannya akan membantu mencari bukti-bukti pendukung yang kini diduga masih tersembunyi di dasar laut Indonesia.
Apa yang dapat dilakukan oleh pemerintah dan bangsa Indonesia? Bagaimana pula para pakar dan ilmuwan Indonesia dari pelbagai disiplin ilmu menanggapi teori yang sebenarnya “mengangkat” Indonesia ke posisi yang sangat terhormat ini? Yakni Indonesia sebagai asal usul peradaban bangsa-bangsa seluruh dunia?





































































